Pesta adat tandai pelepasan arwah orang meninggal

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SEJUMLAH sesepuh Distrik Tabonji, Kabupaten Merauke sedang duduk bersila di bawah tenda, beralaskan sehelai baliho. Tampak mereka serius membicarakan suatu hal penting, sehubungan dengan rangkaian acara  pesta adat memperingati 1.000 hari meninggalnya keluarga.

Sementara di halaman sekitar, tepatnya di rumah Bartolomeus AY Yawiwa, Jalan Muting-Polder, Kelurahan Maro, terdapat onggokan hasil alam yang ditumpuk mulai dari kumbili, ubi jalar, pisang, sagu, maupun wati.

Sejumlah anak muda terlihat sibuk memasang tenda dan mengatur kursi untuk persiapan pesta adat yang akan berlangsung sebentar sore hingga pagi nanti.

Seorang sesepuh Distrik Tabonji, Antonius Cabui, kepada Jubi, Selasa 13 November 2018, menjelaskan hari ini adalah pesta adat bagi keluarga yang telah meninggal dunia. Dimana, keluarga yang masih hidup membebaskan arwah untuk diserahkan kepada Tuhan.

“Kami melepaskan arwah kepada Tuhan melalui pesta adat atau diistilahkan 1000-2000 hari mereka yang telah meninggal dunia,” katanya.

Dalam pesta adat, demikian Cabui, dua kampung akan bermain Ndambu dengan memamerkan sejumlah potensi alam yang telah dikumpulkan. Sebagai tuan rumah adalah dari Kampung Konjombando.

Loading...
;

Dijelaskan, soal kalah atau menang dalam pesta Ndambu, tak dipersoalkan. Tetapi intinya mereka memamerkan hasil alamnya, apakah sesuai atau tidak.

Hasil yang ditumpuk itu, jelas dia, akan dibagikan kepada mereka yang diundang mengikuti pesta adat dimaksud. Jadi untuk mengatur adalah  dua kampung tersebut.

“Banyak atau sedikit hasil alam yang dipamerkan, dibagi merata untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing,” ujarnya.

Dikatakan, biasanya pesta adat seperti begini, berlangsung rutin setiap tahun dan dilaksanakan bulan Agustus atau Oktober. Hanya baru berjalan sekarang, lantaran ada halangan selama beberapa kali, sehingga mengalami penundaan.

Cabui juga mengatakan selain hasil alam, juga dua ekor babi dipersiapkan serta wati yang diistilahkan sebagai kepala pesta.

“Sesuai tradisi, salah satu jenis tanaman berupa wati itu, menjadi tolak ukur pelaksanaan pesta adat. Tanpa tanaman dimaksud, dipastikan pesta dibatalkan,” tegasnya.

Jadi menurutnya, saat akan direncanakan untuk dilangsungkan pesta adat seperti begini, ditanyakan terlebih dahulu kepada keluarga apakah wati telah disiapkan atau tidak.

“Jika keluarga menyatakan ada, diatur kapan waktu pesta adat dilangsungkan,” ujarnya.

Meskipun berbagai persiapan telah dilakukan mulai dari hasil alam yang ditumpuk banyak, namun kalau tanpa wati, dipastikan acara dibatalkan.

“Dengan wati juga, masyarakat dapat bermain si’i dari malam sampai pagi hari,” tuturnya.

Ditanya dari mana hasil alam didapatkan, Cabui mengaku ditanam sendiri masyarakat. Nantinya besok akan dibagi merata ke setiap orang, terutama yang mendapatkan undangan.

Fransiskus Yawiwa, tokoh masyarakat Tabonji, mengaku, penyerahan arwah kepada Tuhan ditandai dengan istilah main si’i sampai pagi. Puncaknya adalah dengan pembongkaran hasil alam yang ditumpuk sekaligus dibagikan.

Lalu, jelas dia, babi dua ekor tersebut, dibunuh dan akan dibagikan oleh dua kampung yang bertarung dalam Ndambu.

Ditambahkan, masih ada beberapa rangkaian acara pagi yakni anak-anak berusia 8-9 tahun, digosokan arang di bagian tubuh mereka sebagai simbol memasuki masa puber.

Beberapa mata acara lain dilakukan termasuk tusuk telinga kepada anak-anak perempuan berusia 4-8 tahun.

“Jadi, anak-anak duduk di atas babi yang telah dibunuh, lalu telinganya ditusuk. Namun sebelum dilakukan, harus mendapatkan banyak nasehat terlebih dahulu,” ungkapnya.

“Begitu juga tidak sembarang orang yang menusuk telinga kepada anak-anak perempuan. Sudah ada orang khusus dipercayakan selama ini,” ujarnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top