Prosesi patah Jubi, tanda damai warga Umagi- Gualo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Umagi, Tolikara – Bupati Tolikara Usman G.Wanimbo, dan Ketua DPRD Tolikara Ikiles Kogoya dan jajaran aparat pemerintahan kembali turun ke Kampung Umagi, Distrik Umagi Tolikara Selasa,16 Oktober 2018 lalu.

Kali ini untuk mendamaikan warga kampung Umagi Distrik Umagi dengan warga Kampung Gualo Distrik Wina, yang sempat terlibat pertikaian berdarah pada 9 Oktober 2018.

Rombongan bupati bersama aparat gabungan TNI/Polri dibantu para tokoh agama setempat langsung memediasi kedua belah pihak. Bertempat di Kampung Umagi Distrik Umagi. Kedua belah pihak dengan cepat memadati tempat perdamaian itu.

Diawali dengan penyampaian pesan perdamaian sesuai dengan firman Tuhan yang disampaikan oleh ketua wilayah GIDI Toli Pendeta Nayus Wenda.

Dia menyebutkan Tuhan Yesus datang untuk mendamaikan dari segala dosa kita. “Bagi yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak boleh saling bertikai dengan saudara dan yang lain,kita harus bersatu hidup dengan damai,” ujarnya.

Adapun prosesi perdamaian itu dilakukan secara adat suku Lani. Dimana seorang pihak pelaku maupun korban membawa satu jubi (anak panah) dan busurnya. Keduanya berdiri berhadapan muka, lalu saling menukar senjata itu.

Loading...
;

Senjata itu kemudian diangkat tinggi melewati kepala kedua orang itu. Lalu mereka berjanji bahwa “Sejak kami patahkan anak panah ini, kami sepakat berhenti berperang dan berdamai kembali,”

Prosesi adat itu disaksikan Forkopimda Tolikara dan tokoh agama GIDI Tolikara,serta warga di kedua belah pihak.

Bupati Tolikara Usman G Wanimbo pada kesempatan itu memberikan penghargaan tinggi kepada kedua belah pihak atas itikad baik itu.

“Apresiasi tinggi kepada pihak korban telah sepakat untuk berdamai tanpa minda denda atas tewasnya saudaranya saat pertikaian berdarah pekan lalu. Patah jubi ini menandakan kedua suku berdamai dan tidak akan mengangkat Panah lagi untuk berperang”. ujar Wanimbo.

Pada kesempatan itu, Wanimbo menyerahkan bantuan uang masing-masing sebesar Rp200 juta rupiah kepada kedua pihak korban dan pelaku sebagai tanda damai.

“Bantuan uang yang kami bagi merata untuk diatur sesuai dengan kebutuhan masing – masing pihak,”kata Wanimbo.

Menurutnya Pemerintah Tolikara hanya membantu dan memfasilitasi dalam penyelesaian konflik perang saudara ini secara adat .

Katanya, pemerintah Tolikara ke depan akan membuat Perda tentang sanksi bagi pejabat di tingkat Distrik seluruh Tolikara apabila tidak dapat menyelesaikan konflik.

“Apabila kepala distrik,kepala desa/kampung,kepala suku dan juga ketua Klasis serta Gembala Jemaat tidak mampu menghentikan konflik, konsekuensinya para pejabat itu diganti orang lain,” jelasnya. Peraturan ini berlaku untuk seluruh Tolikara.* (Diskominfo Tolikara/adv/jubi)

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top