HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Peristiwa Biak berdarah mirip kejadian Santa Cruz, ini kesaksian korban

Papua
Ilustrasi peringatan 22 tahun tragedi Biak Berdarah oleh mahasiswa asal Papua di Bali pada 6 Juli 2020, yang dibubarkan polisi - Dok. LBH Bali 

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Korban tragedi Biak Berdarah Fileph Joseph Karma menyebut peristiwa  yang ia alami mirip peristiwa Santa Cruz di Timor Leste, tahun 1991 lalu. Ia menceritakan  peristiwa Biak Berdarah terjadi pada 6 juli 1998 sekitar pukul 03.35 diawali oleh rencana pembubaran oleh aparat keamanan .

“Rencananya tanggal 5 Juni 2020 aparat keamanan republik Indonesia rencana membubarkan kami. Tetapi tanggal lima itu tepatnya hari minggu orang beribadah. Sehingga aparat kepolisian membubarkan kami dengan kekerasan tanggal 6 Juli 1998,” kata karma, dalam diskusi daring, Senin, (6/7/2020).

Berita terkait : Tragedi Biak Berdarah, catatan kelam orang Papua

Komnas HAM RI miliki cukup data mengusut tragedi Biak Berdarah

Penyelesaian tragedi Biak Berdarah perlu libatkan pihak asing

Karma mengatakan, ratusan masyarakat diperlakukan tidak manusiawi. Ibu hamil di bunuh, gadis gadis diperkosa dengan cara keji termasuk para pria dibunuh dengan cara yang tak kalah keji.

“Mayat korban sebagian besar hilang dan belum diketahui oleh keluarganya. Sehingga sampai sekarang keluarga masih trauma atas peristiwa Biak Berdarah,” kata Karma mengenang.

Loading...
;

Dalam diskusi daring bertajuk “Apa Kabar Penyelesaian Pelanggaran HAM Biak 6 Juli 1998” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta itu, Karma menyebutkan, kasus Biak Berdarah digantung jika  dibongkar mirip kasus Santa Cruz Di Timor Leste karena  kondisinya aparat menyerang warga sipil yang tidak bersenjata.

“Negara Indonesia ini negara damai kami lawan dengan damai. Namun kami di babat seperti orang babat rumput ini pelanggaran HAM berat. Ini bentuk genosida,” kata Karma penjelasan.

Ia mengajak orang Papua dan masyarakat  Indonesia harus bersatu untuk menegakkan keadilan. Menurut Karma sudah seharusnya membagun jaringan kampanye bersama terkait kasus pelanggaran HAM di Papua bisa terbuka.

Mantan Aktivis Elsham Papua, Daniel Randongkir, menyebut peristiwa yang kelak dikenal sebagai Biak Berdarah itu menimbulkan delapan orang meninggal dunia, tiga hilang, empat luka berat, 33 luka ringan, serta 50 orang ditahan sewenang-wenang. Selain itu laporan yang sama menyebut 32 mayat ditemukan di sekitar perairan Biak.

“Peristiwa Biak berdarah dan khasus pelanggaran HAM lainnya di Papua terjadi sebelum adanya Pengadilan HAM, sehingga negara tidak akan menyelesaikan,”kata Randongkir.

Menurut dia, mekanismenya yang harus dilakukan bagaimana negara membentuk tim ad hoc untuk kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Namun ia menyayangkan, jangankan peristiwa pelanggaran HAM masa lalu. Kasus Abepura Berdarah, Paniai berdarah juga belum bisa diselesaikan dan masih menunggu tanggung jawab negara.

“Lembaga seperti Komnas HAM saja tidak mampu menyelesaikan. Untuk apa juga orang Papua mengadu kalau pelanggaran HAM tidak pernah diselesaikan,” katanya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top