Follow our news chanel

Pesan peduli sampah dari pita suara Kopena

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

LAGU-LAGU jazz, hip-hop, dan reggae membakar semangat mereka untuk bernyanyi. Matahari yang memanggang kulit pada pukul 3 sore, Minggu, 14 Oktober 2018, tak dihiraukan. Padahal sehari sebelumnya Nabire diguyur hujan lebat sepanjang hari.

Penonton pun semakin berdatangan tatkala matahari mulai bersandar di punggung bukit. Sembulan cahaya kekuningan menghangatkan suasana sore menjelang malam.

Dari sudut laitan, suara-suara dari pita band Kopena pun menggema. Gema ajakan peduli membuat suara seribuan penonton semakin pecah. 

Kopena atau Komunitas Peduli Nabire adalah sebuah band lokal di "leher" bumi cenderawasih. Komunitas ini getol bersuara untuk Nabire yang bersih dan indah.

"Jangan membuang sampah di sembarangan tempat,” begitu lagu ciptaan A.T. Mahmud yang dilantunkan. 

Comm Band, yang tergabung dalam Kopena melihat situasi kota kecil ini semakin dipenuhi sampah.

Loading...
;

“Terlebih di beberapa ruang terbuka, sampah masih bertebaran. Misalkan di Ruang Terbuka Hijau pantai Nabire,” kata Kurios Duwiri, personil Comm Band.

Bagi Duwiri, Nabire merupakan pintu gerbang wilayah pegunungan, terutama beberapa daerah di wilayah adat Meepago. Oleh karena itu, siapa pun, hendaknya sebisa mungkin bisa mengurangi sampah. Atau membuang sampah pada tempatnya. Dengan demikian kebersihan dan keindahan kota Nabire tetap terjaga.

“Sambil menikmati es buah misalnya, bisa lihat ke laut sambil sesekali melihat turun-naiknya pesawat,” ujar Duwiri, sambil melemparkan senyuman ke arah lautan.

Pria 45 tahun ini berkeyakinan, kebersihan lingkungan dimulai dari diri sendiri. Kepedulian terhadap diri pribadi merupakan modal kepekaan akan lingkungan. Ia bahkan tak menampik anggapan "kebersihan bagian dari iman".

Maka di sinilah perbaikan sikap mental positif sangat dibutuhkan. Tidak hanya duduk, menonton dan menyalahkan pemerintah dan dunia sekitarnya, tetapi juga "bergerak" dan menggerakkan banyak orang, untuk membasmi sampah. 

"(Mereka) yang memproduksi sampah itu manusia, bukan institusi,” ketus Kurios Duwiri.

Ia bahkan mengharapkan agar pesan peduli melalui tembang-tembang yang mereka bawakan, dapat didengar dan dilakukan warga Nabire dan sekitarnya.

“Tidak hanya pengunjung, tetapi penjual pun demikian. Penjual harus menyediakan tempat sampahnya,” kata pria yang menghabiskan sebagian masa hidupnya di Jakarta ini.

Bentot Yatipai, penanggung jawab konser mengatakan konser musik untuk sampah dilakukan untuk menyuarakan bagaimana baiknya menjaga pantai Nabire. 

Bagi Yatipai, musik sangat dekat dengan semua kalangan, dari anak-anak hingga orang muda dan orang-orang tua. Apalagi sebagian besar anggota komunitas yang dipimpinnya adalah anak muda. 

"Maka musik merupakan metode sosialisasi terbaik yang dipilih,” kata Yatipai.

Pria yang saban sore membersihkan pantai Nabire ini berjanji, pihaknya terus mengkampanyekan sampah melalui musik. Tentu tak menutup kemungkinan melalui cara-cara kreatif lainnya. 

"Intinya Nabire harus bebas dari sampah," katanya.

Konser peduli sampah juga dibingkai dengan perlombaan melukis bagi anak-anak. Sedikitnya 25 anak terlibat dalam lomba tersebut.

Salah seorang pengunjung, Sopia Fitriani, mengaku terhibur oleh alunan musik di tepi pantai.

Meski begitu, Sopia prihatin dengan banyaknya sampah di Nabire kota dan kawasan pantainya.

Ia bercerita, para pengunjung di pantai ini kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Bekas-bekas jajanan bahkan berseliweran di areal pantai. Bercampur dengan butir-butir pasir yang sewaktu-waktu disapu gelombang.

"Seharusnya tong-tong sampah disediakan pihak pengelola atau kebersihan kota," kata Sophia Fitriani.

Selain itu, dirinya meminta agar ada peraturan selevel peraturan daerah atau perda yang melarang orang membuang sampah di sembarang tempat. Perda itu juga harus ditegakkan, tanpa pandang bulu.

Untuk diketahui, di areal pantai Nabire, sering ditemukan sampah plastik, botol bekas makanan, dan minuman atau jajanan warga. Begitu pun di bibir pantai.

Selain dibuang warga, sampah-sampah di kawasan pantai dibawa banjir. Ketika sungai Oyehe dan kali Nabire meluap, sampah menumpuk di pantai. Pantai Nabire diapiti sungai ini.

Kondisi tersebut menyebabkan pengunjung tidak nyaman. Mereka kerap menutup hidungnya atau membawa masker ketika ke pantai. Hal itu disebabkan oleh sampah yang bertebaran.

Sumber Jubi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire tak mengetahui volume sampah yang diangkut. Kondisi itu menjadi miris, sebab dinas terkait belum memiliki semacam alat timbang di tempat pembuangan akhir (TPA).

Penanganan sampah di kawasan pantai ditangani BPPRD (Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah) Kabupaten Nabire. Badan ini juga mengurus retribusi parkiran, jualan sekaligus penanganan sampahnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top