HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Pentingnya utusan adat dalam pelantikan pejabat pemerintahan

Ilustrasi, pelantikan pejabat di Papua – Jubi/Dok
Ilustrasi, pelantikan pejabat di Papua – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Charles Singpanki

Maju dan berkembangnya suatu negara atau daerah bisa diukur berdasarkan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Kemajuan dan perkembangan sebuah daerah menjadi tugas dan kewajiban para pemimpin dan masyarakat.

Selain pemimpin, ada beberapa pilar penting yang tentunya menjadi mesin dan roh yang menggerakkan, memfasilitasi dan bekerja sama membangun kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera untuk semua orang.

Pilar-pilar penting yang menjadi mesin dan roh dalam perkembangan suatu daerah, di antaranya, agama, adat, dan pemerintah.

Bila tiga pilar ini bekerja sama, maka semua pekerjaan dan tugas terlaksana sesuai dengan keinginan dan kerinduan masyarakat.

Perkembangan dan kemajuan dirasakan oleh masyarakat apabila ketiga pilar ini bersatu, bekerja sama, saling mendukung, melengkapi dan memberi semangat dan saling motivasi, sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing.

Loading...
;

Fokus perhatian dari ketiga pilar ini adalah pada aspek perkembangan daerah dan pertumbuhan di segala aspek kehidupan di Papua.

Pilar pertama yakni agama. Agama (gereja) di Papua berperan dalam membina dan menumbuhkembangkan iman yang membangun dan membuka wawasan berpikir, untuk memaknai hidup sebagai anugerah dan kekayaan alam sebagai pemberian Tuhan, sebab dalam ajaran agama memiliki kekayaan nilai-nilai kehidupan yang menuntun, mengarahkan, dan mendorong setiap orang untuk memperoleh kebahagiaan.

Selain itu, agar suatu tatanan dunia berdasarkan tujuan-tujuan tersebut di atas bisa terwujud secara praktis, maka dibutuhkan nilai-nilai baru yang dapat menginspirasi dan memotivasi umat manusia;

Pilar kedua adat. Sebelum adanya agama dan pemerintah, adat menjadi wadah dan berperan penting sebagai pemegang kekuasaan dalam mengatur dan mengakomodasi seluruh aspek kehidupan manusia.

Kenyataan di Papua bahwa adat menjadi pilar penting. Melalui adat bahkan atas nama adat mampu mengelabui seluruh motivasi hidup, melalui adat apa yang diinginkan atau apa yang dicita-citakan terpenuhi kalaupun memiliki sejuta motivasi, kepentingan yang membangun dan perkembangan masyarakat maupun menghancurkan, bahkan menyebabkan malapetaka bagi seluruh kehidupan masyarakat, terutama masyarakat adat itu sendiri.

Secara garis besar wilayah di Papua dibagi menjadi tujuh wilayah adat, yaitu, Mamta, Ha Anim, Lapago, Meepago, Saireri, Domberai, dan Bomberai. Hal ini menjadi sebuah keunikan dan kekayaan yang hanya dimiliki Papua dan Papua Barat.

Keunikan dan potensi, khususnya adat menjadikan Papua memiliki peluang besar dan medan yang sangat ideal untuk melangsungkan segala jenis pekerjaan atau membangun segala aspek kehidupan;

Pilar ketiga pemerintah. Pemerintah pertama-tama berasal dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.

Inti dari pelayanan pemerintahan adalah pembangunan kesejahteraan rakyat. Karena itu, rakyat merupakan objek dan subjek dari pembangunan daerah itu sendiri.

Pada arti pembangunan, rakyat memiliki kebebasan untuk selektif memilih dan menentukan pemimpin ideal dalam lingkungan pemerintahan.

Karena itu, pada gilirannya rakyat mengikuti, menganalisis dan memberi penilaian kepada pemimpin yang diidealkannya.

Penilaian rakyat ini sebenarnya mendukung segala pembangunan pemerintah untuk kesejahteraan rakyat itu sendiri.

Papua memiliki potensi dalam segala aspek kehidupan tentunya memiliki praktik hidup keagamaan yang baik tentang makna dan tujuan hidup manusia.

Keberlangsungan hidup sebagai pelaku ajaran agama diintegrasikan dengan kekayaan dan keunikan sistem adat menjadi penopang membangun daerah Papua yang aman dan damai. Hal ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melihat dan menjadikannya sebagai sumber dan inspirasi dalam memajukan daerah dan membahagiakan masyarakatnya. Aktualisasi diri agama, adat dan pemerintah terlihat dalam rasa memiliki dan menjadi tuan di atas tanah leluhurnya.

Keterlibatan utusan adat dalam pelantikan pejabat pemerintahan

Kita melihat sedikit gambaran tentang fungsi dan tugas-tugas tiga pilar yang menjadi nadi dan jantung keberlangsungan kehidupan manusia yang merdeka, memiliki kesempurnaan hidup yang aman, damai, dan sejahtera.

Kembali pada konteks kita di Papua mengenai prosesi atau tata cara melantik seseorang atau beberapa orang yang menduduki jabatan tertentu di dalam lingkungan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta jabatan-jabatan tertentu pada sebuah organisasi dan birokrasi.

Realisasi tindakan konkret ditampilkan dalam acara-acara pelantikan.

Hal penting yang menjadi bahan sorotan pada ulasan ini adalah keterlibatan utusan adat dalam pelantikan atau pengambilan sumpah/janji untuk jabatan publik pemerintahan.

Pelantikan dalam sebuah institusi tentunya menghadirkan beberapa pihak, yang dirasa penting dan partner dalam membangun dan memajukan daerah.

Pihak-pihak yang hadir berasal dari utusan-utusan sebuah lembaga, seperti, pemuka agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam, serta pemuka-pemuka agama lain yang diakui di Indonesia.

Pengambilan sumpah/janji setia dan taat bertanggung jawab atas tugas dan pekerjaan yang dipercayakan tentunya didorong secara spiritual untuk memaknai dan merealisasikan kepercayaan akan dampak agama dalam membangun, melangsungkan kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera bagi semua orang.

Pengambilan sumpah/janji dalam pelantikan di hadapan para saksi dan pemuka-pemuka agama adalah hal yang lumrah di seluruh Indonesia, khususnya Papua.

Bagaimana dengan utusan adat? Apakah utusan adat penting?

Bila melihat realitas kehidupan di Papua, agama dan adat adalah dua lembaga yang vital dalam membangun perkembangan di segala aspek kehidupan.

Kedua lembaga ini adalah penjamin perkembangan dan peradaban manusia tradisional sampai pada manusia modern, sehingga perwakilan adat menjadi penting untuk dilibatkan dalam prosesi pelantikan.

Kita sering menyaksikan pelantikan atau pengambilan sumpah melalui siaran TV atau media-media massa lainnya, serta pengalaman pribadi, bahwa pemuka agama Katolik (pastor) Kristen (pendeta), dan pemuka agama lain, akan berdiri di samping dan memegang kitab suci masing-masing dan mereka yang dilantik meletakkan tangan di atas kitab suci, sambil mengambil sumpah/janji setia melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dipercayakan.

Kerinduan dan pemikiran dasar adanya perutusan dari pihak adat hadir dalam acara pelantikan idealnya hadir berdampingan dengan para pemuka agama.

Sebagai anak adat penulis memiliki pemahaman bahwa adat sebagai hal yang pertama, hidup dan mati, awal dan akhir dari dan melalui adat segalanya mungkin.

Materi dan forma dalam pelantikan pada umumnya tersedia atau tercantum dalam buku-buku atau panduan dari instansi dan organisasi masing-masing.

Forma dan materi yang lazim dipakai pada umumnya belum terdapat pada pelantikan secara adat.

Ritual menjadi bagian terpenting bagi kehidupan orang-orang Papua dan masyarakat adat, dan menjadi bahan dan referensi bagi pelaku dan pemegang kekuasaan, dalam hal ini pemerintah daerah dan pemerintah adat, untuk mengevaluasi, sebab kata-kata, ungkapan, janji setia di hadapan tetua adat atau perwakilan sangat efektif, menjadi spirit dan pedoman yang menggerakkan seluruh aspek kehidupan, untuk sampai pada tujuan hidup yang damai, aman dan sejahtera. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua, sedang menjalani masa TOP dan anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa