Follow our news chanel

Previous
Next

Presiden Guinea umumkan referendum UUD baru

Perangkat pemungutan suara untuk referendum Bougainville - Jubi/Victor M
Presiden Guinea umumkan referendum UUD baru 1 i Papua
Ilustrasi, perangkat pemungutan suara untuk referendum Bougainville – Jubi/Victor M

Langkah Conde tersebut dikhawatirkan para lawan politiknya sebagai dalih untuk bercokol dalam kekuasaan di luar batas mandat UUD.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Conakry, Jubi – Presiden Guinea, Alpha Conde mengatakan, ia akan menyelenggarakan referendum publik soal undang-undang dasar (UUD) baru, pada Kamis (19/12/2019) kemarin. Langkah Conde tersebut dikhawatirkan para lawan politiknya sebagai dalih untuk bercokol dalam kekuasaan di luar batas mandat UUD.

Conde memerintah Guinea sejak 2010. Periode kedua, dan terakhir, masa jabatan lima tahun yang dijalaninya akan berakhir tahun depan.

Baca juga : Referendum Bougainville selesai, masih ada proses selanjutnya

Gubernur Jenderal PNG terima hasil referendum Bougainville

PM Johnson diminta terima suara referendum kedua Skotlandia

Loading...
;

Sejak Oktober, demonstrasi untuk menentang kemungkinan perubahan UUD telah menjatuhkan sedikitnya 14 korban jiwa di seluruh negeri. Kalangan oposisi curiga bahwa Conde (81) berencana menggunakan UUD baru sebagai pijakan untuk menghapuskan batasan dua periode masa jabatan presiden.

Dalam rancangan UUD tidak secara jelas digambarkan apakah Conde akan memenuhi syarat untuk mengikuti persaingan dalam pemilihan 2020. Namun sejauh ini, Conde menolak untuk menepis kemungkinan mencalonkan diri dalam pemilihan.

Dalam pidato yang disiarkan pada Kamis petang, Conde mengatakan para ketua Majelis Nasional dan mahkamah konstitusi sudah menandatangani proposal UUD baru itu, yang disusun oleh sebuah komisi khusus. Namun, Conde belum menyebutkan secara rinci kapan referendum akan dilangsungkan.

Menurut dia, UUD baru diperlukan untuk menggantikan versi lama tahun 2010, yang ia katakan dirancang secara terburu-buru dalam upaya untuk mengakhiri masa kekuasaan singkat pemimpin kudeta Dadis Camara.

Kemenangan Conde pada pemilihan 2010 meningkatkan harapan bagi proses demokratis di Guinea setelah negara itu dipimpin oleh penguasa otoriter selama berpuluh-puluh tahun.

Namun, para penentang Conde menuduh sang presiden menindak orang-orang yang berbeda pendapat dengannya serta menekan para pemrotes dengan cara keras. Meski Conde membantah tuduhan-tuduhan itu. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top