Follow our news chanel

Previous
Next

Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (1/4)

Ketidakadilan di Papua
Foto ilustrasi. - Pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: RP Bernardus Bofitwos Baru, OSA*

Dua orang non-Papua via WhatsApp, 17 Mei 2020, bercakap tentang perlakuan ketidakadilan terhadap orang Papua, yang dialami seorang guru muda di pedalaman Papua. Demikian percakapan mereka:

Fd: “Hahaha…jaga jarak de bilang jarak jauh.”

Smm: “Itu lagi besok pulang kau ajar dog dulu. Blm tamat tk tuuu.”

Fd :  “Hahahaha. Sio ah.. syg dorang. Kk knl dgn Yakomina (nama samaran)?”

Smm: “Siapa? Di mana?”

Fd   : “Yakomina dulu di asrama Monika. Kk knl tdk e.”

Loading...
;

Smm: “Ia ingat, kenapa?”

Fd:  “Tu skrg tgsnya tu. Ajarkan anak2 pdlmn Papua.” 

Smm: “Mantap eee. Mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Fd: “Ia tp sayang skrg kayknya su ateis.”

Baca juga: Negara harus tegas dan adil memberantas rasisme

Smm: “Kenapa mungkin dia percaya pada agama tradisional?”

Fd: “Hahahaha. Tdk jg… Dia hanya rasa bnyk ketidakadilan jd mulai mempertanyakan.”

Smm: “Dunia ini memang tidak adil. Sebab hanya sementara orang (80 thn) jika kuat? Hidup di sini. Sebab kalau adil mgkn org tdk akn mau pergi dari dunia ini. Sementara kondisi manusia terikat pada hukum alam (kehidupan-kematian).”

Fd: “Itu sdh kk, dia bnyk cerita tp sy dengrkn, lalu dia bilng tdk suka dgn agama apapun dan ritual apapun lagi… Ya sy hnya mendoakan dia dan menjwb dia dgn apa yang saya percaya. Biar Tuhan sj yg menemukanmu… Dia belum berfikir sampai di situ, soal semuanya hanya sementara, dri cerita dia kelihatan masih ada ambisi yg dikejar.”

Smm: “Otaknya yang kecil itu tidak akan mampu menyelami karya Allah yang begitu luas. Kalau dia tak percaya percuma saja. Biarkan dia akan menemukan sendiri. Kamu jd pendengar yang baik aja.”

Fd: “Sy biarkn sj… Kedengaran masih pny ambisi yg kuat. Nnt ada saatnya. semua nampak sia2.”

Smm: Ia. Anak muda dlm pencarian makna hidup. Tak apa itu baik.”

Baca juga: Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (2/4)

Fd: “Dengar cerita dia, dan perjuangan dia memang sedih, klw sy pun sy tdk akn bertahan bertahun2  dgn keadaan mcm itu, hrs berjuang tuk hak2 mereka di bagian pemerintahan, dll. Kk tahu to bagaimana Papua, sy bisa bayangkan saja seperti apa.”

Smm: “Papua itu terlalu kaya jadi banyak rebutan. Orang tidak suka orgnya mereka hanya mau hasil dari tempat tinggal orang Papua. Semuanya berbelit2 dan rumit. Hanya Tuhan yang tahu kapan masyarakat Papua bisa berhak hidup dgn damai tanpa terluka di atas tanahnya.”

Fd: “Io… Tp masyarakat kasihan sekali…Dia pernh bercerita klw pernh ada yang menjual tanah, tanda tangan penjualan seharga 30 jt, uang yg dikasih itu hanya 30 lbr uang 50 rb rupiah… Trus pihak tentara bilng ke mama tu itu sdh 30 jt… Dia berjuang biar anak2nya di pedalaman bisa baca  tulis bisa menghitung, tp terbentur dgn aparat. Mereka tidak suka, dan suka mengincar dia, krn  mereka pikir klw org Papua tau semua, mereka tdk akn dpt apa2.”

Smm: “Semua lahan itu sudah punya para pejabat dan bos2 di Jakarta. Sebab tanah itu oleh negara, menjadi miliknya, bukan milik orang Papua. Sementara mereka hanya bisa hidup di atas tanah sendiri. Tidak seperti daerah lain yang bisa bebas tinggal di mana pun. Orng Papua sangat sedikit yg hidup dan merantau ke tempat lain. Mereka pergi tp ttp akan pulang pada ibunya. Filosofi orang Papua tanah Papua adalah ibu bagi mereka. Sedih memang bicara soal Papua. Lihat di TV aku hanya bisa menangis. Antara rindu atau ingat dgn mereka yg hidup dan berjuang di sana. Kita berdoa saja dari jauh. Bukan siapa yg salah tapi mereka sedang dalam proses bertahap untuk maju. Tertinggal terlalu lama.”

Baca juga: Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (3/4)

Fd: “Itu sdh… Hrus berhadapan dgn para aparat pembohong semua ni.”

Smm: “Sekarang masyarakat Aifat sedang berhadapan dengan tentara di sana. Situasi lagi kacau.”

Fd: “Dia minta bantuan dr org asli Papua yg sdh berhasil, yg tinggal di luar negeri, yg di Jakarta biar bisa sama2 membangun Papua tp…itu sudah mereka justru malah ada yg tdk mau mengakui.”

Smm: “Saya tidak tahu mereka ada baca beritanya atau tdk. Itu iaaaaaaaa mereka juga takut sama pemerintah. Takut jadi pengkhianat bangsa. Apapun persoalannya tapi masyarakat tak boleh dibunuh, Mereka sudah mati dari berbagai segi. Entah karena mabuk, penyakit, korban dll. Siooo kita ini bukan Papua asli. Tapi kita punya hati Papua. Mungkin karena tali pusat sudah tatanam di Papua. Bicara Papua aku langsung sensi.”

Fd: “Itu lg. Sedih skli klw bicara itu.”

Pengalaman hidup di lapangan dan konflik batin

Seorang guru muda, Yakomina (nama samaran), sedang mengajar di pedalaman Papua. Ia mengalami berbagai peristiwa dan mendengarkan cerita tentang perlakuan tidak adil/manusiawi oleh oknum TNI/Polri terhadap masyarakat.

Dirinya berjuang agar anak-anak didikannya di pedalaman bisa membaca, menulis, dan menghitung, tetapi ia terbentur dengan sikap aparat. Ia berada di persimpangan jalan–memilih kebenaran Ilahi atau kebenaran ideologi bangsa. Apakah memihak anak-anak didiknya atau kebenaran Ilahi (Allah) atau kebenaran ideologi bangsa Indonesia (kebenaran manusia)?

Pengalaman ini adalah suatu pertarungan sengit/berat yang sedang dihadapi ibu guru muda tersebut. Ternyata dia berani memilih jalan (via) memihak kepada kebenaran Allah–tetap berpegang teguh pada profesionalismenya sebagai seorang guru, yang mengajarkan kebenaran sejati kepada anak-anak didiknya.

Baca juga: Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (4/4)

Ia berprinsip harus mengajar dan mendidik murid-muridnya dengan benar, agar kelak mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan pandai, baik secara intelektual, maupun kepribadian, karena mereka mempunyai hak yang sama dengan anak-anak di tempat lain, yang membutuhkan pengajaran dan pendidikan yang benar, agar bertumbuh menjadi pribadi yang berdaya guna bagi masyarakat dan sesama.

Keputusannya luar biasa karena berani memilih dan memihak pada kebenaran Allah daripada kebenaran ideologi manusia. Ia terus memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil/sederhana melalui karya pelayanannya dalam pendidikan.

Fakta-fakta ketidakadilan

Peristiwa mengharukan terjadi saat transaksi pembelian tanah antara pihak aparat dengan seorang ibu (mama) rumah tangga. Tanda tangan di kuitansi penjualan tanah tersebut seharga Rp 30 juta.

Namun faktanya lain, uang yang diberikan pihak aparat (tentara) kepada mama tadi sebanyak 30 lembar uang Rp 50 ribu (sehingga sebanyak Rp 1.500.000 saja).

Pihak aparat (tentara) mengatakan sang mama bahwa uang yang mereka berikan itu berjumlah Rp 30 juta.

Para aparat juga tidak suka dengan apa yang dilakukan ibu guru muda itu kepada anak-anak didiknya.

Para aparat suka mengincar dia dengan tujuan menghalang-halanginya, agar ia tidak menerapkan prinsip-prinsip pengajaran dan pendidikan yang benar kepada murid-muridnya. Bersambung. (*)

  • Penulis adalah Direktur Sekretariat, Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Ordo Santo Augustinus (SKPKC-OSA), Sorong, Papua Barat

Editor: Timotius Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top