Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Politik dan Pemilu Kepulauan Solomon tak “terguncang” insiden di Rennell

Rennell Timur di Kepulauan Solomon. - Development Policy Centre, Australian National University/ Luke Kiddle
Politik dan Pemilu Kepulauan Solomon tak "terguncang" insiden di Rennell 1 i Papua
Rennell Timur di Kepulauan Solomon. – Development Policy Centre, Australian National University/ Luke Kiddle

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Daniel Evans

Bencana lingkungan hidup berskala raksasa di negara-negara berkembang akhir-akhir ini, kelihatannya datang dan pergi begitu saja. Seteguk kopi di pagi hari, memencet pengendali jarak jauh televisi atau membalikkan halaman koran, dan mereka pun terlupakan.

Politik dan Pemilu Kepulauan Solomon tak "terguncang" insiden di Rennell 2 i Papua

Selama satu bulan terakhir, peristiwa yang dikhawatirkan pihak berwenang sebagai bencana lingkungan hidup terburuk yang pernah dialami suatu negara, baru-baru ini terjadi di Kepulauan Solomon. Sebuah kapal yang penuh dengan 600 ton minyak telah kandas di pulau mungil, Rennell, yang terkenal berkat keanekaragaman hayati dan sebagai raised coral atoll terbesar di dunia. Kapal milik Hong Kong itu sedang mengangkut tanah subur di pulau itu yang sarat dengan bauksit.

Diperkirakan antara 60 hingga 100 ton bahan bakar kini telah merembes langsung ke terumbu karang di pulau itu. Meski memang diperburuk oleh Siklon Tropis Oma, indikasi awal menunjukkan banyak kode keselamatan laut yang dilanggar, menyebabkan kapal itu karam. Dalam beberapa hari dan minggu mendatang semakin banyak minyak diharapkan akan merembes keluar.

Di tengah-tengah kampanye pemilihan umum yang sangat sengit di Kepulauan Solomon, kita menyangka musibah ini akan menarik perhatian seluruh bangsa. Bagaimana bencana ini bisa terjadi dan siapa yang bertanggung jawab? Sebaliknya, tidak ada satu kata pun yang diucapkan tentang bencana ini di hadapan umum oleh para politisi di negara itu, yang sekarang sedang berada dalam mode berkampanye: tidak ada suara cicit dari Menteri Lingkungan Hidup, tidak ada bisikan dari Menteri Pertambangan, tidak ada gumam sedikit pun dari Perdana Menteri, sampai sekarang.

Penting untuk diketahui insiden tersebut telah lebih banyak menarik minat dari luar negeri. Liputan berita asing jauh melampaui liputan media lokal.

Loading...
;

Sementara itu, perusahaan Indonesia yang bertanggung jawab atas operasi pertambangan di Rennell – perusahaan tambang yang mencarter kapal yang lalu tertimpa bencana – terus memuat bauksitnya yang berharga di dekat kapal tanker yang miring, tampaknya tidak menyadari bencana yang sedang berlangsung. Namun tidak ada yang menghentikannya.

Pihak dari luar negeri memimpin upaya untuk membatasi penyebaran tumpahan minyak itu, dengan Australia mengambil posisi paling depan. Setelah respons awal yang terkesan lambat, lokasi pulau yang terpencil, pengaturan logistik yang rumit, dan keadaan kapal yang malang itu, menyebabkan kemajuan dan progres yang sangat lambat, sekelompok ahli asal Australia kini telah berada di lokasi.

Apa yang terjadi di Kepulauan Solomon selama beberapa pekan terakhir ini menunjukkan kepada kita beberapa hal penting, tentang negara yang telah menerima miliaran dolar dari Australia selama lima belas tahun terakhir.

Bencana yang sedang berlangsung di Rennell ini adalah studi kasus yang sempurna dalam eksploitasi sumber daya alam terkait keserakahan, kemiskinan, dan tata kelola yang lemah. Namun, yang ada di Kepulauan Solomon justru keheningan yang memekakkan telinga.

Politik di Kepulauan Solomon sangat terlokalisasi: hubungan saling mendukung yang langsung antara pemilih dan perwakilan mereka (Member of Parliament contohnya), menentukan segalanya. Hubungan ini ditandai dengan korupsi yang meluas, dipicu oleh industri pembalakan hutan yang didominasi oleh perusahaan Asia, dan sekarang, oleh industri pertambangan. (Perbedaan antara keduanya buram ketika perusahaan yang dulunya menebang pepohonan mulai beralih ke penambangan.)

Elite politik dan birokrasi berkolusi dengan perusahaan rendahan, yang umumnya percaya definisi dari tanggung jawab sosialnya hanyalah membangun jalan umum ke lokasi tambang. UU perlindungan lingkungan hidup diabaikan, baik dengan sengaja, atau karena pegawai pemerintahan tidak mampu menegakkannya.

Dengan situasi seperti ini, tidak ada insentif, bahkan lebih dari itu, tidak diperlukan insentif, bagi 50 anggota parlemen nasional Kepulauan Solomon yang terpecah-pecah, untuk khawatir tentang bencana lingkungan yang semakin parah, isu penting yang diabaikan oleh pemerintah. Tidak satu pun suara dan keputusan untuk kandidat tertentu yang akan diberikan dalam pemilu nasional April mendatang didasarkan pada apa yang terjadi di Rennell.

Sebagian besar pemilih di Kepulauan Solomon sama sekali tidak tertarik dengan isu-isu di luar masalah pribadi mereka sendiri: yang penting ada atap seng untuk menutupi kediaman mereka, yang diberikan oleh seorang kandidat anggota parlemen (MP) setempat, di mana di atasnya nanti akan ada panel surya murah yang dipasang. Dan jika terjadi, ini juga sepenuhnya masuk akal, mengingat kegagalan pemerintah Solomon, sejak dulu, dalam memberikan layanan, dan karena opsi mata pencaharian yang terbatas. Dalam tingkat politik, tidak akan ada seorang pun yang akan bertanggung jawab atas bencana ini.

Sementara itu, minyak terus merembes keluar dari kapal MV Solomon Trader, pertanyaan menjengkelkan tentang bagaimana mengatasi masalah lebih besar yang mendasari sektor SDA Kepulauan Solomon terus diabaikan. Tidak ada dampak politik sama sekali dari kejadian ini; sama seperti sebelumnya, di mana tidak ada sedikit pun dampak politik pada pemerintah nasional negara itu, saat mereka memutuskan untuk menghilangkan semua pemasukan negara yang sangat diperlukan, dengan menghapuskan pajak ekspor bauksit pada akhir 2016, dan saat mereka diam-diam mengundurkan diri dari Extractive Industries Transparency Initiative, standar global untuk tata kelola mineral, tahun lalu.

Kembali di Rennell, sepetak kecil tanah yang subur di pulau itu terus dikeruk dan dikirim ke lepas pantai. Tanah untuk membuat kebun dan memberi makanan generasi masa depan terus menghilang. Pengrusakan suatu pulau yang dulunya dikenal dengan lingkungannya yang bersih, mencapai titik yang baru dengan perusakan lingkungan laut. Meskipun demikian, tidak akan ada perubahan signifikan dalam cara Kepulauan Solomon menangani SDA-nya yang terus berkurang. Untuk mencapai perubahan seperti itu negara ini perlu mengubah politiknya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh siapa pun, baik pemilih, pejabat yang terpilih, maupun donor. (Development Policy Centre, Australian National University)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top