Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Perjuangan USP untuk selamatkan kebebasan akademik

Papua
Ilustrasi. -Dok

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Dr. David Robie

Universitas regional milik 12 negara di Pasifik Selatan, University of the South Pacific (USP), yang dibanggakan karena budaya pan-Pasifiknya telah mengalami krisis lainnya menyusul pandemi virus Corona di Pasifik. Meskipun sebagian besar kawasan Pasifik selamat dari serangan virus itu, Kepulauan Cook dan Vanuatu termasuk dalam daftar negara yang bebas Covid-19, rasa paranoid tentang sebuah infeksi telah memungkinkan meningkatnya otoritarianisme di wilayah tersebut.

Esensi yang serupa diungkapkan oleh calon rektor universitas itu, Presiden Nauru, Lionel Rouwen Aingimea, seorang alumni USP yang fasih dalam berargumen dan berani, dan yang juga merupakan seorang pengacara.  Dalam sebuah surat Senin lalu (15/6/2020) kepada Wakil Rektor di Fiji, Winston Thompson, yang saat ini mengepalai Dewan USP, dan yang telah memulai krisis kepemimpinan saat ini, di mata umum Presiden Aingimea menuduh mereka sebagai sebuah kelompok kecil sedang berupaya mengambil alih Institusi tersebut dan membahayakan masa depannya. Dia mengkritik adanya ‘pengabaian proses hukum.’

Beberapa anggota dewan dan penasihat lainnya lebih berani dari Aingimea. Mereka berpandangan bahwa negara tuan rumah Fiji telah memanfaatkan karantina wilayah akibat Covid-19 dan pembatasan keamanan dan kesehatan untuk melaksanakan pertemuan agar dapat mengontrol agenda kepemimpinan USP dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu pengganti caretaker rektor umum Profesor Pal Ahluwalia yang baru ditunjuk, Profesor Derrick Armstrong, menegaskan bahwa ia mendapatkan dukungan dari manajemen senior untuk melaksanakan tugas  bosnya yang ditangguhkan. Profesor Pal Ahluwalia adalah whistleblower awal yang melaporkan adanya dugaan praktik yang tidak jujur di USP, dan sekarang sedang menghadapi tuduhan balik. Namun pernyataan dari beberapa staf penting menggambarkan bahwa tidak semua manajemen senior mendukung Armstrong.

Profesor Armstrong menerangkan kepada media bahwa ia menyarankan staf-staf  senior untuk mengundurkan diri jika mereka merasa ‘tidak nyaman’ bekerja dengannya. “Tidak ada yang menunjukkan perasaan tidak nyaman dan mengundurkan diri,” ungkapnya. Tetapi dia juga menyatakan kekecewaannya karena staf dan asosiasi mahasiswa telah menolak untuk bertemu dengannya.

Beberapa pihak mempertanyakan perannya sebagai pengganti Profesor Ahluwalia, menurut mereka ada konflik kepentingan karena Armstrong adalah salah satu di antara 33 dari orang-orang yang disebutkan mengajukan keluhan mengenai Profesor Ahluwalia. Mereka juga menentang penangguhan Profesor Ahluwalia secara penuh karena USP telah memberikan arahan untuk “mengubah kunci pintu kantor kantornya; segera menghentikan akses email USP-nya, dan mengirimkan tim keamanan USP ke rumahnya untuk mengambil sebuah komputer laptop dan telepon seluler yang diberikan kepadanya untuk digunakannya keperluan sekolah.”

Loading...
;

Salah satu kecaman paling keras mengenai penanganan krisis kepemimpinan USP saat ini terjadi akhir pekan lalu, dan datang dari Associate Professor Tarcisius Kabutaulaka, Direktur Pusat Studi Kepulauan Pasifik di Universitas Hawai’i Manoa, yang membagikan pandangan pribadinya sebagai mantan mahasiswa dan anggota staf USP.

Ia menuduh sekelompok kecil orang “dengan sombong and lancang menodai tempat pembelajaran yang suci” untuk Pasifik ini, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-50 dua tahun lalu.

“USP adalah tempat dimana kita belajar berlayar melalui lautan akademis; tempat kita menguji ide-ide; tempat dimana kita berbuat kesalahan dan belajar untuk memperbaikinya; tempat kita bertemu, saling mengenal dan berteman dengan orang-orang dari daerah lain di Oceania; dimana kita pertama kali jatuh cinta dan bercinta untuk pertama kalinya; tempat kita pertama kali mengalami patah hati; dimana beberapa orang bertemu dengan pasangan kita; dimana beberapa orang melahirkan anak pertama kita dan mengubur tali pusar mereka,” tulis Kabutaulaka.

Sebuah petisi dari mantan staf dan alumni USP menyatakan bahwa mereka kecewa melihat menyaksikan antik Thompson dan rekan-rekannya di komite eksekutif di Fiji yang telah mengubah universitas  itu menjadi hina. Penandatangan petisi itu menekankan bahwa mereka “mengetahui kerja keras staf dan ribuan alumni USP dalam membangun reputasinya di Oceania dan sekitar, serta upaya kerja sama regional yang signifikan oleh pemerintah dan masyarakat dari 12 negara anggota, dan Australia dan Selandia Baru, dalam mengembangkan institusi regional itu dan berbagai kampusnya.”

Mereka juga menambahkan bahwa mereka kecewa karena Thompson tidak mematuhi arahan pada Mei 2019 lalu, yang mengarahkan dia untuk bekerja ‘kooperatif dan harmonis’ dengan Ahluwalia demi nama baik dan reputasi universitas itu.

Salah satu isi dari petisi itu mendesak agar Profesor Ahluwalia kembali menduduki jabatannya.

Presiden Aingimea ingin organisasi yang independen mengatur rapat Dewan USP

Presiden Aingimea juga mengindikasikan bahwa ia tidak ingin pertemuan Dewan USP yang penting mengenai krisis ini, yang akan diikuti oleh peserta dari seluruh wilayah Pasifik, sepenuhnya diatur oleh komite eksekutif yang berbasis di Fiji.

Ia mengusulkan agar ada sebuah organisasi independen seperti DFAT dari Australia atau MFAT dari Selandia Baru yang mengatur pertemuan khusus itu, bukan staf pendukung dari USP.

“Untuk alasan transparansi dan keamanan, pertemuan melalui Zoom ini tidak boleh dibahayakan dengan membolehkan staf USP untuk mengatur pertemuan ini,” katanya dalam sepucuk surat pada hari Jumat, dan ia juga lebih memilih jika pertemuan itu dilakukan pada hari Rabu ini, bukan Jumat berikutnya.

Seperti yang dikatakan Profesor Kabutaulaka, dia berharap Dewan USP akan menyelesaikan krisis ini dengan penuh ‘ketekunan, kecerdasan, dan kebijaksanaan.” (Asia Pacific Report)

Dr. David Robie adalah seorang alumni dan mantan kepala program jurnalisme di University of the South Pacific (USP).

Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top