Follow our news chanel

Persipura kalah lagi, kali ini manajemen salahkan siapa?

Para pemain Persipura saat bermain imbang dengan tamunya Semen Padang pada pekan ke lima di Stadion Mandala, Jayapura beberapa waktu lalu - Jubi/Roy Ratumakin.
Persipura kalah lagi, kali ini manajemen salahkan siapa? 1 i Papua
Para pemain Persipura saat bermain imbang dengan tamunya Semen Padang pada pekan ke lima di Stadion Mandala, Jayapura beberapa waktu lalu – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Persipura Jayapura kembali menelan kekalahan ketiga pada laga keenam dengan menghadapi tuan rumah Arema FC, Kamis (4/7/2019) dengan skor telak 3-1 di Stadion Gajayana, Malang dalam lanjutan kompetisi Shopee Liga 1, 2019.

Dengan kekalahan tersebut Yustinus Pae dan kawan-kawan baru mengumpulkan tiga poin dari hasil tiga kali imbang dan tiga kali kalah dengan berada di posisi 16 atau bertengger di zona degradasi.

Ini kali kedua Persipura masuk zona degradasi setelah kalah dari PS Tira-Persikabo, namun berhasil keluar setelah bermain imbang dengan Semen Padang FC beberapa waktu lalu di Stadion Mandala Jayapura.

Siapa yang mesti disalahkan dengan kekalahan tersebut? Sepertinya manajemen terlalu cepat mengambil keputusan untuk memecat Luciano Leandro. Seperti tulisan Jubi lalu, bahwa sepenuhnya hasil kurang memuaskan diraih Mutiara Hitam bukan sepenuhnya kesalahan dari sang pelatih, tetapi materi pemain yang sangat tidak mendukung ekspektasi besar dari manajemen Persipura.

Samassa, Conteh, Oh In-Kyun, Olisa, dan Andre Ribeiro merupakan pemain-pemain yang belum bisa memberi kontribusi lebih terhadap tim. Apalagi Samassa, sejak Luciano Leandro menjabat sebagai pekatih, pemain jangkung tersebut masih tetap dimainkan, bahkan laga kontra Arema FC juga sang pemain masih menjadi pemain inti.

Jika ditelisik, ini bukanlah murni kesalahan pelatih, tetapi materi pemain Persipura sudah mentok alias tidak bisa diutak-atik lagi untuk dapat memenuhi semua keinginan dari manajemen. Apalagi saat ini, Persipura selalu kehilangan pemain di laga-laga krusial.

Loading...
;

Laga kontra PS Tira-Persikabo, Persipura harus kehilangan Boaz Solossa. Ternyata sang pemain tidak dimainkan karena melakukan indisipliner sebelum laga dimulai. Kontra Arema, lagi-lagi sang pemain tidak bisa ikut dalam tur, karena mengalami kedukaan. Dan paling miris adalah, Marinus Wanewar harus menepi beberapa bulan karena cidera.

Kalau manajemen selalu dengan ekspektasi juara maka jangan kaget kalau dalam semusim, Persipura bisa melakukan pergantian pelatih hingga dua atau tiga kali. Seharusnya, ekspetasi tersebut sesuai dengan kondisi pemainnya.

Coach Alan Haviluddin usai laga kontra Arema FC mengakui keunggulan tuan rumah karena bisa memanfaatkan tiga peluang mereka menjadi gol, dan pihaknya akan melakukan evaluasi pasca kekalahan tersebut.

“Saya mengucapkan selamat kepada Arema atas kemenangan ini. Kami pada babak pertama terlalu tertekan dengan pressure yang dilakukan pemain Arema. Babak kedua kami sudah bisa bangkit namun hanya bisa memperkecil kedudukan,” kata Alan yang merupakan pelatih kiper Persipura.

Coach Alan Haviluddin dan  Lidyo Sousa didapuk oleh manejemen untuk memimpin Persipura Jayapura melawan Arema sambil menunggu kedatangan pelatih pengganti Luciano Leandro yang telah dipecat sehari setelah bermain imbang dengan Semen Padang FC.

“Saya tidak bisa menjawab apakah penyebab kekalahan ini karena ada transisi pergantian pelatih, tetapi ada kemungkinan benar adanya. Tapi itu bukan menjadi alasan kami kalah di sini,” ujarnya.

Soal rekrutan pemain Persipura yang hingga kini belum memberikan kontribusi, pengamat sepakbola Papua Nico Dimo malah menanyakan sebenarnya manajemen memilih Samassa atas dasar apa? Walaupun bursa pendaftaran pemain sudah di depan mata, tidak seharusnya manajemen gegabah dengan mengambil pemain asing yang performanya jauh dari pemain lokal Papua.

“Kenapa masih saja dipasang Samassa sebagai pemain inti? Dia dari beberapa laga belum bisa menunjukkan kualitasnya. Kalau pelatih bilang Samassa menunjukkan performa bagus saat latihan sehingga dimainkan, kenapa dalam pertandingan tidak dia keluarkab kemampuannya seperti di latihan? Ini menjadi catatan dari pelatih dan juga manajemen,” kata Nico Dimo melalui sambungan telepon selularnya.

Berbicara masalah memanfaatkan pemain muda, kenapa tidak dari jamannya Peter Butler? Pelatih berkebangsaan Inggris tersebutlah yang mulai memakai jasa pemain muda, para pemain senior banyak dicadangkan, salah satunya Boaz Solossa.

Hanya karena sang pelatih terlihat mabuk, manajemen mulai mengambil sikap untuk memecat sang pelatih. Tetapi manajemen lupa bahwa ada pemain-pemainnya juga sering terlibat mabuk namun hanya diberi sanksi larangan bermain tanpa ada tindakan tegas seperti dipecat.

Kalau hanya memecat pelatih tanpa melihat kelakuan pemainnya di luar lapangan, maka jangan harap Persipura akan kembali mengangkat piala diakhir musim kompetisi, begitulah kira-kira pernyataan dari mantan asisten pelatih Persipura, Mettu Dwaramuri.

“Kalau mau juara, bersih-bersih. Manajemen sudah tau apa itu bersih-bersih,” kata Mettu beberapa waktu lalu kepada Jubi melalui sambungan telepon selularnya. (*)

 

Editor: Edho Sinaga

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top