Follow our news chanel

Previous
Next

Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (2/4)

Ketidakadilan di Papua
Foto ilustrasi. - Pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: RP Bernardus Bofitwos Baru, OSA*

Menurut cerita ibu guru tersebut, oknum-oknum aparat itu berprinsip, kalau diberikan sistem pengajaran dan pendidikan yang benar, maka orang Papua akan pintar dan mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah, sehingga akan bangkit berjuang. Kalau demikian, oknum-oknum aparat tidak akan mendapatkan kekayaan dan pangkat, seperti yang dinikmati saat ini.

Ibu guru muda tersebut telah berkomunikasi, memohon bantuan dari orang-orang Papua yang sudah berhasil–yang tinggal di luar negeri dan Jakarta–supaya bersama-sama membangun Papua. Ia bertekad mencerdaskan anak-anak didiknya. Ia bahkan tidak respek terhadap agama apapun, karena ajaran agama tidak sesuai dengan praktik pengikutnya, seperti apa yang diperbuat oknum-oknum aparat tersebut kepada masyarakat di tempat ia bertugas. Karena itu, ia bersikap antipati terhadap agama apa pun.

Tantangan bagi orang Papua sendiri

Ada orang Papua yang justru lupa diri, dan tidak mau mengakui dirinya sebagai orang Papua, sehingga “menempelkan dirinya” kepada orang lain, suku dan ras lain, dan mengakui dirinya “orang Indonesia”. Sebaliknya mereka menyangkal dirinya sebagai orang Papua, yang keriting rambut dan hitam kulitnya.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa sebagian orang Papua sedang dilanda krisis identitas dan jati dirinya. Reaksi dua orang yang mendengar cerita guru muda tadi seperti ini:

“Dunia ini memang tidak adil, sebab kalau ada keadilan mungkin orang tidak akan mau pergi dari dunia ini.”

Loading...
;

Baca juga: Wabah Covid-19 dalam perspektif manusia sebagai makhluk berpengharapan

“Dengar cerita dia dan perjuangannya memang sedih. Kalau saya pun tidak akan bertahan bertahun-tahun dengan keadaan semacam itu, dan harus berjuang untuk menegakkan hak-hak mereka, melalui jalur pemerintah, dll.”

“Kakak to tahu bagaimana situasi Papua, saya bisa bayangkan saja seperti apa.”

“Papua itu terlalu kaya, jadi banyak rebutan. Orang tidak suka orangnya, mereka hanya mau hasil bumi dari tempat tinggal orang Papua. Semuanya berbelit-belit dan rumit. Hanya Tuhan yang tahu, kapan masyarakat Papua bisa berhak hidup dengan damai tanpa terluka di atas tanahnya?”

“Tapi masyarakat kasihan sekali.”

“Semua lahan itu sudah punya para pejabat dan bos-bos di Jakarta. Sebab tanah itu milik negara bukan milik orang Papua. Sementara mereka hanya bisa hidup di atas tanahnya sendiri. Tidak seperti daerah lain yang bisa bebas tinggal di mana pun. Orang Papua sangat sedikit yang hidup dan merantau ke tempat lain. Mereka pergi tetapi akan pulang kepada ibunya. Filosofi orang Papua, tanah Papua adalah ibu bagi mereka.”

“Sedih memang bicara soal Papua. Lihat di TV aku hanya bisa menangis, Antara rindu atau ingat dengan mereka yang hidup dan berjuang di sana.”

“Kita berdoa saja dari jauh. Bukan siapa yang salah tetapi mereka sedang dalam proses bertahap untuk maju. Mereka tertinggal terlalu lama.”

Baca juga: Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (1/4)

“Ibu guru itu harus berhadapan dengan para (oknum) aparat pembohong semuanya.”

“Saya tidak tahu, mereka ada baca beritanya atau tidak. Itu ya, mereka juga takut sama pemerintah. Takut jadi penghianat bangsa.”

“Apapun persoalannya, tapi masyarakat tidak boleh dibunuh. Mereka sudah mati dari berbagai segi. Entah karena mabuk, penyakit, korban, dan lain-lain.”

“Siooo kita ini bukan Papua asli, tapi kita punya hati Papua. Mungkin karena tali pusat sudah tertanam di Papua.”

“Bicara Papua aku langsung sensi.”

“Itu lagi, sedih sekali kalau bicara Papua.”

Kebohongan para penguasa bangsa Indonesia terhadap rakyat Papua

“Ibu guru tersebut harus berhadapan dengan para (oknum) aparat pembohong semuanya,” kata FD kepada SMM. Kebohongan oknum-oknum TNI/Polri kepada mama Papua seperti diceritakan guru muda itu, bukanlah hal baru bagi orang Papua.

Hal-hal seperti itu terjadi sejak Papua dianeksasi ke dalam NKRI melalui Pepera 1 Mei 1963–pemerintah RI menggunakan strategi rekayasa, kebohongan, manipulasi, dan intimidasi, sehingga West Papua dinyatakan sebagai bagian dari NKRI.

Baca juga: Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (3/4)

Sejak semula Pemerintah NKRI menggunakan cara rekayasa, manipulasi dan kebohongan agar menarik hati orang Papua, sehingga orang Papua beranggapan, bahwa mereka adalah pahlawan (hero) kebaikan, padahal pembohong, pencuri dan pembunuh. Ribuan kisah tentang cara-cara manipulasi dan kebohongan yang digunakan oleh oknum-oknum aparat dan penguasa bangsa Indonesia menaklukkan hati orang Papua, agar dengan mudah menguasai dan mengeruk sumber daya alamnya.

Percakapan dua orang tadi memperlihatkan bahwa ada sejumlah orang non-OAP, khususnya yang lahir dan besar di Papua, yang mempunyai hati nurani murni, dan memahami rekayasa kebohongan oknum-oknum TNI/Polri dan pejabat terhadap OAP. “Siooo, kita ini bukan Papua asli, tapi kita punya hati Papua. Mungkin karena tali pusat sudah tertanam di Papua,” kata SMM kepada FD.

Masih ada orang non-OAP yang mempunyai kepekaan terhadap praktik ketidakadilan, penindasan dan pembohongan terhadap OAP, tetapi belum berani mengkampanyekan pengalaman dan perasaan hatinya secara terbuka, baik kepada keluarga dan teman-teman, maupun kepada non-OAP lainnya. Tentu ada pula yang sudah berani mengkritisi ketidakadilan dan kekerasan oknum-oknum TNI/Polri terhadap OAP.

Saya mengajak kita (pembaca) semua agar membangun dialog dengan orang-orang non-OAP yang tergerak hatinya oleh karena kebenaran atas fakta ketidakadilan, rekayasa, kebohongan, kekerasan, dan pembunuhan terhadap OAP. Ketika para saudara kita ini memahami dengan hati nurani akar penindasan dan pembunuhan terhadap OAP, maka mereka sendirilah yang akan proaktif mengkampanyekannya kepada orang-orang non-OAP lainnya.

Ajaran Yesus

Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap (Mrk 4: 22). Ayat ini sesungguhnya mengandung penegasan tentang kebenaran.

Kebenaran yang dimaksudkan penginjil Markus adalah kejujuran hati atas apa yang benar dan salah, yang kita lakukan. Apa pun perbuatan kita, benar atau salah, tidak mungkin tersembunyi di hadapan Allah. Apa pun kebaikan/keburukan yang kita perbuat, pasti terbongkar di hadapan Tuhan.

Baca juga: Praktik ketidakadilan dan kegelisahan nurani manusia (4/4)

Di hadapan mata manusia, kita boleh menipu dan merekayasa perbuatan kita, tetapi di hadapan Tuhan Yesus, segala perbuatan baik/buruk terlihat dengan jelas, karena bagi Tuhan, tidak ada yang disembunyikan dan dirahasakan. Dia adalah Allah maha mengetahui, mahamisteri, dan maharahasia dari segala rahasia manusia.

Yesus adalah sumber terang-benderang yang menembus relung-relung hati manusia. Yesuslah lumen et lumine (cahaya yang terang benderang), yang melampaui segala terang, dan menembus dan menusuk ke dalam kegelapan hati manusia (bdk. Yoh 1: 9).

Dialah terang yang menembus sudut-sudut kegelapan hati manusia, sehingga semuanya tampak asli–tidak ada manipulasi dan rekayasa, tidak ada yang tertutup dan tersembunyi di hadapan pandangan-Nya, seperti yang ditegaskan-Nya kepada Natanael (Yoh 1:47), “Lihat! Inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.”

Oleh karena itu, apapun perbuatan dan perilaku hidup kita, tidak luput dari pandangan-Nya. Yesus pasti melihat dan mengetahui setiap perbuatan dan isi hati kita. Kita tidak mungkin menyembunyikan perbuatan dan isi hati kita dari pandangan-Nya. Bersambung. (*)

* Penulis adalah Direktur Sekretariat, Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Ordo Santo Augustinus (SKPKC-OSA), Sorong, Papua Barat

Editor: Timotius Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top