Follow our news chanel

Penyelundupan dan pasar gelap kava dapat diselesaikan dengan legalisasi impor

papua
Anggota-anggota Fofo’anga Club di Sydney, Australia, menyanyi sambil meminum kava. - Fofo’anga Club

Papua No.1 News Portal | Jubi

Penutupan perbatasan masuk Australia tidak hanya memisahkan keluarga, tetapi juga memisahkan banyak orang-orang Kepulauan Pasifik dari aspek penting budaya mereka: minuman kava.

Minuman berwarna cokelat yang pahit dan menyebabkan perasaan euforia itu dikonsumsi dalam suasana sosial dan merupakan komponen penting dari upacara-upacara tradisional di Kepulauan Pasifik. Minuman tradisional ini dibikin dengan cara menggiling akar dan rizom tanaman kava lalu mencampur bubuknya dengan air, dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya secara legal di Australia adalah dengan membawanya dalam bagasi pribadi.

Sekarang, orang-orang Kepulauan Pasifik mengatakan penutupan perbatasan internasional telah menyebabkan munculnya pasar gelap. Menurut badan pemerintah yang bertugas menegakan kendali perbatasan, Australian Border Force (ABF), juga menerangkan bahwa mereka telah menyita lebih dari dua ton bubuk kava yang dikirim ilegal dari luar negeri.

Biasanya malam-malam di Fofo’anga Club di Sydney, Australia, bisa sampai 10 kilogram akar kava yang digiling akan dikonsumsi, tetapi hal yang sama tidak bisa dilakukan saat ini. “Kita tidak memiliki persediaan kava sama sekali… Hanya orang-orang yang datang membawa stok mereka sendiri,” kata juru bicara klub itu, Tevita Fifita.

Satu-satunya cara untuk mendatangkan bubuk kava ke Australia dengan legal untuk penggunaan pribadi, bukan komersial, adalah dengan membawanya dalam bagasi pribadi, baik melalui pesawat atau kapal, seringkali dari negara-negara Kepulauan Pasifik atau Selandia Baru. Kava tidak dijual belikan di toko-toko di Australia, impor kava telah dilarang sejak 20 tahun yang lalu karena penyalahgunaannya oleh sejumlah komunitas pribumi Australia terpencil.

Fifita mengatakan kelangkaan itu telah menyebabkan kenaikan harga yang berlebihan. “Sekarang semua orang menjual kava dengan harga $200 per kilo,” katanya. “Ada banyak orang yang lebih mahal lagi, tetapi orang-orang di sekitar kita tidak bersedia.”

Umumnya kava dijual seharga sekitar $50 per kilogram, namun lonjakan harga ini bahkan lebih tinggi di Brisbane, ungkap Ratu Maseinawa, ketua gereja Fijian Uniting Church di Brisbane.

Loading...
;

“Orang-orang yang punya persediaan kava sebelum Covid-19 sekarang menjualnya dengan harga $300, $400, hingga $500 per kilo,” tuturnya. “Mereka tahu bahwa orang-orang lain sangat memerlukan kava, jadi mereka menjualnya dengan harga yang terlampau mahal seperti itu.”

Jumlah kava ilegal yang dikirim melalui kantor pos naik pesat

Ratu Maseinawa mengatakan kelangkaan itu juga berdampak pada upacara-upacara adat penting seperti upacara kelahiran, pernikahan, dan pemakaman, dimana kava merupakan komponen budaya yang penting.

Di Sydney, Tevita Fifita berkatav meskipun perbatasan sudah ditutup, masih ada saja orang berhasil mendapatkan kava. “Orang-orang punya persediaan mereka sendiri, tetapi bagaimana mereka mendapatkan stoknya, di mana mereka mendapatkannya, saya tidak tahu,” katanya.

Menurut ABF, mereka telah menemukan jumlah kava yang dikirim secara ilegal melalui pos naik pesat. Komandan ABF, Leo Lahey, mengatakan karyawan-karyawannya yang bekerja di pusat pos internasional hanya menyita 67 kilogram kava pada Januari dan Februari lalu. “Selama Juli dan Agustus ini saja sudah 739 paket kava ilegal dideteksi dengan berat total mencapai 2,2 ton,” ujarnya. “Jadi kenaikannya cukup tajam.”

Desakan agar larangan impor kava komersial dicabut

Ada desakan baru dari kelompok pendukung kava di Australia agar pemerintah segera mencabut larangan impor komersial Kava.

Dr. Apo Aporosa, seorang ahli kava dan kesehatan di Universitas Waikato, mengatakan orang-orang yang biasanya minum kava sekarang beralih ke alkohol. “Teori lama tentang mengalihkan penyalahgunaan obat adalah persis apa yang mereka lakukan,” katanya. “Dengan membatasi masuknya jumlah kava ke negara itu, hal itu sebenarnya memicu disharmoni budaya dan meningkatkan kemungkinan orang-orang Pasifik untuk menyalahgunakan alkohol.”

Michael Louze dari Vanuatu Kava Industry Association menunjukkan bahwa timbulnya pasar gelap ini menunjukkan pentingnya langkah untuk menciptakan regulasi dan memulai kembali impor komersial kava. “Saya kira saatnya sudah tiba untuk melegalkan perdagangan (kava),” ujarnya. “Dengan begitu pemerintah akan mengenakan pajak pada kava, orang-orang akan bisa mengendalikan siapa yang membeli kava dan jumlahnya.”

Pemerintah Australia telah menaikkan batas maksimal jumlah kava yang dapat dibawa oleh penumpang ke negara itu untuk penggunaan pribadi, dari 2 kilogram menjadi 4 kilogram, setelah upaya lobi oleh para pemimpin Pasifik awal tahun ini. Pemerintah juga mengumumkan uji coba impor komersial kecil-kecilan yang akan dimulai pada akhir tahun ini, tetapi sekarang telah ditunda akibat Covid-19.

Dalam sebuah pernyataan, Office of Drug Control (ODC) mengumumkan bahwa proses konsultasi sedang dilakukan sebelum uji coba impor komersial kava. Dikatakan bahwa proses uji coba itu akan dimulai pada akhir tahun depan. “Kami sedang melakukan konsultasi sehubungan dengan kerangka program impor komersial kava. Di bawah program kajian perintis yang diusulkan ini, undang-undang yang berlaku perlu diubah untuk memungkinkan ODC agar mengatur impor kava masuk ke Australia melalui pemberian izin impor komersial,” kata mereka kepada ABC News. “Setiap negara bagian dan wilayah bisa mengatur sendiri penjualan kava, dan masalah terkait lainnya seperti kepemilikan, distribusi, dan penggunaan.” (ABC News)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top