Penundaan obat kanker akibat pandemi, pasien di Kepulauan Solomon meninggal dunia

Acara pemakaman Joanna Lilomo, ibu dari empat anak yang meninggal karena kanker serviks di Kepulauan Solomon.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Honiara, Jubi – Tenaga kesehatan di Kepulauan Solomon sedang berupaya keras untuk merawat pasien kanker yang tersendat akibat penutupan perbatasan internasional dan minimnya penerbangan, mempengaruhi rantai pasokan obat-obat kanker – dan beberapa pihak khawatir hal itu mungkin akan memiliki konsekuensi yang fatal.

Joanna Lilomo meninggal akibat kanker serviks, empat hari sebelum ulang tahunnya yang ke-37.

Suaminya, Philip, mengungkapkan bahwa keluarga mereka berduka karena kehilangan ibu dari empat anak, lebih dari setahun setelah ia pertama kali mengalami gejala-gejala kanker serviks.

“Seminggu sebelum dia meninggal dunia, kami merencanakan kue ulang tahun untuknya, kami bahkan sudah memesan kuenya,” jelasnya.

Menurut Global Cancer Observatory, setiap tahun, 65 perempuan didiagnosis menderita kanker serviks di Kepulauan Solomon.

Penyakit ini adalah penyebab kematian perempuan terbesar di negara itu, dimana hingga 40 orang meninggal karena penyakit ini setiap tahun.

Joanna sendiri ditemukan menderita kanker serviks stadium dua pada Januari tahun ini dan telah mengikuti kemoterapi paliatif, terapi yang mengecilkan tumor dari kanker tetapi tidak bisa menghilangkannya, dan banyak pasien yang juga menjalani terapi paliatif umumnya hanya punya waktu tiga hingga 12 bulan sebelum meninggal dunia.

Loading...
;

“Stadium 2B itu berarti bahwa kankernya telah menyebar dan tidak dapat disembuhkan, terutama bagi kami di Kepulauan Solomon,” menurut ahli onkologi dr. Andrew Soma.

Tetapi rumah sakit di negara itu sudah kehabisan persediaan obat cisplatin, yang menurut dr. Soma menghambat pengobatan untuk Joanna dan pasien kanker lainnya.

“Saat itu, untuk waktu yang cukup lama, kami tidak bisa membawa masuk cisplatin. Untuk setidaknya dua bulan, sampai akhirnya kami berhasil mendatangkan obat itu ke dalam negeri,” tuturnya. “Saya menyadari akan berbagai kesulitan yang dihadapi, dan bahkan Covid-19 adalah batu sandungan yang besar untuk bisa mendatangkan obat itu tepat waktu”.

CEO Rumah Sakit, dr. George Malefoasi, mengatakan kepada ABC News bahwa keterbatasan obat memang terjadi, tetapi pandemi global juga berdampak besar pada sistem pengadaan rumah sakit.

“Gudang obat nasional yang menyediakan kebutuhan untuk semua rumah sakit provinsi dan rumah sakit rujukan nasional… baik itu melalui proses tender atau ada pemasok yang ditunjuk,” katanya.

“Tapi ada satu obat tertentu, obat kanker serviks, yang tidak mengikuti proses normal ini. Biasanya untuk obat kanker, kita melakukan penyaluran berdasarkan kebutuhan, artinya kita perlu tahu berapa banyak pasien yang menggunakan obat ini dan kemudian kita juga minta tambahan,” jelas dr. Malefoasi.

Dia mengakui bahwa obat-obat yang khusus itu bisa lebih sulit didapat, dan bahwa mereka memang mengalami keterbatasan pada Maret sampai Mei tahun ini.

Menurut ahli onkologi, dr. Soma, penundaan itu telah memengaruhi tiga pasien lainnya yang juga terpaksa melewatkan siklus pengobatan kemoterapi mereka.

Sementara itu Kementerian Kesehatan Kepulauan Solomon belum menanggapi pertanyaan tentang langkah-langkah yang telah diambil untuk menghindari kekurangan obat kanker kedepannya. (Pacific Beat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top