HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Posko pengungsi banjir bandang Sentani minim layanan kesehatan

Anak-anak pengungsi banjir bandang di Toladan, Sentani – Jubi/Yance Wenda
Anak-anak pengungsi banjir bandang di Toladan, Sentani – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Waktu tujuh bulan sejak banjir bandang melanda Sentani, Kabupaten Jayapura tak terasa berlalu. Namun sebagian dari para korban masih hidup di tenda pengungsian karena rumah mereka hancur.

Di tenda pengungsian, orangtua dengan anak-anak dan bayi mereka hidup dalam kondisi darurat diterpa sinar matahari yang terik ketika siang hari.

Tenda yang mereka tempati adalah tenda bantuan BPBD. Ada tiga tenda berwana oranye. Kemudian fasilitas dapur umum panjang dengan tiga pintu.

Juga rumah darurat yang panjang. Tapi karena jumlah pengungsi yang banyak bangunan yang awalnya digunakan untuk menampung mereka akhirnya dijadikan kamar.

Hampir tujuh bulan di tenda tentu tidak kondusif. Bahkan atap tenda tidak lagi kuat menahan air. Jika hujan tiba air menetes membasahi lantai yang mereka tempati.

Bermodalkan lapisan tenda biru di luar mereka tetap bertahan meski air hujan menetes.

Loading...
;

Eko Pilipus Kogoya, senior atau intelektual di Posko Pengungsi Banjir Bandang Sentani, Jemaat Lani Wone, mengatakan hingga saat ini masih ada anak-anak dan juga orang dewasa yang mengalami sakit.

“Sejak tidak ada perhatian anak-anak ini ada yang sakit, batuk beringus pilek dan juga ada yang mengalami malaria, orang dewasa juga mengalami hal yang sama,” katanya.

Eko mengatakan sejak beberapa bulan terakhir memang tidak ada perhatian dari pemerintah terkait kesehatan para pengungsi.

“Kesehatan itu tidak ada sama sekali, kami ini bingung, soalnya tidak ada pelayanan dari pihak kesehatan yang datang ke tempat pengungsian kami ini,” ujarnya.

Ia berharap ada perhatian kesehatan bagi anak-anak dan juga orang dewasa korban banjir bandang Sentani.

“Kalau bisa itu dari pihak kesehatan datang lagi kah lihat kondisi pengungsi agar ada pelayanan kesehatan bagi kami pengungsi yang masih di tenda pengungsian ini,” kata Kogoya.

Erika, korban banjir bandang Sentani yang tinggal di Posko Polomo Sentani, mengatakan dengan kondisi tempat yang tidak layak membuat mereka tetap bertahan dengan kelambu yang terbatas.

“Kami di tenda ini ada banyak tinggal, tapi yang ada kelambu itu hanya beberap orang saja, kami memang masih butuh kelambu juga,” katanya.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk menangani anak dan dewasa yang sakit.

“Memang jumlahnya tidak banyak, puji Tuhan yang lain baik tapi yang lain ini ada yang sakit, jadi pemerintah dorang bisa datang lihat kami kah,” kata ibu dua anak tersebut.

Erika seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Milinik. Pada saat banjir bandang melanda ia kehilangan harta benda yang ia miliki, baik rumah maupun peralatan di dalamnya, maupun ternak.

“Kejadian banjir itu bikin sampai semua yang saya miliki hilang semua, rumah saja tidak ada, sekarang saya dan keluarga lain bingung harus ke mana, karena tempat yang kami tinggal itu sudah tertutup bebatuan yang turun pada malam itu, tidak ada jejak bekas rumah lagi,” kata Erika.

Mama Erika pun menceritakan kisah ia selamat bersama keluarganya dari banjir bandang. Sejak itu ia hidup di tenda pengungsian Polomo.

“Hanya ada kata Haleluya Tuhan Yesus itu baik, dia bisa selamat kami dari musibah ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca dan suara yang tersendat-sendat.

Namun kini ia kebingungan harus kemana karena tidak ada tempat lagi untuk menetap selain hidup di posko pengungsian.

“Saya tidak tahu harus buat bagaimana, kecuali tempat yang lama itu bisa ditempati tidak apa kami kembali tapi sudah tidak bisa sama sekali, kami berharap ada titik terang untuk tempat tinggal bagi kami penugngsi yang ada di Polomo ini,” kata Erika Murib.

Ia mengaku selama di pengungsian terkendala fasilitas alat tidur.

“Kalau tidur malam itu yang ada kelambu itu baik, tapi kami yang tidak ada itu kasihan karena ada nyamuk, soalnya kami di tenda ini tidur anak-anak dan bayi juga soalnya, kami hanya butuh bantuan kelambu dan alat tidur lainnya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan persoalan makan sehari-hari di posko yang ia rasakan setelah posko induk dan pemerintah kurang perhatian.

“Soal makan kami rasa kurang,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa