TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Pria di Cina ini dihukum mati karena membunuh penyandang disabilitas

Papua, eksekusi mati
Ilustrasi tiang gantungan hukuman mati, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Pengadilan Cina menghukum mati seorang pria yang didakwa membunuh penyandang disabilitas. Pria yang dipublikasi hanya dengan nama keluarganya, Huang itu membunuh disabilitas berusia 40 tahun, dan berniat menggunakan jenazahnya untuk menggantikan jenazah lain.

Hukuman mati itu diperkuat sebuah pengadilan sebelumnya menjatuhkan vonis mati. Sedangkan Kasus pertukarang jenazah ini terjadi di Kota Lufeng, Provinsi Guangdong, Cina. Korban yang menderita down sindrom, pada 1 Maret 2017 diculik oleh Huang ketika dia sedang memunguti sampah di pinggir jalan seperti kebiasaannya setelah makan siang.

Ketika korban tidak kunjung pulang sampai waktu makan malam, keluarga korban mulai waswas dan menghubungi polisi. Pembunuh korban baru tertangkap 2,5 tahun kemudian.

Baca juga : PNG dan politik di balik hukuman mati

Mesir kembali eksekusi mati 15 tahanan politik 

India eksekusi mati empat pria pemerkosa

Surat kabar Shandong Business Daily mewartakan berdasarkan hasil investigasi polisi yang dipublikasi pada November 2019. Diwartakan bahwa setelah Huang membujuk korban untuk masuk ke kendaraannya, korban dipaksa untuk minum minuman keras yang sudah dibelinya.

Ketika korban mabuk dan tidak sadarkan diri, dia memasukkan korban dalam peti mati, lalu menguncinya. Dia lalu membawa jenazah korban dalam peti mati itu untuk ditukar dengan pembeli dua hari kemudian. Tidak diketahui saat pertukaran jenazah itu apakah korban masih hidup atau tidak.

Di pengadilan terungkap bahwa Huang dijanjikan mendapatkan komisi yang besar jika dia bisa mendapatkan jenazah untuk ditukar, yang selanjutnya dikremasi. Bos Huang menginformasikan bahwa Huang ditawari uang sebesar 107 ribu yuan atau Rp 238 juta dari orang kaya yang abangnya meninggal karena kanker pada Februari 2017.

Masalah muncul saat almarhum berwasiat agar tubuhnya jangan dikremasi, melainkan dikubur saja. Namun pemerintah daerah melarang penguburan jenazah. Huang lalu menjalankan rencana demi uang. Tidak dijelaskan bagaimana kejahatan ini akhirnya terbongkar.

Namun pada September 2020, pengadilan memvonis Huang bersalah karena melakukan pembunuhan dengan motif membunuh korban untuk ditukar dengan jenazah almarhum, yang meninggal karena sakit kanker tersebut. Uang sebesar 90 ribu yuan atau sekitar Rp 200 juta yang dia terima, disita oleh negara.

Haung mengajukan banding atas hukuman mati yang diterimanya. Dia beralasan, tidak memaksa korban untuk minum alkohol. Namun korban meninggal karena penyakit setelah minum-minuman keras. Pengadilan banding dalam putusannya memperkuat putusan pengadilan tingkat pertama. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us