Perkembangan indeks kesejahteraan masyarakat di Pasifik

Anak tangga kesejahteraan Vanuatu, coconut wellbeing ladder. - Vanuatu National Statistics Office (VNSO)
Perkembangan indeks kesejahteraan masyarakat di Pasifik 1 i Papua
Anak tangga kesejahteraan Vanuatu, coconut wellbeing ladder. – Vanuatu National Statistics Office (VNSO)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Luke Kiddle

Semakin banyak perhatian yang diberikan pada indikator-indikator kemajuan dan pembangunan non-PDB di seluruh dunia, termasuk indeks kesejahteraan dan kebahagiaan, yang memiliki arti masing-masing dan diukur melalui berbagai metode. Contohnya, inisiatif How’s life yang diprakarsai oleh OECD, menggunakan model kesejahteraan multidimensi, termasuk indikator yang objektif dam subjektif – memungkinkan perbandingan yang interaktif antara negara-negara dan wilayah-wilayah OECD dalam domain ini.

Seperti yang telah saya bahas sebelumnya, Selandia Baru, secara khusus, telah memperkenalkan pendekatan Whole-of-Government Approach dalam isu kesejahteraan masyarakat, termasuk mengukur domain ini dengan menggunakan adaptasi dari model OECD, Living Standards Framework. ‘Apa yang dapat diukur, dapat dikelola’ adalah mantra dalam wacana kebijakan kesejahteraan masyarakat di Selandia Baru dan di tempat-tempat lainnya.

Kesejahteraan masyarakat yang subjektif – seringkali diukur menggunakan pertanyaan seperti ‘dengan mempertimbangkan semua hal, seberapa puaskah Anda dengan kehidupan Anda secara keseluruhan akhir-akhir ini?’ – dengan sistem poin, berskala 0-10, biasanya disebut survei anak tangga Cantril.

Contoh indeks internasional atas kesejahteraan yang subjektif, atau kebahagiaan, termasuk World Happiness Report atau Laporan Kebahagiaan Dunia, dan Happy Planet Index (HPI). Laporan Kebahagiaan Dunia mengurutkan 156 negara dalam hal kesejahteraan subjektif atau kebahagiaan, sebagian besar data diambil dari Gallup World Poll. Pada 2019, tiga negara teratas adalah Finlandia, Denmark dan Norwegia, dengan posisi negara terendah, mungkin tidak mengherankan, dipegang oleh negara-negara yang mengalami peperangan, Afghanistan, Republik Afrika Tengah, dan, yang paling bawah, Sudan Selatan.

Di sisi lain, indeks HPI, dari New Economics Foundation yang berbasis di Inggris, mengambil pendekatan yang berbeda dan merupakan indeks pertama yang tidak mempertimbangkan faktor moneter sama sekali – mengurutkan peringkat negara berdasarkan empat indikator: kepuasan hidup (life satisfaction), angka harapan hidup (life expectancy), inequality of outcomes, dan jejak ekologi (ecological footprint). Indeks HPI terakhir pada 2016 dari 140 negara dipimpin oleh Kosta Rika, Meksiko, dan Kolombia, sementara Togo, Luksemburg, dan Chad menempati peringkat terbawah. Satu-satunya negara Pasifik yang masuk dalam indeks itu adalah Vanuatu, peringkat ke-4 secara keseluruhan, dan negara pertama dari kawasan Asia-Pasifik dalam indeks HPI 2016.

Loading...
;

Di kawasan Pasifik, Vanuatu telah menjadi pemimpin dalam pengukuran kesejahteraan masyarakat-nya serta menanamkan indikator kesejahteraan itu dalam membuat kebijakan. Inisiatif ‘Alternative Indicators of Wellbeing for Melanesia’, yang sempat dilaporkan di blog ini 2014 lalu, telah dimulai pada 2010, ketika Vanuatu menduduki peringkat atas indeks Happy Planet Index, dan menetapkan tiga domain kesejahteraan masyarakat yang berbeda dan relevan untuk Vanuatu: akses atas tanah adat dan sumber daya alam; kearifan dan praktik tradisional; vitalitas sosial masyarakat (community vitality). Dengan menekankan pertanyaan seperti ‘apa yang Anda perlukan untuk memiliki kehidupan yang baik?’, hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup dan tinggal di tanah adat dan memiliki akses pada SDA, berpartisipasi dalam upacara-upacara tradisional, dan yang merupakan anggota aktif dari komunitas mereka itu, rata-rata, lebih bahagia di Vanuatu. Ada juga kesenjangan geografis yang besar – penduduk di kampung-kampung, misalnya, cenderung lebih bahagia daripada orang ni-Vanuatu yang tinggal di kota-kota besar.

Hal ini memiliki pengaruh yang cukup besar di Vanuatu. Untuk pertama kalinya, kebijakan pemerintah seputar pengobatan dan praktik pengobatan tradisional, pengetahuan tradisional, hak atas tanah ulayat, dan penggunaan bahasa daerah, telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Berkelanjutan Nasional Vanuatu (National Sustainable Development Plan; NSDP) 2016-2030 yang terbaru. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan semua informasi dasar untuk indikator kesejahteraan masyarakat dalam NSDP, untuk itu Kantor Pusat Statistik Vanuatu (Vanuatu National Statistics Office; VNSO) saat ini sedang mengadakan survei di seluruh pelosok negeri. Selain itu, beberapa indikator kesejahteraan Vanuatu telah diadopsi sebagai indikator National Minimum Development oleh Komunitas Pasifik (SPC).

Fiji baru-baru ini melakukan studi percobaan mereka sendiri berdasarkan model yang dikembangkan Vanuatu, sementara PNG, Kepulauan Solomon, dan Kaledonia Baru telah mengembangkan modulnya masing-masing untuk menguji coba indikator mereka, namun belum ada yang mulai. Tetapi di wilayah Pasifik, Vanuatu masih memimpin dalam hal ini.

Saat mengajar mata kuliah tentang kesejahteraan tahun ini, yang mengejutkan bagi saya adalah tidak ada negara-negara Pasifik dalam peringkat-peringkat global. World Happiness Report, misalnya, tidak memasukkan satu pun negara Pasifik. Mengapa? Jawabannya tidak hanya sedikitnya data yang tersedia. Vanuatu, misalnya, sekarang memiliki database yang kaya tentang kesejahteraan subjektif.

Saya menanyai Jamie Tanguay, Koordinator Proyek dari inisiatif Melanesian Wellbeing Indicators di VNSO. Jamie mengungkapkan kepada saya bahwa Gallup World Poll, yang mengumpulkan data dan digunakan dalam menyusun Laporan Kebahagiaan Dunia, telah menginformasikan kepada VNSO bahwa mereka tidak mengumpulkan data untuk negara-negara dengan populasi di bawah 1 juta (janggal, mengingat Islandia, Malta, Siprus, Montenegro, Bhutan, dan Komoro semuanya masuk dalam peringkat Laporan Kebahagiaan Dunia). Gallup World Poll lalu terdiam saat Jamie mengingatkan mereka bahwa PNG, berpopulasi sekitar 8,6 juta jiwa, seharusnya juga dimasukkan. Singkatnya, sulit untuk tidak menarik kesimpulan bahwa Gallup World Poll, dan pada akhirnya, Laporan Kebahagiaan Dunia, tidak terlalu tertarik pada kawasan Pasifik, meskipun sudah ada data yang tersedia dan kemajuan.

Dan bagaimana indeks HPI? Jamie menjelaskan kepada saya bahwa Vanuatu harus melobi agar dapat dimasukkan kembali setelah ia dikeluarkan dari daftar perdana 2006, ketika negara-negara lainnya meyakinkan New Economics Foundation untuk mengasingkan negara-negara dimana penilainya disinyalir dimanfaatkan (saat itu) agar negara-negara dapat masuk dalam peringkat itu, demi meningkatkan citra dan mendorong pariwisata.

Negara-negara Pasifik seharusnya dimasukkan dalam indeks internasional kesejahteraan masyarakat. Tetapi, pada akhirnya, apa yang benar-benar penting dalam pengambilan kebijakan adalah indeks danm domain yang relevan untuk masyarakat lokal dan arti kesejahteraan bagi mereka. Misalnya, Jamie menekankan kepada saya bahwa Vanuatu cenderung menolak narasi negatif yang kadang-kadang digunakan oleh organisasi internasional, untuk berfokus pada topik-topik seperti kemiskinan dan kerawanan pangan (food insecurity), karena ini tidak cocok dengan persepsi di lapangan, yang lebih memilih untuk fokus pada indikator yang penting bagi orang-orang Vanuatu.

Dalam suatu penelitian terbaru tentang konsep kesejahteraan bagi orang-orang Tuvalu, ditemukan bahwa perencanaan pembangunan nasional di Tuvalu sebagian besar menggunakan pemahaman asing tentang kesejahteraan, padahal konsep lokal seperti ‘olaga tokagamalie’ (ketika seseorang merasa aman) dan ‘olaga lei’ (segala sesuatu yang membangun kehidupan yang baik) itu lebih tepat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai dan kepercayaan budaya dan spiritual, keluarga, dan masyarakat adalah kunci dari konsep kesejahteraan orang-orang Tuvalu.

Fokus pada kesejahteraan masyarakat, seperti yang ditunjukkan oleh kepemimpinan Vanuatu di kawasan ini, menyediakan peluang penting untuk memperluas pengambilan kebijakan melebihi sekadar pertumbuhan ekonomi. Seperti yang semakin diakui, baik pengukuran yang objektif dan subjektif diperlukan untuk indeks kesejahteraan yang multidimensi. Selain itu, pemahaman yang relevan dan lokal tentang arti kesejahteraan juga sangat penting. Ada peluang besar untuk mengembangkan pemahaman ini di Pasifik. (Development Policy Centre, Australian National University)


Editor : Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top