Follow our news chanel

Perang dingin perebutan kekuasaan di Pasifik 

Ilustrasi kawasan Pasifik Selatan - Jubi/google map
Perang dingin perebutan kekuasaan di Pasifik  1 i Papua
Ilustrasi kawasan Pasifik Selatan – Jubi/google map

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Hengky Yeimo

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, setelah meresmikan kapsul waktu di Kabupaten Merauke, melanjutkan perjalanannya ke Papua Nugini untuk mengikuti pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) atau Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik–forum ekonomi 21 negara di Lingkar Pasifik, yang berlangsung 17-18 November 2018.

Pertemuan ini dihadiri oleh Presiden se-Asia dan Pasifik untuk membahas hal-hal strategis tentang ekonomi, politik, keamanan, dan sosial di wilayah Asia-Pasifik.

Presiden Jokowi menyampaikan tiga intervensi dalam pertemuan tersebut, yaitu mengenai isu konflik perdagangan yang merugikan rakyat, perlunya motivasi untuk pengusaha digital, dan peranan penting anak muda dan perempuan dalam memajukan ekonomi digital di seluruh negara anggota APEC. Usulan dari negara negara yang membawahi Asia-Pasifik berjalan biasa.

Dalam pertemuan APEC ke-26, yang menarik ialah perdebatan negara Amerika dan Cina. Wakil Presiden Amerika, Mike Pence, mengumumkan bahwa Amerika akan terlibat dengan rencana sekutunya, Australia, untuk mengembangkan pangkalan angkatan laut di Papua Nugini, tempat KTT itu berlangsung.

Sedangkan Pemimpin China, Xi Jinping, secara intensif membujuk Papua Nugini dan negara-negara kepulauan lain di Pasifik dengan bantuan dan pinjaman bagi pembangunan infrastruktur. Wapres Pence mengatakan bahwa Washington tidak akan menyudahi perang dagang dengan Beijing sampai situasinya berubah.

Loading...
;

“Cina telah mengambil keuntungan dari AS selama bertahun-tahun dan masa-masa itu telah berakhir,” tutur Pence dalam pidatonya di Port Moresby.

Sementara itu pemimpin China Xi Jinping mengatakan perlunya kerja sama dan perdagangan global. Dia menekankan bahwa seluruh perbedaan dapat dijembatani melalui konsultasi. Sebab “Sejarah telah menunjukkan bahwa konfrontasi, baik dalam bentuk perang dingin, perang panas atau perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang.”

Untuk merespons kegagalan deklarasi akhir KTT APEC, saat itu mantan Perdana Menteri PNG, Peter O’Neill, mengatakan, “Kita tahu ada dua raksasa di ruangan.” Dua raksasa yang dimaksudkan adalah Amerika dan Cina yang berdebat untuk menaruh perhatian pada negara-negara di kepulauan Pasifik.

O’Neill mengatakan, “Organisasi Perdagangan Dunia dan reformasi Organisasi Perdagangan Dunia, APEC tidak punya piagam terkait Organisasi Perdagangan Dunia, itu adalah fakta. Masalah-masalah itu bisa diangkat di Organisasi Perdagangan Dunia.” Alasan ditunda karena Cina khawatir soal aturan spesifik praktik perdagangan yang tidak adil. Sebab bagi Cina aturan(lah) yang paling bermasalah. Pernyataan Cina ini diutarakan di hadapan pimpinan negara-negara Asia-Pasifik.

Perang dingin antara Amerika dan Cina di Pasifik pada momentum KTT APEC ke-26 sarat kepentingan dan untuk pertama kalinya dalam 25 tahun sejarahnya, KTT APEC yang berakhir Minggu (18/11/2018), gagal menyetujui komunike bersama.” (alinea.id, Senin, 19 September 2018).

Perdebatan alot ini membuktikan bahwa Amerika dan Cina sedang “perang dingin dalam merebut kekuasaan di wilayah Pasifik,” dan mereka mencari pola untuk menancapkan kuda-kuda di negara-negara Kepulauan Pasifik. Amerika menggunakan pendekatan keamanan dan Cina melalui modal dan infrastruktur.

Penyelenggaraan KTT APEC di PNG secara geografis sangatlah penting bagi Cina dan Amerika, sebab PNG berbatasan langsung dengan Indonesia. Bagi Amerika, Indonesia sangat penting dalam kepentingan global, untuk kepentingan investasi, politik, ekonomi, dan pertambangan, pertahanan, serta keamanan.

Pertemuan APEC ini bagian dari negara-negara Asia dan adikuasa melakukan ekspansi untuk menguasai Pasifik dan mengeksploitasi sumberdaya alamnya dengan menggunakan pendekatan militer, hubungan bilateral antaranegara.

Bagaimana dengan posisi Indonesia, sikap politik luar negri Indonesia dalam KTT APEC? Indonesia masih melakukan manuver ke negara adikuasa, sehingga masih malu-malu dalam menentukan sikap tegas untuk wilayah Pasifik, barangkali begitu pun dengan negara-negara lain.

Indonesia membuka seluas-luasnya investasi dalam negeri, basis wilayahnya ialah Papua dan Kalimantan, sebagai pulau terluas. Untuk memperkuat mitra jalan satu-satunya meluaskan investasi. Entalah Amerika atau Cina yang akan menopang proses perluasan investasi dalam negeri.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa negara adikuasa seperti Amerika berkehendak kuat untuk membangun pangkalan angkatan laut di PNG? Untuk apa pelabuhan bagi masyarakat yang mendiami pulau-pulau di Pasifik, sementara Cina selalu menggunakan pola pendekatan yang berbeda-beda untuk mengkonter Amerika dari kepentingan ekonominya?

Untuk siapa Cina memberikan tawaran dengan bantuan modal untuk peningkatan ekonomi dan infrastuktur? Apakah akan ada kemajuan yang signifikan bagi masyarakat di kepulauan Pasifik? Bagaimana kehidupan orang-orang di kepulauan Pasifik yang berciri khas kepasifikan?

Pertama, untuk mengamankan kepentingan investasi di wilayah Pasifik, maka Amerika mendirikan pangkalan militer di Pulau Manus, untuk memudahkan Amerika dalam mengamankan kepentingan bilateral dan mengamankan investasi skala internasional;

Kedua, pendirian pangkalan militer tentunya membatasi ruang gerak Cina untuk tidak berlebihan dalam menancap kuda-kuda, dan meloloskan kepentingan ekonominya di wilayah Pasifik;

Ketiga, bagi Amerika keterlibatan Australia (penting) untuk membantu mengamankan pangkalan militer, agar PNG tidak membuka ruang bagi Cina untuk melakukan ekspansi ke wilayah Pasifik, sebab secara politik PNG masih bergantung kepada Australia;

Keempat, pembangunan pangkalan militer tentu akan menjadi ancaman sendiri bagi Cina untuk tidak berlebihan dalam memperluas hubungan dengan negara-negara di Pasifik;

Kelima, pola pendekatan Amerika ini merupakan konspirasi kapitalisme dunia, yang tidak memadang orang asli atau kepemilikan tanah secara komunal. Untuk meloloskan kepantingannya, Amerika akan melakukan pendekatan militer–siapa pun yang menghambat investasi akan berdampak buruk.

Oleh sebab itu, Pacific Island Forum (PIF) harus merumuskan dan mengatur dengan baik hal-hal apa saja yang semestinya diterapkan, agar lalulintas perdagangan dunia di Pasifik bisa berjalan sebagaimana aturan domestik yang berlaku. Sebab masa depan Pasifik ada di tangan Pasifik itu sendiri.

Apakah di abad 21 ini negara-negara Pasifik masih harus dijajah oleh korporasi negara-negara adikuasa itu? Cina dengan pola pendekatan yang dipakai sebagai bargaining untuk membangun sarana kebutuhan yang real dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam infrastruktur dan pemberian modal yang sangat menyentuh kebutuhan dasar bagi masyarakat.

Namun, tawaran Cina belum serta-merta dibutuhkan oleh masyarakat di kepulauan Pasifik, sebab ekspansi negara-negara adikuasa ini secara tidak langsung merenggut hak kesulungan masyarakat yang mendiami kepulauan Pasifik.

Walau sempat keluar dari komunike Cina mencari perhatian kepada negara-negara Pasifik, pola pendekatan yang dilakukan berbeda. Tawaran Cina lebih elegan bagaimana memberikan modal dan infrastruktur untuk peningkatan ekonomi dan infrastruktur.

Cina dalam pola pendekatannya selalu memberikan tawaran yang berbeda-beda dengan Amerika. Strategi itu membuat perekonomian Cina melambung lebih jauh dari negara-negara Pasifik, Amerika, Indonesia, dan negara-negara lain di belahan dunia.

Masa depan Pasifik dan West Papua

Untuk menguasai wilayah Pasifik, khususnya West Papua lantaran kekayaan alam Papua yang begitu melimpah ruah, Amerika sendiri akan membangun pangkalan kapal laut di Provinsi Wewak, PNG. Selain itu, Amerika juga mempunyai perusahaan raksasa, yakni PT Freeport Indonesia dan perusahan skala menengah lainnya. Untuk meloloskan kepentingan tersebut, pelabuhan militer menjadi penting bagi Amerika.

Sementara Cina sudah membangun pangkalan militernya hampir di seluruh Pasifik. Artinya Cina sebagai negara yang kaya juga menancapkan kuda-kuda untuk merebut wilayah Pasifik yang masih menyimpan sejuta kekayaan alam–cadangan bahan mentah yang tak akan habis-habisnya.

Tak hanya Cina, Amerika, Australia, Prancis, India, dan Inggris, Indonesia juga berupaya keras agar pulau-pulau besar di Pasifik, khususnya Melanesia yang masih menyimpan kekayaan alam dicaplok dan diraup secara berlebihan tanpa menghargai pemilik sumber daya alam di negara-negara Pasifik.

Praktik Amerika dan Cina, yang merupakan sisa-sisa praktik negara-negara kolonial di abad 21 ini masih menghegemoni di daerah Pasifik, sebab keberadaan mereka di Pasifik turut mempengaruhi semua sendi kehidupan orang Pasifik. Bentuk penjajahan terhadap orang Melanesia itu masih terjadi dan masif dilakukan oleh negara-negara tersebut.

Paradoks negara-negara adikuasa yang melakukan ekspansi ke wilayah Pasifik memandang orang Melanesia masih terbelakang, tertinggal, dan termarjinal. Hal-hal ini menjadi pintu masuk negara Indonesia untuk melakukan eksploitasi SDA secara berlebihan.

Negara-negara adikuasa selalu memandang orang kulit hitam rendah, sehingga dengan teknologi canggih meraup keuntungan lebih. Untuk menentukan nasib wilayah Pasifik dari ancaman perebutan negara-negara adikuasa, maka negara-negara jajahan di Pasifik harus dihapuskan dan memberikan kemerdekaan penuh bagi mereka untuk bisa mengatur dirinya sendiri, misalnya Kanaky, West Papua, dan Bougainville.

Negara-negara adikuasa pada abad 17-20 melakukan ekspansi ke wilayah Pasifik untuk mengeksplorasi SDA sekaligus menyebarkan agama. Hasilnya terlihat sampai sekarang: PTFI, perusahaan nikel di Kaledonia Baru, perusahaan tambang emas di PNG dan Bougainville.

Pertarungan sengit antara Amerika dan Cina untuk merebut West Papua, sebab Amerika menguasai dengan perusahaan skala besar. Tapi strategi China menguasai dengan perusahaan kecil dan mereka masuk di pertambangan lokal untuk mengeksploitasi emas, dengan menggunakan mesin modern. Contohnya kita bisa lihat di Kabupaten Nabire, sekitar wilayah pertambangan lokal dari Topo-Mapia.

Perebutan SDA di Pasifik merupakan potret kolonialisasi di abad 21. Adikuasa melihat Pasifik bukan sebagai tempat wisata, melainkan tempat untuk menanam “kuku kapitalisme” lantaran masa depan dunia ada di wilayah Pasifik dengan kekayaan alam yang melimpah ruah.

Arnold Mampioper (1987) dalam bukunya “Samudra Pasifik Dalam Strategi Pertahanan dan Keamanan” menulis, negara-negara adikuasa melakukan ekspansi di pulau-pulau besar di Melanesia, maka gerakan bersama, solidaritas orang Melanesia harus dihidupkan kembali. Daerah-daerah jajahan di wilayah Pasifik–Melanesia dan Polinesia harus dihapuskan. Biarkan  orang orang Melanesia melakukan perdagangan bebas secara regional di Pasifik dan Melanesia untuk keberlangsungan hidup yang damai.

West Papua adalah ujung tombak dari Melanesia. Artinya bahwa West Papua merupakan wilayah yang berada di pulau terbesar Melanesia, dan masih menyimpan sejuta kekayaan alam yang tidak akan habis-habisnya. Di lain sisi, West Papua bisa menjadi daerah (anggota) persemakmuran bagi negara-negara lain di wilayah Pasifik.

Walaupun di negara-negara Melanesia yang lain juga ada potensi SDA-nya, dan masih dijajah negara asing, perebutan kekayaan alam di Pasifik condong ke West Papua.

Apabila Melanesian Spearhead Groups (MSG) didirikan untuk menghapus daerah-daerah jajahan di Pasifik, upaya-upaya itu dilakukan agar orang Melanesia bergerak bebas di kawasan Pasifik tanpa intervensi negara-negara asing.

Metode atau pendekatan sejak abad 17 sampai abad 21 untuk menguasai pulau-pulau yang kaya akan sumber daya alam sama. Ketika Cina, India, dan Prancis menguasai perusahaan-perusahaan kecil di Pasifik, Amerika dan Indonesia mempertahankan West Papua untuk secara terus-menerus mengekploitasi SDA-nya.

Freeport adalah salah satu bentuk wajah negara adikuasa yang eksis mengeruk kekayaan alam di West Papua Melanesia. Apabila dampak Freeport lebih buruk, pertanyaannya apakah negara adikuasa akan membawa perubahan yang singnifikan atau justru melemahkan masyarakat di kawasan Melanesia? (*)

Penulis adalah jurnalis Koran Jubi dan jubi.co.id

Editor: Timo Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top