PM PNG segera hadapi mosi tidak percaya

Pemimpin oposisi PNG, Belden Namah, merampungkan parlemen pada hari Kamis (12/11/2020) setelah mendapatkan dukungan dari menteri-menteri dan MP pemerintah untuk memblokir anggaran dan menggulingkan James Marape. - The Guardian

Papua No.1 News Portal | Jubi

Port Moresby, Jubi – Papua Nugini bisa melantik pemerintah yang baru setelah sejumah anggota parlemen (MP) pemerintah – termasuk sembilan menteri – meninggalkan kubu Perdana Menteri James Marape untuk bergabung dengan oposisi.

Kubu oposisi mengambil kendali parlemen nasional pada Kamis (12/11/2020), dan berhasil menang dalam menangguhkan parlemen dengan suara 57-39, nampaknya untuk memblokir anggaran pemerintah, tetapi yang lebih penting adalah menggeser Marape.

Dengan memenangkan suara itu, parlemen PNG telah ditangguhkan sampai 1 Desember, dimana mosi tidak percaya akan diajukan terhadap Marape.

Kepemimpinan Marape yang singkat tampaknya terancam, dan dia mungkin akan segera dicabut dari jabatannya oleh berbagai kekuatan oposisi yang bergabung untuk melawannya.

Kritik terhadap Marape, khususnya dari pemimpin oposisi Belden Namah, menuduhnya tidak memenuhi janji-janjinya akan reformasi korupsi dan pembangunan ekonomi, dan memimpin pemerintah dengan slogan-slogan kosong seperti “take back PNG” atau berjanji untuk menjadikan PNG ‘Bangsa Kristen kulit gelap terkaya’ di dunia.

Marape juga dikritik karena belum menyelesaikan kasus dan mengamankan pelaku yang bertanggung jawab atas pembantaian di Tari tahun lalu, di mana 18 perempuan dan anak-anak terbunuh, meskipun ia sudah berjanji akan menghentikan konflik antar suku dan pembunuhan terkait sihir.

Loading...
;

Ia juga mendukung proyek penambangan bawah laut di Laut Bismarck yang mahal dan gagal, dan berupaya untuk menasionalisasi tambang Porgera yang juga dianggap sebagai kegagalan yang signifikan.

Di bawah konstitusi PNG, suatu pemerintah yang baru diberikan masa tenggang selama 18 bulan setelah dipilih sebelum mosi tidak percaya dapat diajukan terhadap perdana menterinya. Marape menjadi perdana menteri PNG pada Mei 2019. Dengan ini, masa tenggang Marape berakhir pada 30 November, tetapi oposisi, yang kini didukung oleh sejumlah anggota pemerintah yang hengkang, telah berhasil memblokir anggaran tahunan yang diajukan pemerintah.

Marape telah kehilangan pendukung utamanya, termasuk wakil PM, Sam Basil, Menlu Patrick Pruaitch, dan Menteri Perdagangan, William Duma.

Namun ia berjanji bahwa ia akan terus berjuang, menegaskan “hal ini belum berakhir sampai semuanya berakhir”, dan mengungkapkan bahwa dia sedang berusaha mengumpulkan dukungan agar dapat mengamankan 56 suara yang dibutuhkan untuk memegang kekuasaan. (The Guardian)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top