Follow our news chanel

Previous
Next

Perang PNG melawan virus corona mulai tertata

Ketiadaan akses listrik yang dapat diandalkan adalah salah satu dari banyak isu di PNG yang semakin parah akibat pandemi Covid-19. - The Interpreter/ ADB /Flickr
Perang PNG melawan virus corona mulai tertata 1 i Papua
Ketiadaan akses listrik yang dapat diandalkan adalah salah satu dari banyak isu di PNG yang semakin parah akibat pandemi Covid-19. – The Interpreter/ ADB /Flickr

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Shane McLeod

Selama beberapa minggu terakhir ini sepertinya PNG ada di tengah-tengah ‘perang palsu’ melawan penyebaran virus corona.

Sudah ada sejumlah kasus yang dikonfirmasikan di seluruh negara dengan populasi sembilan juta orang itu. Kasus pertama adalah seorang pekerja tambang asing, ia segera diterbangkan ke luar negeri setelah hasil pemeriksaannya keluar. Selanjutnya adalah seorang petugas kesehatan di Provinsi East New Britain, dimana sumber infeksinya belum ditemukan.

Tanggapan pemerintah terhadap kasus-kasus awal positif virus corona sangat sigap dan tegas: keadaan darurat, penutupan usaha-usaha non-esensial, melarang perjalanan udara dan darat dalam negeri, dan melarang pasar dan pedagang kaki lima. Parlemen bertemu dan memperpanjang keadaan darurat yang dimulai awal bulan ini.

Politisi-politisi terkemuka seperti Gubernur East Sepik, Allan Bird – yang telah menyarankan perintah untuk memberlakukan peraturan keras dan menembak orang-orang pelintas batas yang ilegal untuk menghentikan penyebaran virus – sekarang malah mulai mempertanyakan pentingnya karantina wilayah yang ketat, menegaskan dampak ekonominya.

Tetapi beberapa waktu akhir-akhir ini telah mulai menunjukkan bagaimana pandemi itu telah menyebar dengan diam-diam di seluruh negeri. Perang palsu PNG melawan Covid-19 tampaknya berakhir.

Loading...
;

Kurang dari dua pekan lalu, lima kasus baru dikonfirmasikan di PNG. Yang mengkhawatirkan, tiga dari mereka berasal dari Provinsi Western, yang berbatasan langsung di Selat Torres dengan Indonesia dan Australia. Satu pasien lainnya yang ditemukan positif di Provinsi East New Britain, dan yang lebih mengkhawatirkan, kasus pertama di Port Moresby: seorang petugas karantina yang sering mengunjungi pusat komando Covid-19 di negara itu.

Lima pasien baru itu menaikkan jumlah pasien menjadi tujuh orang. Pekan lalu, PNG telah melaporkan kasus Covid-19 ke delapan di Provinsi Eastern Highlands. Jika dibandingkan dengan jumlah pasien lainnya secara internasional, jumlah itu masih relatif rendah. Tetapi jumlah ini juga merupakan indikasi dari jumlah pengujian terbatas yang telah dilakukan – sekitar 350 tes sampai minggu lalu.

Seorang petugas kesehatan ditingkat provinsi berkata kepada saya bahwa mereka sudah mulai khawatir tentang kemungkinan kasus virus corona di daerah mereka selama beberapa minggu, tetapi karena ada pembatasan tes nasional, itu berarti mereka tidak bisa melakukan pemeriksaan untuk mengkonfirmasikan kecurigaan mereka. Seorang pekerja lainnya, yang tahu mengenai respons pandemi nasional, yakin bahwa prevalensi virus itu mungkin jauh lebih tinggi di PNG daripada yang dikonfirmasikan oleh tes sejauh ini.

Badan penelitian dan pengembangan kesehatan PNG, Institute of Medical Research, di Goroka adalah pusat pengujian satu-satunya hingga laboratorium kedua di Port Moresby dibuka baru-baru ini. Tetapi minimnya ketersediaan pusat pengujian berarti pemerintah harus mulai mengirim sampel ke Australia.

PNG tidak sendirian dalam hal ini, sebagai negara berkembang dengan kapasitas terbatas dalam menangani virus ini. Ada kemungkinan nyata bahwa Covid-19 akan menyebar, kemungkinan besar di luar kendali pemerintah, di seluruh PNG selama beberapa bulan mendatang. Perbatasan daratnya dengan Indonesia berarti upaya apa pun yang dilakukan PNG akan selalu terkait dengan keberhasilan negara tetangganya dalam menangani pandemi ini.

Dan sistem kesehatan PNG akan menghadapi kesulitan. Perdana Menteri James Marape telah mengakui hal ini – mengungkapkan bahwa pemerintah belum banyak menuangkan pendanaan dalam pelayanan kesehatan seperti seharusnya. Pemerintah sudah ada kendala dalam menghadapi banyak tantangan sehari-hari, termasuk terhadap TBC, HIV dan malaria. Dan melampaui isu kekurangan dana adalah permasalahan akibat korupsi yang telah melemahkan kapasitas PNG dalam menanggapi krisis kesehatan yang baru.

Mengakomodasi pengujian Covid-19 PNG di Brisbane adalah bantuan yang besar bagi kemampuan negara itu dalam mengawasi penyebarannya. Saya senang melihat Australia mengambil inisiatif untuk membantu tetangga terdekatnya.

Perdana Menteri Scott Morrison juga harus dipuji karena memastikan bahwa pemimpin-pemimpin dunia tidak melupakan Pasifik, bahkan ketika ia dan pemerintahnya juga menghadapi persoalan yang besar di rumah mereka sendiri.

Berbicara mengenai mendukung negara-negara berkembang dalam tanggapan mereka terhadap virus corona, pada Kamis pekan lalu (16/4/2020), PM Morrison juga mengumumkan bahwa PNG tidak perlu melakukan pembayaran apa pun atas pinjaman sebesar AS$ 300 juta hingga akhir tahun ini. Ini adalah awal dari peran penting dan berkelanjutan yang dapat dimainkan Australia dalam membantu PNG untuk menghadapi virus ini dan dampaknya. Ini juga salah satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan PNG selama mereka menghadapi kendala besar di masa mendatang. (The Interpreter)

Shane McLeod bekerja sebagai peneliti untuk program Australia-PNG Network di Lowy Institute.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top