Follow our news chanel

Pesepakbola Papua bertaburan, Persipura kesulitan pemain

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Setiap tahun, stok pemain sepakbola berkualitas asal Papua selalu muncul. Di tengah keterbatasan, pesepakbola muda Papua muncul dan membuat publik terhenyak dengan talenta dan skill mereka.

Tidak hanya publik nasional yang berdecak kagum dengan skill dan kemampuan pesepakbola Papua, dunia Internasional ikut mengakuinya. 

Rully Rudolf Nere, Yohanes Auri, Elie Aiboy, Aples Tecuari, Ronny Wabia, Jack Komboy, Ronny Wabia, Chris Yaranngga, Eduard Ivakdalam, Erol Iba, Alex Pulalo, Ortizan Solossa, Cristian Warobay, Gerald Pangkali merupakan nama-nama yang lahir dari rahim Papua yang terkenal pada masanya baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kini, era baru bermunculan dan disandingkan dengan nama besar Boaz Solossa. Mereka diantaranya Patrich Wanggai, Titus Bonai, Yanto Basna serta Osvaldo Haay.

Dari sederat nama tersebut masih ada yang berlabuh diklub Barito Putra diantaranya Andri Ibo, Donni Haroid Monim, Roni Esar Felix Beroperay, dan Yakop Sayuri. Di Persebaya ada Nelson Alom, Ricky Kayame, Osvaldo Haay, dan Ruben Sanadi, di Kanteng Putra ada Ferinando Pahabol.

Sedangkan di Madura United ada Fandri Imbiri, Engelbert Sani, dan Marco Meraudje serta di Pusam Mania ada Terens Puhiri.

Loading...
;

Daerah yang sempat bernama Irian jaya ini sudah tak diragukan lagi menjadi penghasil pesepakbola berbakat yang setara dengan provinsi di kepulauan Maluku. Secara georafis, Maluku dan Papua memang sama-sama berada di Indonesia bagian timur.

Bakat alam dalam bersepakbola mereka memang sudah terbukti dan teruji. Tidak seperti Maluku yang tak memiliki klub profesional, Papua memiliki salah satu klub paling hebat dalam sejarah persepakbolaan profesional Indonesia.

Persipura Jayapura adalah lambang kebesaran dari Papua itu sendiri. Empat gelar Liga Indonesia (kompetisi resmi) ditambah satu gelar ISC A 2016 lalu adalah bukti dari kehebatan sepakbola Papua. Belum lagi, kapten tim nasional Indonesia saat ini adalah putra Papua yaitu Boaz Solossa.

Bahkan, skuad Persipura dan klub lainnya seperti Perserui, Persidafon atau Persiwa memang kerap diisi dengan talenta lokal sendiri.

 

Persipura kesulitan pemain

Memasuki kompetisi Liga 1 2018, Persipura harus ditinggalkan sejumlah pemain muda berbakatnya. Eksodus besar-besaran menimpa klub berjuluk Mutiara Hitam tersebut membuat Persipura sedikit kelimpungan dalam mengarungi kompetisi.

Kelimpungan tersebut bukan hanya datang dari jajaran pemain tetapi dari sang arsitek pun terjadi hal yang sama. Tambal sulam pelatih pun dilakukan manajamen. Imbasnya, Persipura harus finis di urutan 12 klasemen akhir. Ini prestasi yang buruk semenjak berkuasa di sepakbola Indonesia sejak 2005 silam.

Nico Dimo salah satu mantan pemain Persipura Jayapura yang juga pengamat sepakbola Papua mengatakan, Papua selalu melahirkan talenta sepakbola yang tidak kalah dengan daerah lain. Bakat alamnya selalu memberikan nilai tersendiri, namun sayang, klub-klub di Papua tidak selalu memaksimalkan bakat-bakat muda tersebut.

“Dulu Persidafon, Persiwa, dan Persipura banyak mengandalkan pemain-pemain Papua. namun kini, klub-klub tersebut seperti kehilangan pemain-pemainnya. Banyak pemain muda Papua harus memilih klub diluar Papua,” kata Nico Dimo kepada Jubi, Selasa (22/1/2019) melalui sambungan telepon selularnya.

Kata Dimo, ada beberapa alasan para pemain tersebut memilih berkarir di klub lain. Pertama, klub asalnya tidak memberikan kesempatan kepada pemain tersebut untuk merasakan sebuah pertandingan.

“Sebagai pemanas bangku cadangan imbas mereka keluar,” ujarnya.

Kedua, manajemen tidak memberikan mereka kontrak yang panjang. Kata Dimo, ini alasan banyak pemain muda Papua memilih berkarir di klub lain karena durasi kontrak hanya setahun. Padahal potensi mereka sama dengan senior-senior mereka.

“Ketiga, nilai kontrak tidak sesuai dengan kualitas yang dimiliki pemain tersebut. Sebagian besar klub di luar Papua berani membayar mahal pemain-pemain Papua karena mereka cukup menghargai potensi dan skil para pemain tersebut,” katanya.

 

Sponsor enggan bekerjasama

Menurut Sekretaris Persipura Jayapura Rocky Bebena mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan perusahaan lain selain Bank Papua dan Freeport namun hingga kini belum ada jawaban.

"Ada beberapa sponsor yang sampai saat ini masih mempertimbangkan soal bagaimana tindak lanjut atau peningkatan penjualan produk dari sponsor tersebut di Papua. Contohnya Nestle, mereka juga mempunyai keinginan untuk bekerjasama dengan Persipura tetapi nilainya tidak sesuai dengan yang kita harapkan," katanya.

“Ketika kita meminta nilai tinggi, pihak Nestle berasumsi berapa kira-kira ketika Nestle beri sponsor sekian, berapa peningkatan produk yang dapat dijamin oleh Persipura yang dijual di Papua. Secara perhitungan bisnis itu yang dihitung sama pihak Nestle," ujarnya.

Hitung untung rugi tetap dilakukan oleh pihak pemberi sponsor. Apa keuntungan yang diperoleh pemberi sponsor, karena pihak sponsor tidak akan begitu saja memberikan supporting investment apabila tidak mendapatkan benefit yang rasional buat brand/produknya. Ini terjadi pada Nestle. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top