Follow our news chanel

Previous
Next

PM Fiji tegaskan pentingnya multilateralisme

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama berpidato dihadapan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. - The Diplomat/ Foto PBB/Evan Schneider

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Grant Wyeth

Dari Covid-19 sampai perubahan iklim, isu-isu global yang paling mendesak – dan yang paling mengkhawatirkan bagi negara-negara Kepulauan Pasifik – hanya dapat dihadapi dengan baik jika ada upaya bersama.

Dalam sambutannya baru-baru ini di hadapan sidang Majelis Umum PBB, Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, meminta negara-negara lain untuk melanjutkan komitmen mereka terhadap forum-forum multilateral seperti PBB. Terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir bawa multilateralisme semakin sering ditekan dari berbagai sisi. Namun perubahan ini semakin terbukti sejak merebaknya pandemi Covid-19, dimana, menurut Bainimarama, kerja sama internasional semakin terbatas dan mengindikasikan kurangnya rasa kepercayaan dan kepemimpinan global. Untuk negara-negara berkembang kecil di Kepulauan Pasifik, ini adalah perubahan yang sangat memprihatinkan, dan, menurut Bainimarama, perlu dibicarakan.

Negara-negara berkembang kecil sering menggunakan lembaga-lembaga multilateral sebagai cara untuk menggabungkan kepentingan bersama mereka dengan negara-negara lain yang juga menginginkan solusi yang sama, atau dengan negara yang menghadapi masalah serupa. Jika sendiri, negara-negara seperti Fiji dan tetangga-tetangganya di Kepulauan Pasifik tidak memiliki kekuatan untuk memastikan isu-isu yang penting bagi mereka dapat dimajukan; akan tetapi, jika negara-negara yang lebih kecil dapat bermitra dengan banyak negara dengan kekhawatiran yang sama, dan bisa memajukan isu-isu ini secara kolektif melalui lembaga-lembaga internasional, maka mereka dapat meningkatkan kekuatan mereka menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan suara mereka sendiri-sendiri. Dunia di mana kerja sama seperti ini semakin terbatas adalah dunia yang jauh lebih ditempuh oleh negara-negara seperti Fiji.

Namun dalam pidatonya, Bainimarama menekankan bahwa bukan hanya negara-negara kecil yang diuntungkan dengan berkomitmen untuk memperjuangkan kepentingannya melalui forum-forum seperti PBB. Seraya mengingatkan bahwa sudah 50 tahun berlalu sejak Fiji mencapai kemerdekaannya dan bergabung dengan PBB sebagai anggota penuh, Bainimarama menekankan bahwa: “Fiji menyadari bahwa lebih banyak keuntungan yang kita nikmati sebagai bagian dari majelis ini daripada yang dapat kami berikan. Namun faktanya hal ini tidak hanya menguntungkan negara-negara berkembang kecil di dunia – hal yang sama dapat dirasakan bahkan untuk bangsa-bangsa yang besar di antara kita. Setiap bangsa, besar dan kecil, memiliki peluang untuk mencapai masa depan terbaik kita dengan bertindak dalam solidaritas.”

Persaingan yang semakin tajam antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah membutakan kedua negara adikuasa ini terhadap kebijaksanaan yang dibahas Bainimarama dalam pengamatannya. Sementara kekuatan-kekuatan besar ini semakin berupaya untuk bertindak secara sepihak, kerangka kerja yang sudah berkembang sejak pertengahan abad ke-20 ini – kerangka kerja yang telah memberikan kesempatan bagi Fiji agar suaranya dapat didengarkan – ditakutkan akan semakin hancur. Ini adalah perubahan yang membawa konsekuensi yang berbahaya.

Loading...
;

Bainimarama menekankan ada dua persoalan mendesak saat ini, keduanya ini penting bagi Fiji dan diperlukan komitmen global dalam multilateralisme agar dapat diselesaikan.

Masalah pertama adalah pandemi yang sedang terjadi saat ini. Bainimarama menyampaikan keprihatinannya bahwa vaksin Covid-19 hanya akan didapatkan oleh mereka yang mampu secara finansial. Meskipun Australia telah mengisyaratkan kehendaknya untuk membantu negara-negara tetangganya di Pasifik, tidak mengejutkan jika Bainimarama masih khawatir bahwa dampak pandemi bisa menyebabkan perilaku keakuan dan tidak saling percaya, yang menyebabkan negara-negara kecil di seluruh Kepulauan Pasifik diabaikan dalam upaya global untuk mendapatkan akses ke vaksin.

Persoalan lainnya yang diangkat Bainimarama adalah salah satu yang tampaknya telah diabaikan oleh pandemi, dan satu masalah yang masih sangat penting bagi Fiji dan tetangga-tetangganya di kawasan Pasifik: perubahan iklim. Sifat perubahan iklim yang global dan lintas negara sangat dipahami oleh negara-negara Kepulauan Pasifik. Kontribusi negara-negara kecil ini dalam hal emisi gas rumah kaca (GRK) global sangat kecil, tetapi mereka dihadapkan dengan dampak perubahan iklim yang signifikan. Tidak ada solusi terhadap perubahan iklim yang dapat diupayakan sendiri oleh negara-negara Kepulauan Pasifik; mereka memerlukan komitmen dan kerja sama dari negara-negara penghasil emisi GRK yang besar, bekerja bersama-sama satu sama yang lain.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengundurkan negaranya dari Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim telah menimbulkan kekhawatiran besar di Pasifik. Penting sekali bagi negara-negara Pasifik agar AS tidak hanya menanggapi masalah ini dengan serius, tetapi untuk menunjukkan kepemimpinan dalam forum multilateral dan melakukan mitigasi pada dampak perubahan iklim. Janji mantan Wakil Presiden Joe Biden untuk kembali bergabung dengan Perjanjian Paris jika ia memenangkan pemilihan presiden AS bulan depan disambut dengan baik di seluruh pelosok Pasifik.

Negara-negara besar ini memiliki tanggung jawab untuk tetap menjaga komitmennya pada lembaga-lembaga multilateral ini, untuk memimpin upaya global dalam mencari konsensus bersama dan menggunakan kekuatan mereka untuk mendorong solusi yang sulit namun penting dari isu-isu seperti perubahan iklim. Mengabaikan institusi-institusi ini akan mendorong dunia semakin dekat pada kekacauan. Pernyataan Perdana Menteri Bainimarama adalah tanda bahwa negara-negara Kepulauan Pasifik masih tetap berkomitmen pada multilateralisme dan forum global, tidak hanya untuk kepentingan pribadinya, tetapi sebagai pengakuan bahwa dua tantangan terbesar bagi dunia saat ini hanya dapat diselesaikan melalui kerja sama global. (The Diplomat)

Grant Wyeth adalah seorang analis politik di Melbourne dengan spesialisasi untuk Pasifik, India, dan Kanada.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top