Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Pertanian organik lebih berkelanjutan dan menguntungkan 

: Petani sayur di jalan baru Pasar Youtefa sedang panen kangkung - Jubi/Ramah
Pertanian organik lebih berkelanjutan dan menguntungkan  1 i Papua
: Petani sayur di jalan baru Pasar Youtefa sedang panen kangkung – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Para petani di Jayapura diminta lebih mengembangkan pertanian organik, karena pemakaian pupuk organik lebih berkelanjutan dalam menjaga kesuburan tanah. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Jean Hendrik Rollo di Jayapura, Minggu (10/3/2019).

Rollo menyatakan penggunaan pupuk kimia tidak efektif untuk menyuburkan tanah, karena tanaman hanya akan menyerap sekitar 40 persen dari kandungan kimiawi yang dibutuhkan. Sejumlah 60 persen sisanya akan terbuang serta mencemari lingkungan dan pangan. Akumulasi pencemaran tanah oleh pupuk kimia juga menurunkan kesuburan tanah.

Pertanian organik lebih berkelanjutan dan menguntungkan  2 i Papua

“(Secara jangka panjang, pemakaian pupuk kimia secara terus menerus justru) menghambat produksi. Maka untuk memperoleh tanaman sehat, (dan menjaga kesuburan yang berkelanjutan), petani harus lebih banyak memakai pupuk organik,” kata Rollo.

Rollo menyebutkan akumulasi pencemaran tanah oleh kandungan pupuk kimia dalam jangka panjang bisa membuat tanah pertanian tidak bisa ditanami. Kondisi itu hanya dapat dipulihkan dengan masa jeda, membiarkan lahan pertanian tidak ditanami sehingga kandungan kimia pupuk di tanah itu berkurang. Jika lahan pertanian dipaksakan untuk ditanami, produktifitas panenan turun, dan hasil panen memiliki kandungan gizi yang rendah.

“Tanah yang terlalu banyak tercemari unsur nitrogen dari pupuk kimia misalnya, pada saat kemarau akan membuat tanah kelebihan nitrogen dan menjadi pecah. Penggunaan pestisida kimia juga (hanya menghasilkan keuntungan dalam satu-dua kali panen0, dan secara jangka panjang menambah risiko pencemaran tanah,” kata Rollo.

Rollo menjelaskan pupuk organik bisa dibuat secara mandiri oleh para petani, karena berasal dari sisa tanaman atau sisa kotoran hewan seperti kambing atau sapi. Jika setiap petani menambahkan pupuk organik dalam lahannya pada saat musim tanam, kesuburan tanah akan terjaga secara alami, dan dapat dapat ditanami terus menerus. “Ukuran tingkat kesuburan tanah adalah tingkat produktifitas panenan yang stabil,” kata Rollo.

Loading...
;

Salah satu petani sayuran di jalan baru Pasar Youtefa, Viktor mengaku, semua petani sayuran di wilayah setempat lebih suka menggunakan pupuk organik karena dinilai lebih praktis dalam hal penggunaannya. Akan tetapi, Victor tidak membuat sendiri pupuk organik itu, dan memilih membeli pupuk organik yang telah dikemas.

“Harga satu karung pupuk organik ukuran 50 kilogram harganya Rp20 ribu. Ada pemasoknya. Saya menggunakan pupuk organik padat karena mudah dipakai, tinggal ditabuhkan setelah lahan selesai digarap pasca musim panen. Ada juga jenis pupuk organik cair, yang harus disemprotkan pada waktu tertentu, lebih merepotkan,” kata Victor.

Senada dengan Rollo, Viktor menyatakan penggunaan pupuk organik lebih menguntungkan secara jangka panjang, karena membuat lahan bisa ditanami terus menurut. “Akan tetapi, pemakaian pupuk organik juga harus dikendalikan, kalau terlalu banyak juga mengganggu pertumbuhan tanaman,” kata Victor.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top