Program Jayapura sebagai kabupaten layak anak masih jauh dari harapan

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Sentani, Jubi – Pusat Study Wanita/Gender Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura mengatakan proses menuju kabupaten Jayapura sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) masih jauh dari yang diinginkan. Pemkab Jayapura harus bekerja lebih keras lagi untuk mewujudkannya. Kondisi ini cukup ironis karena pencanangan kabupaten Jayapura sebagai KLA sudah dilakukan tiga tahun silam.

Suryani Surbakti dari Pusat Study Wanita/Gender Uncen mengatakan dari sejumlah kajian, Pemkab Jayapura masih membutuhkan waktu cukup lama untuk mewujudkan menjadi kota/kabupaten layak anak. Pasalnya, informasi KLA belum sepenuhnya dipahami masyarakat, terutama yang tinggal di kampung-kampung. Belum lagi sarana dan fasilitas pendukung yang sama sekali tidak ada.

“Kami langsung turun lapangan untuk mengkaji dan mencari tahu terkait pemahaman masyarakat tentang informasi apa itu KLA. Dari hasil wawancara dengan sejumlah masyarakat, mereka belum mengetahui program kampung layak anak yang nantinya akan meningkat menjadi kabupaten layak anak,” jelas Suryani, saat memaparkan hasil penelitiannya di hadapan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di aula lantai dua, Kantor Bupati Jayapura, Selasa (10/10/2017).

Dijelaskan, dari sampel beberapa kampung dan sekolah tingkat dasar, ternyata jawabannya sangat bervariasi.

Suryani menjelaskan kekerasan terhadap anak bukan hanya secara fisik, yang artinya memukul dan mencederai orang lain, tetap tutur kata kasar dan tidak seharusnya diucapkan kepada anak-anak juga merupakan tindak kekerasan.

“Misalnya, kita tanya guru dan kepala sekolah, apakah sekolah ini telah menerapkan program sekolah ramah anak. Jawabannya iya, sekolah telah menerapkan program sekolah ramah anak. Tetapi, fasilitas pendukungnya tidak ada. Kita tanya ke murid apakah guru masih sering memarahi siswa di sekolah. Jawaban anak-anak yang masih polos ini membenarkan bahwa guru masih sering melakukan tindakan kekerasan terhadap anak murid melalui kata-kata. Bahkan secara fisik masih sering dilakukan, misalnya mencubit dan memukul. Berarti sekolah tersebut belum menerapkan program sekolah ramah anak,” ujarnya.

Loading...
;

Asisten II Setda kabupaten Jayapura, Deni Simbar, mengaku angka kekerasan terhadap anak belakangan ini mulai meningkat. Kendati demikian apa yang sudah dicanangkan sejak tiga tahun lalu tentang KLA di kabupaten Jayapura akan tetap menjadi prioritas.

“Dari presentasi yang disampaikan Pusat Study Wanita dari Uncen, pastinya kita akan coba melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Karena ada sejumlah indikator pendukung yang harus dipenuhi sebelum menjadi KLA yang akan dimulai dari kampung. Oleh sebab itu hal ini juga menjadi catatan nantinya untuk dievaluasi kembali,” ungkapnya. (*)

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top