Follow our news chanel

Previous
Next

PNG harus bersiap-siap untuk negosiasi referendum Bougainville

Staf lapangan menghitung surat suara saat referendum Bougainville di Buka. - Reuters/Jeremy Miller
PNG harus bersiap-siap untuk negosiasi referendum Bougainville 1 i Papua
Staf lapangan menghitung surat suara saat referendum Bougainville di Buka. – Reuters/Jeremy Miller

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Shane McLeod

Hasil referendum Bougainville 2019 adalah pernyataan yang tegas dan tidak ambigu: 97,7% orang Bougainville ingin masa depan politik sebagai negara yang independen dari Papua Nugini (PNG). Perjanjian Perdamaian yang telah memandu proses sampai pada titik ini menetapkan bahwa konsultasi antara kedua pemerintah adalah langkah selanjutnya dalam menindaklanjuti hasil referendum.

Menjelang proses konsultasi, yang akan dimulai pada awal Maret, Bougainville telah mulai dengan menjawab pertanyaan penting tentang siapa yang akan memimpin wilayah otonomi tersebut, sementara Bougainville memetakan masa depannya yang berdaulat.

Pemilihan umum presiden dan dewan perwakilan rakyat Bougainville dijadwalkan untuk dilaksanakan pada pertengahan tahun ini. Pemungutan suara untuk memilih presiden sangat penting, karena siapa pun yang akhirnya memimpin Bougainville, akan membentuk perbincangan yang akan datang dan berapa cepatnya konsultasi itu.

Presiden Bougainville yang saat ini memimpin, John Momis, telah mencapai batas maksimum masa jabatan presiden sesuai konstitusi. Tetapi ada upaya pada detik-detik terakhir untuk mengubah konstitusi dan memungkinkan Momis agar bisa maju dalam pemilu, dan mungkin memandu proses negosiasi yang akan datang mengenai kemerdekaan Bougainville.

Desakan untuk mengubah konstitusi Bougainville didukung banyak pihak, karena Momis adalah salah satu pemimpin pro-kemerdekaan awal Bougainville dan tokoh penting dalam penyusunan konstitusi PNG. Jika dia yang langsung memimpin negosiasi kemerdekaan, ini akan menempatkan Bougainville di tangan pemimpin yang tenang dan berpengalaman.

Loading...
;

Tetapi kritiknya berpandangan bahwa sudah waktunya bagi mantan pastor Katolik itu, untuk mundur dan membiarkan generasi pemimpin yang baru untuk membawa Bougainville maju. Akhir pekan lalu, proposal amendemen Konstitusi tersebut ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat Bougainville, yang berarti saat ini, tampaknya tidak ada jalan lagi bagi Momis untuk maju dalam pemilu berikutnya.

Ada juga pertanyaan-pertanyaan krusial seputar bagaimana separasi dari PNG akan dilakukan, dan hubungan seperti apa yang akan dimiliki Bougainville yang baru merdeka dengan Port Moresby.

Di sisi PNG ada beberapa pertanyaan sulit yang juga harus dipertimbangkan juga. Gagasan Bougainville sebagai bangsa yang merdeka sudah di depan mata selama lima dekade, bahkan sebelum PNG menjadi negara yang merdeka dari Australia pada 1975. Tetapi sebagai isu yang sudah menjadi bagian besar dari dunia politik PNG selama bertahun-tahun, sangat mengejutkan melihat minimnya perdebatan tentang bagaimana proses perpisahan akan terjadi, dan seperti apa keadaan negara itu setelahnya.

Pemerintah PNG memiliki dua tugas utama dalam mempersiapkan konsultasi. Yang pertama adalah menerima hasilnya dan menindaklanjutinya. Perdana Menteri PNG James Marape memberikan komentar yang menenangkan segera setelah menerima hasil referendum. Namun komentar-komentar Marape sejak itu mensinyalir bahwa suara Bougainville yang pro-merdeka dapat ditafsirkan semata-mata karena alasan ekonomi dan bukan politik. Pandangan ini mungkin tidak akan banyak disetujui di Bougainville.

Hasil referendum yang luar biasa ini menegaskan bahwa kelompok apa pun yang mungkin ada di masa lalu yang mendukung agar Bougainville tetap menjadi bagian dari PNG, sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak ada alasan yang berintegritas bagi PNG sekarang untuk menghalangi kemerdekaan Bougainville.

Berbagai pertanyaan yang rumit akan bermunculan, seperti: di mana perbatasan negara akan digaris, pengaturan keamanan dan imigrasi, transportasi, perbankan, proses keuangan dan hukum. Ada banyak masalah yang harus diselesaikan, tetapi semuanya adalah masalah praktis yang dapat diselesaikan selama ada komitmen untuk bernegosiasi.

Tantangan yang lebih mendasar bagi PNG adalah untuk mencerna dan merespons pada hasil referendum, sambil terus mengingat dampak politik dalam negerinya sendiri. Hasil referendum telah mengecilkan posisi pemerintah nasional. Mantan Perdana Menteri PNG, Sir Julius Chan, sekarang Gubernur Provinsi New Ireland di PNG, telah mengindikasikan bahwa keluarnya Bougainville dapat mendorong provinsi lain juga mempertimbangkan untuk melepaskan diri dari PNG.

Dan siapa yang bisa menyalahkan mereka? Penyediaan layanan dasar dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kepolisian gagal total. Warga negara PNG bisa melihat sendiri minimnya manfaat menjadi bagian dari sebuah sistem yang semakin tidak terlihat dalam kehidupan mereka.

Beberapa provinsi sudah mulai menyelesaikan masalah-masalah secara terpisah dari Port Moresby. Provinsi East Sepik mungkin, adalah contoh yang paling menonjol. Deklarasi provinsi itu baru-baru ini tentang tanggapan karantina terhadap wabah virus corona yang baru, menunjukkan bahwa pejabat pemerintah lokal merasa diberdayakan untuk bertindak ketika pemerintah nasional absen.

Otonomi provinsi-provinsi sudah menjadi isu yang meluas dalam politik PNG selama beberapa tahun terakhir. Perdana Menteri sebelum James Marape, Peter O’Neill telah memulai dasar agar pemerintah provinsi meningkatkan peran mereka menjadi lebih besar, melalui janji-janji otonomi, tetapi hanya ada sedikit indikasi bahwa itu akan direalisasikan sejak O’Neill mengundurkan diri.

Untuk meningkatkan integritas nasional PNG setelah pemungutan suara dalam rangka menentukan nasib politik Bougainville, perlu ada percakapan yang tegasnya dan realistis tentang prioritas, sumber daya, dan realitas apa yang dapat dan harus dilakukan oleh pemerintah PNG.

Negara-negara asing yang telah menjadi bagian dari proses perdamaian Bougainville, seperti Australia dan Selandia Baru, sekarang memiliki kesempatan untuk membantu kedua sisi dalam diskusi ini. Di Bougainville, negara-negara luar dapat memiliki hubungan yang lebih terbuka dan langsung, dan mulai membentuk hubungan mereka dengan Bougainville yang terpisah dari pekerjaan mereka di PNG. Di PNG, mereka dapat menjadi bagian dari perbincangan yang diperlukan tentang peran pemerintah, dan perubahan peran harus dimainkan PNG untuk memastikan keberhasilan negara itu ke depannya. (East Asia Forum)

Shane McLeod bekerja sebagai peneliti di Australia–Papua New Guinea Network di Lowy Institute.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top