Follow our news chanel

Peninggalan masa perang dunia di Kepulauan Pasifik

Seorang anggota tim penjinak senjata dan amunisi (Explosive Ordnance Disposal/EOD) kepolisian Kepulauan Solomon. - SMH/ John Rodsted

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh James Massola

Ketika orang-orang Australia membayangkan negara-negara tetangganya di Kepulauan Pasifik, mereka membayangkan pantai yang belum terjamah, hutan hijau, dan makanan laut yang segar. Setidaknya, itulah klisenya.

Namun dalam tahun di mana pandemi global telah menewaskan hampir satu juta orang, kematian dua orang – warga negara Australia Trent Lee, 40, dan warga negara Inggris Luke Atkinson, 57 – dalam ledakan bom di Kepulauan Solomon telah menjadi berita utama dan mengejutkan banyak orang. Lee dan Atkinson bekerja dengan Norwegian People’s Aid, sebuah LSM yang bekerja di 19 negara untuk menjinakkan dan membuang bahan peledak yang tidak meledak selama masa perang.

Bagaimana mungkin persenjataan yang tidak meledak (disebut UXO) dari era Perang Dunia ke-II bisa ditemukan di pinggiran kota Honiara, ibu kota Kepulauan Solomon – 75 tahun setelah perang itu berakhir? Apakah ini halnya yang sudah biasa terjadi? Dan apa yang telah dilakukan tentang peninggalan yang mematikan ini?

Mengapa ada banyak bom di Kepulauan Pasifik?

Masalah-masalah yang disebabkan oleh ranjau darat anti-personel dan anti-tank (AT) peninggalan sisa perang itu relatif umum.

Loading...
;

Secara total, diperkirakan di 59 negara di seluruh dunia memiliki masalah kontaminasi ranjau dan puluhan juta bahan peledak yang mematikan masih tertanam di dalam tanah dan aktif.

Persoalan yang juga meresahkan disebabkan oleh persenjataan yang tidak meledak (UXO) dan amunisi yang dibuang begitu saja – bom, selongsong artileri, granat tangan, ranjau darat, dan lainnya – yang tersebar di sembilan pulau di Pasifik.

Tiga negara dengan isu peninggalan bom perang dunia paling signifikan adalah Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Palau, tetapi ancaman yang sama juga ada di Kepulauan Marshall, Mikronesia, Tuvalu, Nauru, Kiribati, dan Vanuatu.

Tidak ada perkiraan jumlah bom, senjata, dan amunisi yang ditinggalkan Amerika Serikat, sekutunya, termasuk Australia, dan Jepang selama Perang Dunia II di Kepulauan Pasifik yang dapat diandalkan. Pertempuran yang sengit dan menumpahkan darah terjadi antara pasukan Jepang yang menduduki sejumlah daerah di Pasifik, seperti Kepulauan Solomon dan Palau – serta pasukan yang telah menguasai PNG – AS, Australia, dan sekutu lainnya sebelum Jepang akhirnya menyerah pada September 1945.

Berupaya untuk mengusir Jepang, pertempuran terjadi di bukit-bukit di sekitar Honiara, di gua-gua dan bungker-bungker di Peleliu, pulau yang merupakan bagian dari Republik Palau, dan menghancurkan bandara serta aset strategis lainnya.

Itu juga berarti melemparkan ribuan ton bom dan amunisi lainnya di beberapa pulau – sebagian diantaranya tidak pernah meledak dan masih aktif hingga saat ini. Pasukan sekutu juga mendirikan pangkalan pasokan untuk menampung bahan bakar, senjata, amunisi, dan lainnya di pulau-pulau lain seperti Espiritu Santo dan Efate, Vanuatu.

Meski pasukan Amerika yang menang seharusnya membuang semua UXO yang tersisa, membawanya ke tengah laut kemudian membuangnya ke air, praktiknya tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang persenjataan dan amunisi yang tidak digunakan ditinggalkan begitu saja atau dibuang di perairan tepi pantai.

Bukan hanya senjata yang dibuang. Di lepas pantai Espiritu Santo, ada tempat yang dijuluki ‘Million Dollar Point’ yang merupakan tempat peristirahatan terakhir untuk truk, buldoser, jeep, dan forklift milik sekutu yang bernilai jutaan dolar, bahkan bekas peti-peti Coca-Cola juga masih ada, menurut majalah Cabinet.

Seberapa besar permasalahan ini?

John Rodsted, profesor luar biasa di Griffith University dan mantan wartawan foto yang bekerja untuk Safe Ground, sebuah LSM yang mendokumentasikan sisa bahan peledak dan dampaknya terhadap masyarakat di Pasifik, mengungkapkan kesulitan yang mereka alami dalam memperkirakan jumlah UXO yang tersisa, tetapi “jumlahnya mencapai jutaan ton, tapi tidak ada yang tahu pasti seberapa besar.”

“Di Vanuatu ada empat atau lima juta ton yang dibuang di pelabuhannya.

Ahli sejarah militer Australian National University, John Blaxland, menerangkan bahwa jumlah amunisi yang berbahaya itu ‘sangat besar’.

“Seiring berjalannya waktu, akibat korosi, persenjataan ini semakin tidak stabil, tantangan terkait proses penjinakan dan pembuangan yang aman semakin meningkat. Di seluruh Pasifik dan di tempat lain, masyarakat sering tewas ketika mereka memungut peninggalan yang menarik dari Perang Dunia II yang mereka temukan,” katanya.

Marcus Fielding, mantan insinyur dengan Angkatan Darat Australia berkata di Pasifik, saat Perang Dunia ke-2, penggunaan ranjau darat tidak umum”, namun ketika ada dua pasukan yang berperang, ada banyak persenjataan dan amunisi yang ditimbun, kemudian akhir perang dunia diumumkan… yang ditemukan di tempat-tempat seperti Solomon adalah tumpukan amunisi yang ditinggalkan.”

Australia, melalui spesialis-spesialis Angkatan Pertahanannya, telah bekerja dengan negara-negara Pasifik selama beberapa dekade terakhir untuk mengatasi masalah tersebut dengan menjalankan program pelatihan bagi penduduk setempat dan operasi pembersihan.

Ia membagi sumber permasalahan itu menjadi dua, “ada bom yang kondisinya cukup baik sehingga bisa dijinakkan secara fisik. Dan kemudian ada yang harus dijinakkan dengan hati-hati, meletakan bahan peledak di sekelilingnya lalu meledakkannya.”

Operasi terbarunya dilakukan di di Kepulauan Solomon, dimana Australia mendukung Kepolisian Kepulauan Solomon dengan memberikan saran, pelatihan, dan pendanaan.

Amerika Serikat juga menjalankan program yang serupa di seluruh dunia dan menyusun laporan tahunan To Walk The Earth in Safety yang menguraikan upaya-upaya tersebut. Dalam laporan tahun 2019, dilaporkan bahwa Kepulauan Marshall, Palau, dan Kepulauan Solomon menghadapi dampak yang serius dari sisa UXO Perang Dunia II, dan tiga negara itu telah menerima pendanaan beberapa juta dolar selama dekade terakhir.

Apakah dampaknya bagi Pasifik?

Semua UXO memiliki dampak yang besar pada komunitas Pasifik. Desa-desa tidak dapat diperluas atau dibangun karena kecemasan tentang apa yang terkubur di bawahnya; tanah tidak bisa digunakan untuk bertani selama beberapa dekade; ada serangkaian kecelakaan yang tragis, dan penduduk setempat yang mencoba menggunakan amunisi yang dibuang untuk pemboman ikan kehilangan anggota tubuh.

Rodsted, dari Safe Ground, berkata bahwa survei level-one, yang dapat secara akurat mengkaji persoalan ini, sangat diperlukan di seluruh Kepulauan Pasifik sementara senjata dan amunisi peninggalan perang menjadi semakin tidak stabil. ”Di Pasifik ini belum tersentuh dibandingkan dengan, contohnya, Kamboja, di mana survei level-one sudah dilakukan sejak akhir tahun 90-an. Ini tidak pernah terjadi di Pasifik, dan ini adalah aib internasional,” tegasnya. (Sydney Morning Herald/PACNEWS)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top