Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Petugas sensus data tunawisma di Sentani

Papua
Petugas sensus mendata warga tunawisma di Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa malam (15/9/2020) - Jubi/Engelbert Wally.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Petugas Sensus Penduduk 2020 mendata para tunawisma di Sentani, Kabupaten Jayapura. Mereka menyusuri kawasan eks Pasar Lama Sentani, Pasar Pharaa, dan Jembatan Abeale.

Pendataan berlangsung sekitar pukul 21.30 hingga dini hari waktu Papua, Rabu (16/9/202). Pelaksanaan pendataan tersebut menyesuaikan kondisi di lapangan.

“Aktivitas masyarakat mulai sepi pada malam hari sehingga para tunawisma mudah dijumpai (untuk didata). Mereka berada (beristirahat) di pojok bangunan atau di pintu masuk pasar,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayapura Jeffry de Fretes, di sela pendataan.

Petugas sensus data tunawisma di Sentani 1 i Papua

Petugas mendata sebanyak 11 tunawisma di Pasar Pharaa, serta masing-masing dua tunawisma di eks Pasar Lama Sentani, dan Jembatan Abeale. Mereka terdiri atas warga berusia dewasa dan anak.

“Berdasarkan informasi awal sebenarnya ada 16 tunawisma di Pasar Pharaa, tetapi hanya 11 yang berhasil didata. Sementara itu, di eks Pasar Lama Sentani ada enam tunawisma, tetapi hanya dua yang berhasil didata,” jelas Jeffry.

Dia mengatakan pendataan tersebut penting bagi pemerintah setempat untuk mendukung pengawasan dan pembinaan terhadap para tunawisma. Itu termasuk, di antaranya perlindungan terhadap perempuan dan anak.

“Dari pengakuan mereka, kebanyakan (anak jalanan/tunawisma) berasal dari keluarga yang orangtuanya bercerai. Ada juga yang kedua orangtuanya telah meninggal atau menumpang pada keluarga, tetapi tidak mendapat perhatian (dinafkahi kebutuhan hidupnya),” ungkap Jeffry.

Loading...
;

Mumpung jumlah tunawisma belum terlampau banyak di Sentani, Jefrry berharap pemerintah setempat bergerak cepat dalam mengatasi permasalahan sosial tersebut. “Mereka yang kami data itu semuanya Orang Asli Papua. Beberapa di antara mereka tinggal dan sering tidur di kolong jembatan (pada malam hari).”

Salah seorang tunawisma itu berinisial RO. Bocah tersebut mengaku hidup menggelandang karena ditinggal orangtuanya yang bercerai.

“Saya tinggal bersama nenek, tetapi jarang pulang ke rumah.  Setiap malam saya bersama beberapa teman tidur di bawah jembatan,” katanya.

RO memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi juru parkir di salah satu ruko di Sentani. Dia juga turut menafkahi neneknya. “Setiap ada kelebihan uang, saya beli sayur dan beras untuk nenek di rumah.” (*)

 

Editor: Aries Munandar

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top