Perlu ada peremajaan dusun sagu di Kabupaten Jayapura

Rumah Pengolahan Sagu di Papua
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw meninjau Rumah Pengolahan Tepung Sagu Hele Wabhouw di Kabupaten Jayapura, Papua. - Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Kampung Yoboi, Sefanya Wally mengatakan keberadaan Rumah Pengolahan Tepung Sagu Hele Wabhouw di Kabupaten Jayapura, Papua, berdampak baik, karena membuka lapangan kerja bagi orang asli Papua. Akan tetapi, keberadaan pabrik pengolah sagu itu juga bisa berdampak negatif, karena membutuhkan pasokan sagu dalam jumlah besar.

“Saya ikut dalam peresmian [rumah pengolahan sagu] itu. Direktur pabrik sagu itu mengajak kami jalan-jalan untuk melihat proses pengolahan sagu. Proses [mengolah] 10 batang sagu [bisa selesai] dalam 1 jam,” kata Wally di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Selasa (14/9/2021).

Wally menjelaskan Kampung Yoboi bersama-sama Kampung Simporo dan Babrongko memiliki hutan sagu yang relatif luas, mencapai 36.874 hektar. Dusun sagu ketiga kampung itu merupakan yang terbesar di Kabupaten Jayapura.

Baca juga: Bupati Jayapura ingatkan masyarakat tidak menjual tanah agar hutan sagu lestari

“Ketiga kampung itu seperti adik dan kakak. Lumbung sagu terbesar yang ada di tiga kampung itu. Saya sudah prediksi, apabila sagu hanya ditebang saja, maka dalam jangka waktu 1 atau 2 tahun, pohon sagu sudah habis,” ucapnya.

Wally menyatakan pengambilan pohon sagu dari dusun sagu di Kabupaten Jayapura harus diimbangi dengan upaya peremajaan dusun sagu. Harus ada timbal-balik yang diberikan oleh pihak yang mengambil sagu untuk dusun sagu tersebut.

“Perlu ada peremajaan [hutan] sagu, agar bisa berkelanjutan. Dinas harus punya program yang jelas, kawasan hutan sagu yang jelas, [program penanaman] dalam jumlah besar. Jadi harus ada reboisasi juga penanaman kembali. [Jika] satu pohon [sagu] ditebang, berapa pohon yang harus diganti? Kalau itu tidak dilakukan, percuma bangun pabrik besar seperti itu, ambil bahan bakunya dari mana?” Wally bertanya.

Loading...
;

Menurutnya, masa tumbuh pohon sagu relatif lama. “Sagu yang ditanam itu perlu perawatan. Dalam jangka waktu 15 sampai 20 tahun, sagu sudah bisa dipanen. Jika sagu itu ditebang terus, perlu dipikirkan juga, soalnya proses pertumbuhan itu butuh waktu lama,” ujarnya.

Baca juga: Masyarakat Kampung Yoboi ingin bisa mengolah potensi sagunya

Kerja sama berbagai pemangku kepentingan juga dibutuhkan. “Kami berharap dinas dan kementerian berkolaborasi [dengan] pemerintah kampung, juga pemerintah daerah [di Papua]. Bangun kerjasama agar [peremajaan dusun sagu] tetap berjalan terus,” tuturnya.

Salah satu warga Sentani, Sem Youwe juga khawatir pabrik yang didirikan akan menghabiskan banyak pohon sagu. “Hutan sagu kecil, dan pabrik ini bisa dalam satu jam itu makan 10 batang pohon sagu. Hutan sagu akan bilang kalau tidak ada tindakan lain seperti penanaman kembali,” ucap Youwe.

Ia berharap agar hutan sagu yang tersisa tidak diperjualbelikan, sehingga tidak terjadi alih fungsi lahan. “Cukup sudah, jangan lagi perjualbelikan hutan sagu. Sudah banyak hutan sagu yang gantikan dengan bangunan,” jelas Youwe. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top