Follow our news chanel

Previous
Next

Presiden Kiribati pro-Tiongkok kehilangan suara mayoritas

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden Kiribati, Taneti Maamau, di Aula Besar Rakyat di Beijing. - The Guardian/ Jason Lee/Reuters
Presiden Kiribati pro-Tiongkok kehilangan suara mayoritas 1 i Papua
Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden Kiribati, Taneti Maamau, di Aula Besar Rakyat di Beijing. – The Guardian/ Jason Lee/Reuters

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tarawa, Jubi – Ambisi diplomatik Tiongkok di Pasifik mundur pada Rabu kemarin (22/4/2020), ketika partai yang memutuskan untuk mengalihkan pengakuan Kiribati dari Taiwan ke Tiongkok tahun lalu kehilangan dukungan mayoritas di parlemen akibat penanganannya dalam mengambil langkah tersebut.

Dalam putaran kedua pemilu Kiribati Selasa (21/4/2020), parpol yang memerintah dan koalisinya hanya memenangkan 22 dari 45 kursi, pukulan bagi Presiden Taneti Maamau, yang sebelumnya memimpin dengan mayoritas, 31 kursi.

Kiribati, negara berpenduduk 110.000 orang di Pasifik tengah itu, memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan dan memulai hubungan dengan Tiongkok pada September 2019, hanya seminggu setelah Kepulauan Solomon mengumumkan keputusan yang sama.

Kiribati dianggap strategis karena lokasinya – beberapa pulau di negara itu hanya berjarak 700 km dari pangkalan militer AS.

Pemimpin partai yang hengkang dari kubu pemerintah akibat tidak puas dengan cara Maamau menangani peralihan ini, Banuera Berina, diharapkan akan lebih skeptis saat berurusan dengan Tiongkok dan lebih tegas dalam menerima pinjaman. Dia dan Maamau diperkirakan akan mencalonkan diri dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan pada bulan Juni.

Berina berkata meskipun ia merupakan ketua parpol yang berkuasa ketika peralihan diplomatik itu terjadi, dia serta sejumlah menteri lainnya tidak tahu apa-apa mengenai langkah yang kemudian ia simpulkan, adalah hasil dari perundingan rahasia dengan Tiongkok, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun.

Loading...
;

Dia bercerita ketika presiden mengumpulkan anggota-anggota kabinet dan MP tanpa portofolio kementerian untuk mengumumkan peralihan ke Beijing sebagai fait accompli, beberapa MP protes karena Taiwan dan duta besarnya telah memberikan banyak dukungan di distrik mereka, dan mereka takut kehilangan kursi mereka.

“Tapi presiden meyakinkan kita bahwa kita tidak perlu khawatir tentang itu, karena kita akan mendapatkan dana untuk berkampanye dari Tiongkok,” katanya. “Saya terkejut.” Maamau sendiri telah membantah bahwa dia pernah mengatakan itu; dia tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar.

Maamau juga menyangkal bahwa keputusannya itu rahasia, menerangkan kepada Guardian: “Sebelum pengalihan itu resmi, konsultasi dengan anggota-anggota partai, termasuk MP Banuera, telah saya lakukan, dan saya mengadakan dua sesi dengan anggota-anggota partai kami dan mereka setuju.” (The Guardian)

 

Editor : Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top