HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Penting, rentan, dan tidak dilindungi: nasib pengamat kapal penangkap ikan Pasifik

Seorang pengamat dari Otoritas Sumber Daya Kelautan Kepulauan Marshall. - RNZI/ Francisco Blaha

| Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Koroi Hawkins

Sudah berbulan-bulan Nickora Kaierua menanti jawaban tentang bagaimana saudara laki-lakinya, Eritrea, bertemu ajalnya di tengah-tengah lautan Pasifik yang sepi. Tugas terakhir Eritrea dimulai dari Pohnpei, di Federasi Mikronesia, di atas kapal penangkap ikan yang berkarat, Win Far 636, ketika kapal itu berlayar menuju Pasifik untuk menangkap tuna.

Eritara Aati Kaierua, dari Kiribati, adalah satu dari ratusan orang – kebanyakan dari negara-negara Pasifik yang kecil seperti Kiribati, Kepulauan Marshall, dan Tuvalu – yang bekerja sebagai pengamat kapal penangkapan ikan. Selama berbulan-bulan, para pengamat hidup di atas kapal-kapal yang mereka awasi, mendokumentasikan ikan yang diangkut, memastikan semua kru kapal mematuhi peraturan.

Namun beberapa minggu setelah kapalnya bertolak, ayah dari empat anak yang berusia 40 tahun itu ditemukan tewas di lantai kabinnya akibat pukulan benda tumpul di kepalanya, buku catatannya terbuka di sampingnya. Polisi Kiribati sedang menyelidiki kematiannya sebagai kasus pembunuhan. Dua anggota kru telah diamankan, tetapi kemudian dibebaskan setelah diinterogasi. Kapal itu masih ditahan di Tarawa selama kepolisian melanjutkan investigasi.

Sejak 2010, sepuluh pengamat kapal penangkapan ikan dilaporkan tewas di Pasifik, setidaknya setengah darinya tewas dalam situasi mencurigakan. Beberapa telah berakhir dengan putusan hakim, dan hanya sedikit yang memberikan jawaban bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Kenapa dia bisa meninggal? Siapa yang membunuhnya dan mengapa?” Nickora, saudara perempuan Eritrea, bertanya-tanya.

Loading...
;

“Dan kemudian ada pertanyaan-pertanyan lain, seperti, dia melindungi lautan kita mengapa dia tidak dilindungi? Jika penangkapan ikan kita menyumbangkan dana jutaan untuk negara kita, lalu mengapa sistem yang ada tidak berhasil melindunginya?”

Nickora Kaierua mengatakan sudah berbulan-bulan berlalu sejak kematian saudara laki-lakinya, dan keluarganya, termasuk istrinya Tekarara dan empat anak mereka Robert, Aati, Tuateira dan Bebe, tidak punya jawaban apa-apa.

Ini adalah peristiwa yang dihadapi oleh puluhan keluarga di seluruh kawasan Pasifik. Seperti Charlie Lasisi, yang tubuhnya ditemukan terbelenggu rantai. Atau James Numbaru, yang tertangkap kamera saat ia jatuh dari kapal. Kematian mereka juga masih belum terselesaikan bertahun-tahun kemudian.

“Situasi yang dihadapi Eritrea adalah dikarenakan kelalaian dan ketaktahuan otoritas perikanan tentang keselamatan kita,” kata seorang pengamat, yang berbicara kepada RNZ Pacific dengan syarat anonimitasnya dilindungi.

Mereka mengatakan kematian itu menunjukkan risiko yang dihadapi pengamat dan minimnya perlindungan setiap kali mereka injak kaki di atas sebuah kapal selama berminggu-minggu, kadang sampai berbulan-bulan di laut, dan bagaimana upaya pemerintah selama bertahun-tahun untuk memperketat peraturan agar dapat melindungi tenaga pengamat yang rentan telah gagal.

Industri penangkapan ikan

Perairan Pasifik adalah tempat penangkapan ikan yang paling menguntungkan di dunia, dimana sekitar 60% pasokan tuna dunia bersarang. Sebagian besar aktivitas penangkapan ikan dilakukan oleh armada asing, yang membayar izin ke negara-negara kepulauan untuk menangkap ikan di zona ekonomi mereka.

Negara-negara Kepulauan Pasifik ini menjalankan program pengamatan yang mempekerjakan tenaga pengamat untuk turun ke lapangan dan mengumpulkan data tentang spesies ikan yang diangkut di atas kapal, dan wajib melaporkan setiap pelanggaran dan tangkapan sampingan yang mereka saksikan.

“Akibat peran mereka itu, mereka sering berada dalam pendirian yang berseberangan dengan kapal,” kata Alfred Cook, pakar industri ikan tuna WWF. “Karena mereka bisa melaporkan sesuatu yang pada akhirnya bisa mengakibatkan kapal tersebut didenda atau menerima sanksi lainnya.”

Badan pengamat utama di wilayah ini adalah Badan Perikanan Forum Kepulauan Pasifik (FFA). Direktur jenderalnya, Manu Tupou Roosen, mengatakan keselamatan pengamat adalah prioritas mereka.

“Contohnya, seorang pengamat harus memiliki alat komunikasi dua arah, beacon penyelamat pribadi yang tahan air. Jika seorang pengamat hilang atau diduga jatuh ke laut, kapal itu harus segera menghentikan kegiatan mereka dan memulai upaya pencarian dan penyelamatan, serta menginformasikan pihak-pihak terkait,” jelas Roosen.

Tetapi langkah-langkah sering kali ini tidak diterapkan, atau meski diberlakukan, itu tidak merata di 17 negara anggota badan tersebut yang kebanyakan merupakan negara kecil dengan sumber daya yang terbatas. Menurut informasi yang didapatkan RNZ Pacific oleh dua orang dalam industri ini, banyak bantuan peralatan tadi tidak sampai ke tangan pengamat.

Nickora Kaierua mengatakan Eritara tidak pernah diberikan alat komunikasi dua arah apa-apa, ia harus menggunakan sistem komunikasi kapal yang ia tumpangi pada hari-hari menjelang kematiannya.

Seorang pengamat lainnya mengatakan mereka sering melihat laporan di media tentang pembiayaan dan peralatan yang disumbangkan, termasuk oleh Selandia Baru, ke negara-negara anggota FFA. Tapi semua itu tidak pernah sampai ke tangannya atau pengamat lainnya yang ia kenal.

Alfred Cook dari WWF membenarkan, beberapa pengamat yang ia wawancarai juga mengatakan mereka tidak merasa bahwa otoritas-otoritas nasional menanggapi masalah mereka dengan serius.

“Bayangkan saja situasi seperti itu, sendirian, dan satu-satunya perlindungan kalian adalah yang disediakan oleh otoritas pengamat nasional, dan kalian mendatangi mereka, bilang kepada mereka, ‘hei, saya khawatir’, dan jawabannya adalah ‘terima kasih atas masukannya’ dan kemudian kalian tidak pernah mendengar apa-apa setelah itu. Apakah kalian akan merasa aman naik kapal?” Cook bertanya.

Tahun ini, dengan penutupan sementara pelabuhan laut dan udara di seluruh dunia akibat pandemi Covid-19, untuk sementara waktu negara-negara Pasifik menarik pengamat mereka dari armada-armada asing.

Tupou Roosen mengatakan organisasinya sedang menggunakannya sebagai kesempatan ini untuk meninjau keselamatan para pengamat.

Salah satu industri paling berbahaya

Tetapi Maurice Brownjohn, manajer komersial untuk kelompok Negara-negara Penandatangan Perjanjian Nauru (Parties to the Nauru Agreement; PNA), sebuah blok sub-regional PIF yang mengatur penangkapan ikan menggunakan pukat, menegaskan bahwa semua kematian telah diselidiki sesuai proses yang ada.

Memang benar, dalam kasus Kaierua, kematiannya dilaporkan pada 3 Maret di perairan lepas Nauru, dan pemerintah Taiwan kemudian menghubungi komisi perikanan Western and Central Pacific Fisheries Commission dan Pemerintah Kiribati. Kapal itu kemudian berlayar ke Tarawa, ibukota Kiribati. Tetapi polisi Kiribati berkata mereka curiga tentang rute yang ditempuh dan tindakan yang diambil pada hari-hari setelah kematian Kaierua hingga kapal itu sampai di Tarawa.

Namun, Brownjohn mengatakan hanya ada 10 kematian dalam periode satu dekade terakhir di industri yang memiliki 700-800 pengamat di seluruh wilayah PNA dan, lebih dari 2.000 pengamat di seluruh Kepulauan Pasifik.

Industri penangkapan ikan juga merupakan salah satu industri paling berbahaya di dunia, dimana menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), ada 24.000 kematian setiap tahun.

“Mengatakan bahwa menjadi pengamat adalah karier yang berbahaya itu tidak benar ,” tutur Brownjohn. “Para pengamat dilatih untuk mengamati, mereka bukan polisi. Mereka tidak diwajibkan untuk terlibat dalam konflik apapun. Mereka tidak dapat membuat keputusan apa-apa; tugas mereka adalah untuk mengamati,” katanya.

Tetapi pengamat yang berbicara kepada RNZ Pacific, yang belum digaji berbulan-bulan karena penangguhan program itu menyusul pandemi Covid-19, mengatakan banyak pengamat yang khawatir akan keselamatan mereka setiap kali mereka naik di atas kapal.

Mereka tidak punya tempat yang aman untuk menyimpan dokumen dan informasi sensitif, kata mereka, dan khawatir akan dimata-matai atau diintimidasi.

Salah satu solusi yang digembar-gemborkan adalah penggunaan teknologi sebagai pengganti pengamatan langsung, untuk memantau armada penangkapan ikan asing, baik melalui kamera, sensor atau cara lain.

Manu Tupou Roosen mendukung solusi ini.

“Kita hidup di era teknologi. Alat pemantauan elektronik adalah cara yang bagus untuk mengumpulkan informasi tentang kapal, dan akan ada teknologi lainnya yang dapat digunakan untuk mengumpulkan semua jenis data yang dikumpulkan seorang pengamat di kapal,” jelasnya.

Tapi tidak semua orang mendukung ide itu. Perusahaan penangkapan ikan menentangnya karena biaya yang harus dihabiskan, sementara kelompok sub-regional seperti PNA juga tidak setuju.

CEO dari PNA, Ludwig Kumoru, mengatakan pengamat manusia itu sangat krusial, dan akan sulit bagi teknologi untuk menggantikannya.

“Data yang diperoleh dari pengamat tidak dapat diperoleh melalui cara lain. Harus ada pengamat secara fisik, terutama pada kapal dengan pukat,” kata Kumoru. “Mereka bisa mengumpulkan data yang tidak bisa dilihat oleh kamera, dan selain itu, ini adalah kesempatan bagi orang-orang kita untuk bekerja sebagai pengamat.”

Penangguhan sementara program pengamatan kapal penangkapan ikan Pasifik akan ditinjau pada akhir bulan ini, dan setelah itu, ratusan pengamat dapat kembali ke kapal-kapal di lautan kita.

Tetapi sementara peninjauan itu berlangsung, keluarga Eritrea Aati Kaierua masih menanti keadilan ditegakkan. (RNZI)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top