Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Peringatan Hari HAM Sedunia di Wamena: Utamakan kemanusiaan

Peringatan Hari HAM Sedunia di Jayawijaya yang dilakukan di depan Tugu Salib Wio Silimo Wamena. -Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, 10 Desember 2019 di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dilakukan dengan aksi pembakaran lilin diperuntukkan bagi para korban pelanggaran HAM.

Peringatan yang dilakukan di depan Tugu Salib Wio Silimo, Selasa (10/12/2019) sore itu, dihadiri sejumlah warga, tokoh gereja, dan pemerhati HAM di pegunungan tengah.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jayawijaya, Pendeta Esmon Walilo yang turut hadir mengatakan, pelanggaran HAM bukan hanya masalah pembunuhan, tetapi juga banyak kasus lainnya seperti kurangnya perhatian atas pelayanan publik bagi masyarakat.

“Seperti contoh ASN yang selama ini dianggap makan gaji buta, tidak pernah ada di tempat tugas. Tidak berjalannya layanan pendidikan dan kesehatan ini juga sebenarnya pelanggaran HAM,” kata pendeta Esmon Walilo.

Menurutnya, jika kondisi di Wamena semakin pulih maka guru maupun tenaga kesehatan bisa kembali ke tempat tugas masing-masing, untuk melayani masyarakat.

“Kami harap di 63 tahun usia Kota Wamena, masyarakat cukup dewasa. Pegawai maupun bukan pegawai harus disiplin, karena jika tidak, hal itu juga pelanggaran HAM, bahkan mungkin juga pendeta-pendeta yang terkadang tidak disiplin waktu, itu juga bagian pelanggaran HAM. Semua ini masalah besar yang harus diselesaikan,” katanya.

Loading...
;

Aktivis HAM Papua, Pastor Jhon Djonga yang juga sebagai tokoh gereja menilai, peringatan Hari HAM Sedunia ini diharapkan dapat menghentikan segala persoalan atau kekerasan kemanusiaan di Tanah Papua.

“Mari sekarang membangun Papua dengan mengutamakan rasa kemanusiaan dan pendekatan nilai-nilai budaya, persaudaraan, ekonomi, dan yang paling penting ialah pendekatan persoalan politik harus diselesaikan secara politis pula,” kata Pastor Jhon Djonga.

Ketua Advokasi Hukum dan HAM Pegunungan Tengah Papua, Theo Hesegem mengatakan peringatan ini harus dilihat dari segi hak hidup setiap orang. Entah itu warga non-Papua atau orang asli Papua, semua itu mempunyai hak yang sama, sehingga hak hidup perlu dijaga dan dihormati sebagai ciptaan Tuhan.

“Hari ini sekalipun hanya sedikit orang, tetapi maknanya lebih besar karena kami melakukan pemasangan lilin memperingati korban-korban pelanggaran HAM yang selama ini terjadi,” kata Theo Hesegem.

Margaretha Wetipo, perwakilan perempuan yang hadir menyebut kekerasan terhadap perempuan dan anak juga termasuk dalam kategori pelanggaran HAM.

“Di Hari HAM Sedunia ini kita juga memperingati kekerasan terhadap perempuan dan anak, ini bisa dilihat dan ditangani secara serius bahwa perempuan tidak hanya menghidupkan keluarga, tetapi dalam hal ini dia menghidupkan dunia artinya ketika ada perempuan akan ada kehidupan,” kata Etha Wetipo.

Tagih janji Jokowi

Di momentum peringatan Hari HAM Sedunia ini juga, sejumlah aktivis menagih janji Presiden Joko Widodo dalam menyelesaikan pelanggaran HAM yang selama ini terjadi di Papua.

Pastor Jhon Djonga menyebut masyarakat pegunungan tengah bahkan seluruh Papua menagih janji Presiden Joko Widodo lima tahun lalu. Pada 28 Desember 2014, ketika presiden datang ke Papua ia berjanji akan menyelesaikan semua masalah pelanggaran HAM, namun hingga kini tidak ada satu pun yang diselesaikan.

“Contoh persoalan Nduga, kesannya seperti dibiarkan oleh negara, karena itu presiden sebagai pemimpin tertinggi di negara ini hendaknya punya hati nurani, untuk meminta menarik pasukan dan kembalikan orang Nduga ke kampung mereka, supaya mereka membangun hidupnya di sana. Karena dengan berdasarkan data sudah 238 masyarakat Nduga yang meninggal, sebenarnya negara harus menyadarinya, jangan sampai terkesan ada pembiaran oleh negara,” katanya.

Theo Hesegem juga mengimbau pemerintahan bisa menangani seluruh kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama ini, sehingga masyarakat dan keluarga korban yang merasa kehilangan diberikan rasa keadilan oleh negara.

“Peringatan Hari HAM Sedunia ini juga termasuk untuk para korban konflik Nduga baik OAP maupun karyawan PT. Istaka Karya, dimana HAM untuk semua orang, bukan hanya untuk kelompok-kelompok atau oknum tertentu, juga bukan organisasi tertentu saja. Tetapi yang masuk dalam kategori manusia, itu punya hak hidup yang sama,” katanya. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top