Follow our news chanel

Previous
Next

Populasi harimau di Sumatera selatan tinggal 17 ekor

harimau
IIustrasi, pixabay.com

Jumlah itu kemungkinan bertambah karena sempat ditemukan jejak kelahiran di beberapa lokasi.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Palembang, Jubi – Badan Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sumatera Selatan, mencatat jumlah populasi harimau di provinsi itu sebanyak 17 ekor yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Jumlah itu kemungkinan bertambah karena sempat ditemukan jejak kelahiran di beberapa lokasi.

“Jumlahnya bisa saja bertambah karena ada jejak kelahiran, sementara untuk kasus pembunuhan maupun perburuan selama tiga tahun terakhir ini belum pernah saya temukan,” kata Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman S Hasibuan, saat Lokakarya Penanganan Konflik Manusia dan Satwa Liar, Senin, (10/2/2020).

Baca juga : Warga Siak menduga harimau telah memangsa hewan peliharaan

Ini kondisi harimau Sumatera yang dipindahkan dari habitat asal

BBKSDA sebut harimau Sumatera yang dipindah tempat perlu diobservasi

Loading...
;

Menurut Genman harimau sumatera tersebar di Pagaralam, Lahat, Muara Enim, OKU Selatan, OKU, Musi Rawas Utara, Banyuasin dan Musi Banyuasin. BKSDA mencatat populasi terbanyak ada di lansekap Rejang Lebong yakni di Pagaralam, Lahat, Muara Enim dan dan OKU Selatan.

“Memang untuk saat ini konflik yang terjadi antara manusia dan satwa liar cukup banyak sejak tiga bulan terakhir, terutama di Pagaralam, Lahat dan Muara Enim,” kata Genman menambahkan.

Bahkan pada pertengahan Januari 2020 lalu sudah ditangkap satu ekor harimau sumatra di Muara Enim yang diduga telah melukai dan membunuh beberapa orang di Sumsel.

Saat ini harimau tersebut sudah dievakuasi di Lampung dan sedang dilakukan observasi dan penelitian mengenai perilaku harimau itu.

Ia menjeaskan konflik dengan manusia bisa terjadi karena habitat harimau terganggu, selain itu karena rantai makanannya sudah habis dan terputus. “Namun penanganan untuk kasus ini tidak mudah, melainkan membutuhkan proses, butuh waktu yang lumayan lama,” kata Genman menjelaskan.

Ia mengimbau perlu kesadaran dan komitmen semua pihak sama-sama menjaga harimau dari habitatnya dan mengembalikan habitat harimau seperti semula.

Direktur Proyek Kelola Sendang-Zoological Society of London, Damayanti Buchori, mengatakan upaya penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar memang harus segera dilakukan.

“Bukan hanya oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota melainkan juga semua stakeholder dan peranan masyarakat,” kata Damayanti.

Menurut dia, penanganan konflik itu perlu mempertimbangkan banyak hal, di antaranya tata guna lahan. “Ini penting. Kami tidak bisa bergerak sendiri,” kata Damayanti menjelaskan.

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top