Follow our news chanel

Politisi loyalis Kaledonia Baru surati Prancis, desak tingkatkan keterlibatan

Kampanye partai Caledonia Together yang dukung status quo. - RNZI

Papua No.1 News Portal | Jubi

Nouméa, Jubi – Seorang politisi senior Kaledonia Baru, Pierre Frogier, telah mendesak Prancis untuk meningkatkan keterlibatannya dalam proses referendum yang diatur oleh Kesepakatan Nouméa.

Dua minggu lalu, pemilih yang terdaftar berpartisipasi dalam referendum kemerdekaan untuk kedua kalinya dalam dua tahun terakhir, dimana, ia mensinyalir, dilaporkan ada tuduhan intimidasi yang dilakukan oleh pendukung pro-kemerdekaan. Menurut Frogier, hari referendum itu dipenuhi dengan intimidasi, penghinaan, dan bahkan ancaman oleh para aktivis.

Dalam sebuah surat terbuka kepada menteri luar negeri Prancis, Sebastien Lecornu, dia menerangkan bahwa menteri itu memiliki kewajiban untuk memastikan semua warga negara Prancis selamat dari bentrokan yang dapat berakhir fatal.

Frogier menyatakan sudah bertahun-tahun ini negara Prancis bersikap pasif dan tidak menunjukan otoritas. Menurutnya Kesepakatan Nouméa 1998, di mana dia adalah salah satu penanda tangan, berpegang kepercayaan dan ketenteraman. Namun dia mengatakan proses tersebut selalu membawa risiko perpecahan akibat referendum, yang, menurutnya, tidak akan menuju pada solusi untuk masa depan Kaledonia Baru.

Sementara itu, pengadilan administratif tertinggi Prancis telah diminta untuk membatalkan hasil suara dari sembilan TPS dalam referendum kemerdekaan Kaledonia Baru kemarin.

Koalisi anti-kemerdekaan, yang menyebut dirinya Les Loyalistes, mengatakan ada intimidasi yang ilegal dan tidak dapat diterima pada hari referendum, terhadap ribuan pemilih di Nouméa. Seorang anggota koalisi menegaskan tujuan dari tuntutan itu adalah untuk memastikan masalah seperti ini tidak terulang kembali.

Loading...
;

Dua pekan lalu, komisi Prancis yang datang untuk mengamati proses referendum menyayangkan adanya kelompok-kelompok yang mengibarkan bendera pro-kemerdekaan FLNKS di TPS-TPS. Pemimpin komisi itu, Francis Lamy, mengungkapkan bahwa kehadiran seperti itu tidak mereka pada referendum pertama dua tahun lalu, tetapi ini mungkin dianggap sebagai intimidasi dan tekanan. (RNZI)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top