Polisi selidiki dugaan keterlibatan aparat dalam kasus kematian Ipnun  

Papua
Pertemuan dengan pihak keluarga Michael Ipnun, yang difasilitasi SKP Keuskupan Agung Merauke, kemarin malam - Ist.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Merauke, JubiPolres Merauke masih mendalami dugaan keterlibatan personel mereka dalam tindak penganiayaan berat yang menewaskan Michael Ipnun. Seksi Profesi dan Pengamanan atau Propam telah diperintahkan mengumpulkan informasi dan bukti-bukti di lokasi kejadian.

“Saya telah perintahkan Kepala Seksi Propam  ke lokasi guna mengumpulkan informasi dari berbagai pihak. Setiap informasi maupun keterangan saksi-saksi akan ditindaklanjuti untuk mendapat bukti (dugaan penganiayaan). Kami akan menindak tegas anggota (terduga) jika terbukti melakukan kesalahan,” kata Kepala Polres Merauke AKBP Agustinus Ary Purwanto saat jumpa pers, Senin (21/9/2020).

Michael Ipnun diberitakan tewas, sesaat setelah dilarikan ke Puskesmas Tanah Miring, Minggu. Korban, sebelumnya sempat menjalani pemeriksaan di Pos Polisi (Pospol) Semayam karena terlibat dalam kecelakaan lalu lintas.

“Kecelakaan sepeda motor terjadi beruntun di depan Pospol di Jalan Sermayam, Sabtu pagi. Korban dibonceng kakaknya, Mathias melaju dengan kecepatan tinggi. Sepeda motor mereka oleng dan menabrak pengendara lain, Prasetyo. Prasetyo kemudian menabrak Anton Soleh yang membonceng istri dan seorang anak,” jelas Ary.

Ipnun langsung dilarikan ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Sermayam pada saat itu juga. Karena sudah malam dan hanya ada seorang paramedis, korban akhirnya diamankan sementara di Pospol Sermayam.

“Saat pagi dia muntah-muntah sehingga dibawa ke Puskesmas (Tanah Miring). Setelah ditangani (petugas medis), korban meninggal dunia pada pukul 06.30 (Waktu Papua). Adapun Michael hanya mengalami luka lecet,” ungkap Ary.

Ary telah menemui pihak keluarga korban pada kemarin malam. Pertemuan tersebut difasilitasi Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Agung Merauke Pastor Anselmus Amo.

Loading...
;

Pihak keluarga pun menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada kepolisian. Namun, mereka meminta polisi menarik seluruh personel di Pospol Sermayam. Selain itu, Polres Merauke diminta menanggung seluruh biaya pemakaman hingga ibadah tujuh malam dan 40 malam.

“Korban dibawa ke Pospol Sermayam. Lalu, disuruh duduk di tanah dengan tangan terikat pada kaki bangku.  Lehernya juga diikat. Ada tiga warga melihat (langsung) kejadian tersebut dan telah bersaksi di SKP Keuskupan Agung Merauke. Mereka juga telah dipanggil polisi, (tetapi) untuk kasus berbeda,” ungkap Pastor Amo.

Amo juga mengungkapkan ada indikasi pembiaran dan diskriminasi terhadap korban sewaktu di Pustu Sermaya. Petugas medis lebih mendahulukan pasien lain.

“Pada saat tidak (menunggu) dilayani itu, korban malah ditangkap dan dipukuli oleh empat anggota Linmas (perlidungan masyarakat). Dengan tangan terikat di belakang (punggung), korban kemudian dibawa ke Pospol Sermayam,” kata Amo. (*)

 

Editor: Aries Munandar

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top