Follow our news chanel

Previous
Next

Penjual hewan kurban di daerah ini wajib punya aplikasi CLM

Ilustrasi aplikasi smartphone, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Pemerintah Kota Jakarta Selatan mewajibkan penjual maupun pemasok hewan kurban untuk mengisi aplikasi Corona Likelihood Metric atau CLM. Aplikasi itu bisa mendeteksi kemungkinan seseorang terjangkit virus corona penyebab Covid-19.

“Nanti penjual hewan kurban masuk aplikasi CLM ini,” kata Wali Kota Jakarta Selatan, Marullah Matali, saat sosialisasi tata cara pemilihan, pemotongan hewan dan penanganan daging kurban di masa pandemi Covid-19di Youtube, Selasa, (21/7/2020).

Baca juga : Bantul tetap waspada meski jumlah pasien COVID-19 menurun

Kuliah online pada masa pandemi covid-19 

Ini model pelayanan kependudukan Payakumbuh di tengah ancaman Covid-19

Menurut Matali, CLM  itu sebagai pengganti Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang sudah tidak digunakan lagi. Sedangkan agar bisa mengantongi CLM, penjual hewan kurban cukup melakukan pengisian data penilaian diri pada CLM yang terdapat dalam aplikasi Jakarta Kini (Jaki) di telepon seluler (ponsel). Aplikasi itu dinilai cukup memudahkan masyarakat dan dapat diakses secara online. Pemohonnya cukup mengisi sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh sistem di aplikasi tersebut.

Loading...
;

“Ada beberapa pertanyaan diajukan harus diisi, diikuti petunjuknya, setelah diisi akan ketahuan hasilnya, jadi tidak perlu lagi pakai SIKM, tapi gunakan CLM,” kata Matali menjelaskan.

Kebijakan penggunaan apliaksi CLM menjadi wajib bagi masyarakat saat ini ketika ingin masuk ke DKI Jakarta. Hasil akhir dari pengisian aplikasi tersebut menyatakan orang tersebut aman atau tidak untuk masuk ke Jakarta.

“Kalau aman, tidak perlu lagi ada kata-kata rapid test, sekarang adanya swab(PCR),” katanya.

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Kasudin KPKP) Jakarta Selatan Hasudungan A Sidambolak mengatakan, selain pengawasan di tingkat penjual, pihaknya juga mendampingi panitia kurban untuk melaksanakan pemotongan hewan kurban secara syariah dan juga menerapkan protokol kesehatan.

“Pemotongan hewan kurban tidak dilarang termasuk di masa pandemi, tetap ada syarat-syaratnya. Panitia kurban tetap harus melapor ke KPKP untuk diawasi,” kata Hasudungan.

Langah itu agar tidak terjadi penyakit-penyakit yang cukup berbahaya bagi yang mengonsumsi dan memotong hewan kurban. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top