Follow our news chanel

Penyidikan dugaan korupsi proyek PLTA Genyem berlanjut, 4 saksi diperiksa KPK

Foto ilustrasi. pixabay.com
Penyidikan dugaan korupsi proyek PLTA Genyem berlanjut, 4 saksi diperiksa KPK 1 i Papua
Foto ilustrasi. pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Selasa – Komisi Pemberantasan Korupsi melanjutkan penyidikan dugaan adanya pekerjaan fiktif dalam proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air atau PLTA Genyem di Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Pada Selasa (11/2/2020), empat saksi diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, untuk menelusuri dugaan adanya pekerjaan fiktif dalam 14 proyek garapan PT Waskita Karya, termasuk PLTA Genyem.

Keempat saksi yang diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi pada Selasa adalah Kepala Bagian Marketing PT Waskita Karya Agus Prihatmono, karyawan PT Waskita Karya Satrio, perwakilan atau staf PT Max Global Logistics, dan perwakilan atau staf PT Geoprima Solusi. Keempatnya menjadi saksi dalam perkara tersangka Fathor Rachman alias FR, mantan Kepala Divisi ll PT Waskita Karya.

“Hari ini, dijadwalkan pemeriksaan terhadap empat saksi untuk tersangka FR. [Kasus itu] terkait tindak pidana korupsi pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fiktif pada proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi Kantor Berita Antara di Jakarta, Selasa.

Selain Fathor Rachman, mantan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya bernama Yuly Ariandi Siregar alias YAS juga sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus itu. Fathor dan Siregar disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Fathor, Siregar, dan kawan-kawannya diduga menunjuk beberapa perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek PT Waskita Karya, termasuk proyek pembangunan PLTA Genyem. Setelah menerima uang proyek dari Waskita Karya, para subkontraktor itu meneruskan uang proyek fiktif itu kepada sejumlah orang. Sebagian dari uang itu diterima oleh Fathor dan Siregar. Mereka memakai uang itu untuk kepentingan pribadinya.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI menaksir nilai kerugian Negara dalam kasus itu mencapai Rp186 miliar. Nilai itu didasarkan nilai uang yang dibayarkan Waskita Karya kepada para subkontraktor pekerjaan fiktif itu.

Loading...
;

Selain dalam proyek PLTA Genyem, dugaan korupsi dengan modus pembayaran pekerjaan fiktif juga terjadi dalam 13 proyek garapan Waskita Karya. Proyek itu antara lain proyek Normalisasi Kali Bekasi Hilir, Bekasi, Jawa Barat; proyek Banjir Kanal Timur (BKT) Paket 22, Jakarta; proyek Bandara Kualanamu, Sumatera Utara; proyek Bendungan Jati Gede, Sumedang, Jawa Barat; proyek Normalisasi Kali Pesanggrahan Paket 1, Jakarta; dan proyek Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi 1, Jawa Barat.

Modus yang sama juga terjadi dalam pelaksanaan proyek “fly over” Tubagus Angke, Jakarta, proyek “fly over” Merak-Balaraja, Banten; proyek Jalan Layang Non Tol Antasari-Blok M (Paket Lapangan Mabak), Jakarta; proyek Jakarta Outer Ring Road (JORR) seksi W 1, Jakarta; proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 2, Bali, proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 4, Bali; dan proyek Jembatan Aji Tulur-Jejangkat, Kutai Barat, Kalimantan Timur.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top