TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Pesona wisata Waibhu belum mendapat sentuhan pemerintah

Tempat wisata di Papua
Tempat wisata baru Tanjung Yundeerei di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Papua. - Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Papua, memiliki sejumlah tempat wisata yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat sebagai pemilik hak ulayat. Sejumlah destinasi wisata di Distrik Waibhu itu belum mendapat sentuhan pemerintah.

Salah satu destinasi wisata yang dikelola masyarakat adat adalah Bukit Tungkuwiri, atau biasa disebut Telletubies. Selain itu, juga ada Tanjung Yundeerei (Taman Cinta) di Kampung Doyo Lama, Bukit Salib di Kampung Sosiri, Bukit Yotoro di Kampung Kwadewar.

Salah satu destinasi wisata yang kurang terawat adalah Bukit Tutari. Bukit Tutari merupakan tempat bersejarah, karena ada situs megalitik di atas perbukitan tersebut.

Baca juga: Pemkab Jayapura akan ambil kembali pengelolaan situs megalitik Tutari

Ada juga Tanjung Yundeerei, yang terletak 1 kilometer arah barat Bukit Tungkuwiri, dan menjadi tempat para penikmat panorama Danau Sentani. Tanjung Yundeerei itu juga dikelola secara swadaya oleh pemilik hak ulayat, dan berfungsi sebagai tempat wisata sejak November 2020 lalu.

Pengelola tempat wisata Bukit Yundeerei, Junand Marweri mengatakan ide merenovasi tanjung tersebut menjadi tempat kunjungan wisata lahir begitu saja. “Tempat ini awalnya hanya ditumbuhi semak belukar dan pohon-pohon. Coba-coba bersihkan saja, akhirnya jadi seperti ini,” ujar Marweri saat ditemui di Bukit Yundeerei, Kampung Doyo Lama, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (22/3/2021).

Marweri mengatakan ia mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk menyediakan tempat dan fasilitas yang sederhana bagi pengunjung. “Tempat duduk atau para-para yang terbuat dari sisa batang pohon, ayunan, dan meja yang terbuat dari kayu bekas, agar pengunjung bisa nyaman untuk menikmati pemandangan Danau Sentani,” ungkapnya.

Kini Bukit Yundeerei telah dilengkapi lahan parkir, kafe sederhana yang menyediakan aneka kebutuhan para pengunjung seperti kopi, teh, mi rebus, kue, dan kripik. “Untuk kendaraan roda dua kami kenakan biaya parkir sebesar Rp5.000, dan Rp10 ribu untuk kendaraan roda empat. Sehari [pendapatan kami] bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp700 ribu dari tempat parkir,” jelasnya.

Baca juga: Dikelola masyarakat adat, Pemkot Jayapura tak bisa pungut retribusi di obyek wisata

Marweri berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dalam peningkatan pengelolaan tempat wisata itu. “Lampu jalan untuk menuju ke sini, bahkan untuk penerangan jalan bagi kampung-kampung di pesisir Waibhu, belum ada. Kita sediakan tempat wisata, tetapi kenyamanan juga harus diperhitungkan,” ucapnya.

Salah satu pengunjung Bukit Yundeerei, Albert Ongge bercerita ia datang ke sana untuk mengabadikan panorama Danau Sentani. Ia mengaku sangat terkesan dengan tempat wisata yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.

“ Karena dikelola secara swadaya, sebagai pengunjung saya cukup menikmati keindahan alamnya. Ibarat kami berada di rumah masing-masing, karena fasilitas yang disiapkan di sini masih alami, memanfaatkan potensi alam yang tersedia. Bersih, rapi dan sejuk,” pungkasnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us