HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Pentingnya pendidikan berkelanjutan di Pegunungan Bintang

Ilustrasi anak-anak pengungsi Nduga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya - Jubi. Dok
Pentingnya pendidikan berkelanjutan di Pegunungan Bintang 1 i Papua
Ilustrasi anak-anak pengungsi Nduga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya – Jubi. Dok

Oleh: Yorim Amesepo Sasaka

Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak, karena pendidikan yang layak akan mengubah kehidupan seseorang, dan mampu mewujudkan kecerdasan anak bangsa.

Pendidikan juga merupakan sarana paling baik untuk membangun masa depan bangsa.

Pentingnya pendidikan berkelanjutan di Pegunungan Bintang 2 i Papua

Beragam hal diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan membuat seseorang mengetahui apapun. Melalui pendidikan segala hal dapat diketahui oleh orang-orang yang berpendidikan, dalam hal ini melalui buku yang dibacanya dan pengajaran yang diterimanya.

Dalam hal ini guru dan orangtua memiliki peranan yang sangat penting di bidang pendidikan.

Tujuan fundamental dari pendidikan adalah mengarahkan manusia agar menjadi lebih dewasa, belajar untuk bertahan hidup di tengah masyarakat, belajar hidup mandiri dan bahagia.

Selain itu tujuan lainnya adalah suatu proses membimbing, menuntun, membentuk kepribadian seseorang dan mengarahkannya untuk memperoleh kedewasaan, kemandirian dan kebahagian dalam kehidupan.

Loading...
;

Direktur pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Kebudayaan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Amich Alhumami, menyatakan pendidikan merupakan instrumen paling efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan.

Sedangkan menurut pengamat pendidikan Doni Koesoema, pendidikan berkualitas bisa diwujudkan jika kebijakan pendidikan fokus pada pembentukan manusia dengan segala dimensinya, pendidikan bakal memberdayakan individu dan membentuk warga negara yang bertanggung jawab (Kompas, 20 Juni 2018).

Sejalan dengan pemahaman tentang pentingnya pendidikan tersebut kiranya menyadarkan kita untuk melihat proses pendidikan yang berlangsung di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Tulisan ini merupakan pengamatan penulis sebagai anak bangsa yang peduli tentang dinamika pendidikan di Pegunungan Bintang yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah daerah dan seluruh pemerhati pendidikan.

Dengan demikian penulis berupaya menguraikan pentingnya pendidikan berkelanjutan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Pertanyaan mendasar adalah kalau pendidikan itu dianggap penting, sejauh manakah peran pemerintah dan pemerhati dalam mendukung dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan berkelanjutan?

Penjelasan berikut akan mengelaborasi pentingnya proses pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.

Pentingnya pendidikan di Pegunungan Bintang

Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan berkaitan erat dengan masalah individu, sosial dan struktural.

Dengan penerapan otonomi bidang pendidikan, otomatis terjadi perubahan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik menjadi desentralistik.

Hal ini tentu memunculkan problematika yang sangat beragam. Untuk memecahkan problematika tersebut diperlukan peran pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan dalam menyikapi dan menawarkan alternatif solusi dan jawaban.

Sejalan dengan pemahaman yang sama pembangunan SDM melalui pendidikan berkelanjutan harus menjadi fokus karena tanpa SDM yang baik suatu daerah–Pegunungan Bintang–tidak akan maju.

Kemajuan Pegunungan Bintang dapat diukur dari perkembangan dan ketersediaan SDM-nya, baik secara kualitas, maupun kuantitasnya.

Para pejuang pembentukan kabupaten memiliki mimpi yang sangat jauh ke depan tentang masa depan manusia Aplim Apom di Pegunungan Bintang.

Mimpi mereka itu harus diwujudkan melalui pembangunan SDM yang memiliki kualitas intelektual dan karakter kepribadian yang baik.

Apakah sudah mengorbit sebanyak mungkin SDM untuk bersaing di masa depan? Sebab ke depan, manusia Aplim Apom di Pegunungan Bintang akan berhadapan dengan tantangan globalisasi yang sangat kuat arusnya.

Sang Pencipta sudah menciptakan alam Pegunungan Bintang dengan berbagai ragam kekayaannya. Kekayaan alam ini memiliki daya pikat yang sangat dahsyat, yang akan menarik dan mendatangkan berbagai manusia dari beraneka latar belakang ilmu, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan.

Jika manusia Pegunungan Bintang belum siap dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan dan kepemilikan sumber-sumber daya lain yang memungkinkan untuk dapat bersaing dalam iklim kompetisi terbuka, maka jangan berharap eksistensi manusia Pegunungan Bintang dapat berlanjut.

Karena itu, kesiapan SDM Pegunungan Bintang tidak bisa ditunda dengan alasan apapun (Melkior Sitokdana, 2017).

Membangun SDM sangat penting, sebab maju dan tidaknya pembangunan suatu daerah tergantung pada kualitas dan kuantitas SDM. Tanpa SDM yang andal, proses pembangunan akan terhambat. SDM dianalogikan sebagai “darah dalam tubuh manusia”.

Tanpa darah, manusia tidak akan hidup. Begitu pula dengan pembangunan. Tanpa SDM, pembangunan tidak akan maju.

Untuk itu, pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan perlu mencari solusi yang tepat guna membangun SDM di Pegunungan Bintang yang kini berjalan dengan lamban.

Sebagai anak daerah keprihatinan akan kondisi dan realitas pendidikan, baik di tingkat PAUD sampai SMA yang masih dipandang tertinggal didorong untuk menyuarakan pentingnya membangun SDM melalui pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Melalui tulisan ini penulis sebagai anak daerah berupaya melihat dan memberitahukan keprihatinan penulis atas persoalan-persoalan yang ditemukan di bidang pendidikan, khususnya yang luput dari perhatian pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan, agar diberi perhatian penuh untuk dibenahi dan diperbaiki, sehingga memberikan bobot pada pengembagan SDM melalui pendidikan berkelanjutan, sebagai bentuk kesungguhan pemerintah dan pemerhati pendidikan di Pegunungan Bintang.

Pentingnya mengintegrasikan pendidikan nonformal aip (rumah) dalam pendidikan formal (modern) di Pegunungan Bintang

Pendidikan di aip (rumah) sangat penting bagi seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga karena pendidikan awal seorang anak adalah di rumah atau dalam kehidupan keluarga.

Dalam kehidupan keluarga (di rumah) adalah tempat di mana benih-benih pengetahuan dapat bertumbuh dan berkembang menjadi kokoh dan kuat seiring proses pertumbuhan seorang anak.

Tentu kita manusia berasal dari keluarga dan setiap kita dididik dan diajarkan tentang banyak hal yang berkaitan dengan pengetahuan dasar, yakni iman, ilmu dan moral.

Proses pengajaran demikian sifatnya berkelanjutan. Keluarga dalam hal ini memiliki peranan yang sangat sentral dalam mewariskan pengetahuan dasar kepada anaknya.

Dalam aip (rumah) itu ayah dan ibu ataupun orang dewasa lainnya bertanggung jawab untuk mewariskan nilai-nilai adat-istiadat (kebiasaan budaya setempat) kepada anak-anaknya, agar mereka melakukan pola hidup sesuai dengan adat setempat. Pendidikan di aip sangat penting karena ditempat ini seorang anak dibentuk karakternya.

Berikut adalah pola pendidikan anak dalam aip (rumah) sebagaimana yang dipraktikkan dan dihidupi oleh masyarakat Aplim Apom di Pegunungan Bintang yang perlu diintegrasikan dalam pendidikan formal (modern).

Proses pendidikan di aip (rumah) terdapat dua kategori, yaitu kategori bagi anak perempuan dan bagi anak laki-laki. Di aip (aip) lebih banyak pada anak perempuan karena laki-laki setelah mengikuti pendidikan inisiasi lebih banyak tinggal di rumah khusus laki-laki (bokamsalki).

Berbeda dengan perempuan, mereka (perempuan) sebagai tulang punggung perekonomian keluarga sehingga banyak belajar di rumah.

Ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada anak perempuan di aip, antara lain:

  1. Mengajarkan cara membuat men (noken), kapnong (gelang kaki), bangup nong (gelang tangan) unom (cawat), sirong batol (anting-anting), kumnong (kalung) dan lain-lain;
  2. Mengajarkan Dan memperkenalkan anak perempuan cara mencari kol/aning (katak/berudu), butok (belalang), wol (ulat kayu), wo (jamur) kabong ebik (tikus tanah);
  3. Mengajarkan cara berkebun boneng (ubi jalar), om (keladi), yamen (sayur), kit (tebu), yop (pisang) dan lain-lain;
  4. Mengajarkan cara menari dan menyanyi bar dan oksang;
  5. Mengajarkan cara melayani tamu;
  6. Mengajarkan sastra bahasa daerah, dikip wenga (bahasa kiasan), masop (mantra);
  7. Mengajarkan cara memasak semua jenis makanan, seperti bakar batu sayur dan daging, memasak ubi, keladi, sagu, pisang dan lain-lain;
  8. Mengajarkan cara berternak babi, meramu dan pelihara binatang, dll.

Sedangkan anak laki-laki di aip/bokam salki belajar tentang:

  1. Cara menjaga diri, misalnya jauhi dari perempuan yang sedang menstruasi atau baru melakukan persalinan;
  2. Membuat ebon (busur), ara, batol, betop (anak panah), yapet (gelang), okbul (koteka), sirong batol (anting-anting), misol mase dan misol bok (septum), kumnong (kalung), wos (tifa), teng (rompi anti anak panah), takol (kapak batu), birminong dan kubat (aksesoris ikat pinggang tarian oksang dan bar), dan lain-lain;
  3. Cara berburu/membunuh kabong (kuskus), kang (babi), nal (burung) dan binatang lainnya. Mengetahui pola berkebun boneng (ubi jalar), om (keladi), yamen (sayur), kit (tebu), yop (pisang) dan lain-lain;
  4. Cara membuat pagar kebun/kandang babi, cara berternak babi dan kasuari;
  5. Cara menari dan menyanyi bar dan oksang;
  6. Cara memasak semua jenis makanan, misalnya bakar batu sayur, daging, memasak ubi, keladi, pisang dan sagu;
  7. Mengetahui sastra bahasa daerah, dikip wenga (bahasa kiasan) (Melkior Sitokdana,2017:60-63).

Pendidikan sebagai aspek yang paling fundamental bagi manusia Aplim Apom di Pegunungan Bintang. Maka perlu untuk mewarisi nilai-nilai yang diajarkan dalam budaya. Di dalam keluarga itulah setiap orang (anak) bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa dalam iman, ilmu dan moral untuk pengembagan hidup.

Oleh karena itu, pemerintah dan pemerhati pendidikan perlu mengambil suatu kebijakan untuk bisa mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan melalui aip ini dalam pendidikan formal (modern) agar para murid atau siswa yang berada dalam bangku pendidikan formal tingkat SD,SMP, dan SMA/SMK mempunyai pengetahuan, pemahaman tentang nilai-nilai kearifan lokal mereka.

Sebab arus zaman yang begitu cepat berkembang bisa membuat nilai-nilai kearifan lokal yang perlu diajarkan itu bisa menghilang bahkan punah. Oleh karena itu, pemerintah dan pemerhati pendidikan perlu melihat hal ini dengan serius.

Peran orang tua dan guru dalam pendidikan formal anak di Pegunungan Bintang

Peran orang tua dan guru sangat penting dan berpengaruh dalam pembentukan seorang anak. Proses manusia memanusiakan manusia sebagai makhluk sosial terjadi dalam pendidikan formal, dalam hal ini terjadi di dalam ruang kelas.

Sehingga orang tua dan guru memiliki tugas yang mulia. Seorang manusia akan berkualitas dan berguna bagi dirinya dan orang lain jika ia mengekspresikan dirinya kepada sesama, alam dan Sang Pencipta, sebab dalam  dalam kehidupan ini tak seorang pun hidup seorang diri.

Guru dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di medan tempur, melainkan  juga yang memberikan segalanya demi pendidikan tanpa mengharapkan balasan apapun (jabatan/pangkat/uang). Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendidik anak didiknya.

Bahkan ia rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya hanya untuk melayani anak didiknya. Berkat kerja kerasnya, orang tua dan guru menjadi dua tokoh yang paling berpengaruh dalam kehidupan anak.

Boleh dikatakan, karena kehadiran merekalah setiap orang yang dilayaninya bisa menikmati dunia pendidikan.

“Bagi saya, guru adalah pahlawan tanpa jasa. Guru merupakan ujung tombak dalam mencerdaskan anak bangsa” tutur seorang guru SD Inpres Tobati (Cepos, 10 Oktobet 2017).

Hal ini kiranya menyadarkan kita akan pentingnya kehadiran seorang guru untuk menciptakan anak bangsa yang berkualitas, khususnya di Pegunungan Bintang.

Peran seorang guru sangat berpengaruh dalam membentuk seorang anak. Walaupun demikian, peran guru amat berbanding terbalik dengan realitas saat ini.

Guru-guru yang ditugaskan untuk mengajar di daerah pedalaman Papua pada umumnya dan Pegunungan Bintang pada khususnya tidak memberikan prioritas yang baik kepada anak-anak (walaupun ada tetapi bisa dihitung jumlahnya).

Penulis pernah menelpon seorang guru (mantan guru penulis di salah satu SD di Pegunungan Bintang).

Ia mengatakan, “Banyak guru yang bertugas di pedalaman tetapi hanya satu atau dua guru yang aktif terlibat dan melaksanakan tugasnya dengan penuh bertanggung jawab. Sementara sebagian besar guru hanya makan gaji buta, mereka berada di tempat tugas hanya beberapa bulan, minggu, bahkan ada yang belum pernah ke tempat tugasnya.”

Mengapa hal ini terjadi? Hemat penulis hal ini terjadi karena tidak ada cinta terhadap anak-anak untuk masa depannya, kurang menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru, dan mungkin karena alasan lain seperti takut jarak, dingin, dll.

Ia melanjutkan, “Bapak/ibu guru ini mereka hanya menunggu untuk terima gaji, setelah mendapatkan gaji banyak waktu dihabiskan di kota.”

Dengan mendengar penjelasan bapa guru tersebut di atas, penulis sebagai anak daerah merasa sedih, kecewa, jengkel dan marah.

Dan muncul sepangkal kalimat di dalam hati penulis demikian, dimana cinta bapak/ibu guru ini terhadap anak didiknya, dan dimana cinta mereka akan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai guru?

Bagaimanapun situasinya peran para guru sangat penting dan berpengaruh bagi proses perkembangan pengetahuan anak didiknya.

Pendidikan di Kabupaten Pegunungan Bintang akan maju jika para guru mengambil kebijakan dan memberi prioritas yang tepat dalam mentransfer ilmu bagi anak-anak didiknya.

Terkait dengan tenaga pengajar atau guru yang tidak serius menjalankan tugas dan fungsi pokoknya, juga ditambah dengan masih sangat minimnya tenaga pengajar (guru).

Menurut penulis soal ini masih terus terjadi di setiap sekolah di pedalaman Papua umumnya dan Pegunungan Bintang khususnya.

Hal ini terjadi karena kurangnya informasi dan komunikasi, serta kerja sama yang baik antara pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan, sehingga yang terjadi adalah kurang adanya pengontrolan yang terarah di setiap sekolah-sekolah yang ada di setiap wilayah.

Harapannya adalah pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan perlu dengan jeli melihat persoalan ini, sebab berkembang dan mundurnya pendidikan menjadi hal yang sangat fundamental.

Pendidikan yang berkualitas itulah yang akan menciptakan SDM dan membentuk karakter seseorang untuk memperoleh kebahagian hidup.

Pentingnya pendidikan berkelanjutan

Pendidikan menjadi suatu yang paling fundamental bagi perkembangan SDM. Maka untuk membangun SDM di Pegunungan Bintang melalui pendidikan, pemerintah daerah perlu membuka kembali kerja sama yang pernah dilakukan pada pemerintahan awal pembentukan dan perkembangan kabupaten ini.

Bupati Wellington L. Wenda dan wakilnya Theodorus Sitokdana (2003-2007) telah membuka terobosan besar dalam bekerja sama dengan sekolah-sekolah di luar Papua dan menyekolahkan anak-anak Aplim Apom ke luar Papua.

Kerja sama ini dilihat sebagai proses pendidikan berkelanjutan yang hasilnya baik dan banyak yang menjadi orang sukses.

Untuk menindaklanjuti pendidikan berkelanjutan ini, pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan perlu mempersiapkan anak-anak Aplim Apom di wilayah pelayanannya sebagai basis dari pendidikan berkelanjutannya tersebut.

Pemerintah perlu membangun komunikasi yang baik dengan dinas terkait, membangun kerja sama dan mengontrol setiap wilayah terkait masalah pendidikan dan bidang-bidang yang lainnya.

Membagun budaya kerja sama penting karena akan melibatkan lembaga-lembaga lain untuk memberi kepedulian terhadap pendidikan. Karena itu, bekerja sama dengan pihak lembaga gereja, lembaga adat serta lembaga lainnya, akan membantu menciptakan SDM yang berkualitas.

Pihak-pihak yang terkait mesti melihat hal ini secara bersama, dan mesti menjalin relasi yang baik dan bisa bekerja sama, supaya pendidikan pun bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Dengan demikian anak-anak didik bisa mengikuti pendidikan dengan baik, dan kelak mereka juga bisa menjadi anak-anak yang berkualitas, kreatif dan menjadi motivator bagi anak-anak Papua lainnya.

Untuk itu perlu menyadari tugas perutusan sebagai kepala keluarga, sebagai guru dan sebagai pemimpin di Pegunungan Bintang, sebab semua dipanggil oleh Allah dengan caranya tersendiri untuk tetap menghayati atas perutusannya dan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh bertanggung jawab. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua dan anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa