Follow our news chanel

Previous
Next

Proyeksi demografi pemilih untuk referendum Kaledonia Baru

Kaledonia Pasifik Papua
Seorang pemilih di Nouméa, Kaledonia Baru. - Lowy Institute/ The Interpreter/ Theo Rouby/AFP via Getty Images

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Alexandre Dayant* 

Pada 4 Oktober mendatang,  Kaledonia Baru akan mengadakan referendum untuk menentukan nasib politiknya dari Prancis. Itu merupakan plebisit kedua dari tiga yang disetujui dalam Kesepakatan Nouméa 1998. Dengan semakin mendekatnya hari referendum, wacana mengenai demografi lokal di Kaledonia Baru dan pola dalam pemberian suara ini ingin memberikan wawasan dasar mengenai kemungkinan hasil referendum mendatang.

Pada referendum 2018, 56,7% pemilih dalam referendum memilih ‘tidak’ untuk pertanyaan “Apakah Anda ingin Kaledonia Baru mencapai kedaulatan penuh dan merdeka?”. Dengan rekor jumlah partisipasi pemilih tertinggi (81% pemilih yang terdaftar memberikan suara), perbedaan hasilnya lebih tipis dari yang diharapkan.

Sebelum referendum pertama, beberapa jajak pendapat memperkirakan suara ‘Tidak’ akan menang dengan selisih lebih dari 30 poin. Terlepas dari kemenangan kubu loyalis saat itu, sisi separatis yang terkesan menang.

Ketika menganalisis kembali penyebaran pemilih ‘Ya’/’Tidak’ di seluruh wilayah itu, terlihat jelas bahwa daerah di sebelah barat data Kaledonia Baru adalah benteng pertahanan pihak loyalis Prancis. Daerah lainnya di Kaledonia Baru dikuasai oleh pro-kemerdekaan, selaras dengan distribusi komunitas Kanak di sana.

 

Menganalisis demografis pemilih untuk memproyeksikan pemilih dalam dua referendum berikutnya 

Loading...
;

Untuk menganalisis korelasi antara hasil referendum pertama dan populasi yang mengidentifikasikan diri sebagai orang pribumi Kanak, proyeksi pertama disusun dengan data populasi demografis dari sensus kependudukan terakhir dari 2014 hingga 2018. Proyeksi itu menggunakan perubahan tahunan populasi berdasarkan komunitas antara tahun 1996 dan 2014.

Proses ini menghasilkan distribusi populasi sebagai berikut: pada tahun 2018, kelompok Kanak mewakili hampir 40% penduduk nasional, 27% adalah orang Eropa (terutama Prancis), dan hampir 9% berasal dari Wallis dan Futuna. Sisanya menyebut diri sebagai sebagai orang-orang Kaledonia (juga disebut ‘Caldoches’, sebagian besar keturunan Eropa) atau sebagai kategori ‘lainnya’ (yaitu dari daerah lainnya di Pasifik, dari Indonesia ke Tahiti, atau multi-etnis).

Baca juga: Prancis umumkan dampak hasil referendum Kaledonia Baru

Dari peta ini, kita menerapkan aturan yang berlaku untuk pendaftaran pemilih khusus yang dapat berpartisipasi dalam referendum 2018 (LESC). Setelah mengabaikan 16% dari pemilih secara umum yang tidak memenuhi syarat untuk masuk dalam daftar tersebut, 17% lainnya secara hukum belum cukup umur untuk memilih, sehingga dikeluarkan dari proyeksi demografi ini.

Dan akhirnya, analisis ini dilakukan terhadap korelasi antara hasil referendum 2018 per komune secara menyeluruh, dengan sebaran kelompok-kelompok etnis tadi di seluruh wilayah itu.

 

Hasilnya menunjukkan setiap kelompok etnis secara umum tetap mengikuti kecenderungannya

Hasilnya menarik. Di tingkat kota-kota, koefisien korelasi – hubungan statistik yang menghubungkan dua variabel – antara suara orang-orang Kanak dan suara pro-kemerdekaan adalah 96,1%. Ini berarti 96,1% orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai orang Kanak memilih untuk merdeka.

Mereka yang menyebut diri mereka sebagai orang-orang ‘Eropa’ pada umumnya memilih agar Kaledonia Baru tetap menjadi bagian dari Prancis, dengan koefisien korelasi mencapai 91,7%. Sementara itu dari kelompok orang ‘Caldoches’ dan pemilih yang diklasifikasikan oleh ISEE (Institut Statistik dan Ilmu Ekonomi Kaledonia Baru) dalam kategori ‘Komunitas lainnya dan yang tidak mengidentifikasi sebagai kelompok etnik apapun’), sebanyak 89% untuk memilih untuk tidak merdeka.

Dan akhirnya, orang-orang Wallis dan Futuna (wilayah Prancis lainnya di Pasifik yang merupakan kelompok polinesia), terus menjalankan peran mereka sebagai penyeimbang dalam politik Kaledonia Baru, 57,2% memilih untuk tetap bertahan dengan Prancis.

 

Pengaruh hasil ini pada proyeksi pemilih referendum berikutnya 

Hasil analisis kecenderungan pemilih berdasarkan kelompok etnik ini menunjukkan adanya kesenjangan yang besar dalam preferensi pemilih di Kaledonia Baru. Pertanyaan yang muncul dari sini adalah bagaimana demografi ini, dan dengan pola pemungutan suara yang dihasilkan, akan memengaruhi referendum yang akan datang di bulan Oktober, serta kemungkinan referendum ketiga pada tahun 2022?

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah evolusi populasi yang diperbolehkan untuk memilih dalam referendum.Persyaratan untuk masuk dalam Daftar Pemilihan Khusus (LESC) untuk referendum Oktober mendatang umumnya akan tetap sama dengan daftar tahun 2018.

Meski semua warga Kaledonia Baru dengan status masyarakat adat (orang Kanak) akan terdaftar secara sistematis dalam daftar LESC, orang-orang common-law (non-Kanak) harus menunjukkan bahwa mereka sudah tiba di wilayah tersebut sebelum 31 Desember 1994, dan memberikan bukti bahwa mereka telah menetap selama 20 tahun di sana tanpa jeda, atau orang-orang non-Kanak yang mengikuti konsultasi yang dilakukan pada tanggal 8 November 1998 dimana Kesepakatan Nouméa dilahirkan, atau tinggal sepuluh tahun di Kaledonia Baru hingga tanggal tersebut. Jika pemilih non-Kanak tidak memenuhi salah satu dari  persyaratan tersebut, mereka tidak bisa mendaftar untuk memilih dalam referendum.

Namun perubahan komposisi pemilih yang nyata dapat disebabkan oleh demografi penduduk yang terus berkembang. Jumlah pemilih LESC diperkirakan akan meningkat sebanyak hampir 6.000 pada referendum kedua pada tahun 2020, dan 12.000 pada tahun 2022, dengan asumsi laju kesuburan 21,4 per 1.000 orang serta memperhitungkan angka kematian. Sayangnya Institut Statistik dan Ilmu Ekonomi Kaledonia Baru (ISEE) tidak memiliki data pertumbuhan berdasarkan komunitas atau kelompok etnis.

Baca juga: Referendum Kaledonia Baru: dua menteri Prancis dan koalisi pro-kemerdekaan yang baru

Jumlah tersebut tidak menunjukkan klaster pemilih baru yang cukup besar untuk mengubah hasil referendum dengan drastis. Selisih jumlah suara pada tahun 2018 adalah 18.535, 60.199 memilih merdeka dan 78.734 memilih untuk tetap dengan Prancis. Jika pola pemilih dan kecenderungan mereka tetap stabil, dengan perubahan demografi tadi, hasil analisis yang memperkirakan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hasil referendum, baik pada tahun 2020 maupun pada tahun 2022.

Tetapi demografi bukan satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan tahun ini. Pada 2018, partisipasi pemilih dari daftar LESC adalah 81%. Ada 35.232 yang tidak memilih (mungkin disebabkan oleh mereka yang abstain di îles Loyauté, sebuah kubu Kanak) dan 2.200 surat suara kosong atau tidak sah, masih ada sekitar 18.000 suara lagi yang dapat dimanfaatkan oleh pemimpin-pemimpin pro-kemerdekaan tahun ini, dengan asumsi pola pemungutan suara sesuai dengan demografis.

Namun, meski persyaratan daftar pemilih untuk LESC tidak berubah, tahun ini pemilih berstatus common-law (non-Kanak) yang lahir di Kaledonia Baru dan telah menetap lebih dari tiga tahun tidak akan terdaftar secara otomatis dalam LESC. Ini mungkin akan memengaruhi daftar pemilih yang memenuhi syarat tahun ini dengan adanya proses tambahan bagi pemilih non-Kanak yang memenuhi syarat untuk mendaftar. Kubu pro-kemerdekaan akan diuntungkan oleh sistem ini.

Poin terakhir, penting untuk diingat diluar analisis skematik ini. Meskipun ada korelasi yang kuat pada tahun 2018, tidak semua orang yang mengidentifikasikan diri sebagai orang Kanak itu pro-kemerdekaan, dan tidak semua orang non-Kanak adalah loyalis yang memilih Prancis.

Sementara kampanye resmi dalam rangka referendum kedua sudah dimulai sebulan lalu, sejauh ini tampak jelas bahwa kedua kubu masih harus bekerja keras untuk mengonsolidasikan dukungan mereka dan meyakinkan pemilih-pemilih yang baru untuk datang dan memilih bulan depan.(The Interpreter oleh Lowy Institute) 

* Alexandre Dayant adalah seorang peneliti di Lowy Institute. 

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top