PT RML diduga tidak sosialisasi AMDAL menyeluruh kepada masyarakat

papua-sawit-amdal
Ilustrasi perkebunan sawit di Kabupaten Jayapura - Jubi. Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – PT RML, perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Kampung Boasum, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua diduga belum menyosialisasikan Analisi Dampak Lingkungan atau AMDAL secara menyeluruh kepada warga setempat.

Yunus Matteseray, dari Wahana Lingkungan Hidup atau WALHI Papua mengatakan, pihaknya telah menanyakan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua berkaitan dengan AMDAL perusahaan itu.

Menurutnya, DLH Papua menyatakan PT RML memiliki AMDAL. Akan tetapi diduga belum disosialisasikan secara menyeluruh kepada masyarakat.

WALHI Papua menduga, AMDAL tersebut hanya disosialisasikan kepada warga tertentu. Mungkin saja mereka adalah pihak yang mendukung keberadaan perusahaan tersebut.

“Hasil kajian kami di lapangan, masih banyak masyarakat mengaku belum tahu atau belum mendapat sosialisasi mengenai AMDAL,” kata Yunus Matteseray, Jumat (18/12/2020).

Katanya, PT RML mendapat izin operasi di Kampung Boasum sejak tahun 2000 silam. Akan tetapi baru mulai beroperasi sejak 2009.

Perusahaan ini mendapat Hak Guna Usaha (HGU) pemanfaatan lahan di sana seluas 29 ribu hektar lebih. Namun lahan yang dikelola hingga kini baru seluas enam ribu hektar.

Loading...
;

” Kami dari WALHI Papua terus berupaya mendorong agar AMDAL ini disosialisasikan menyeluruh kepada masyarakat,” ujarnya.

Selain itu katanya, WALHI Papua juga mendesak DLH Kabupaten Jayapura memonitoring lapangan dan menguji sampel air sungai yang diduga tercemar limbah perusahaan.

Sementara itu, Ondoafi Kampung Kaptiau, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Papua, Aser Yambai mengatakan meski PT RML beroperasi di wilayah Kabupaten Jayapura, namun warganya yang terdampak limbah perusahaan itu.

Katanya, akibat aktivitas perusahaan dua sungai di Kampung Kaptiau diduga tercemar. Belakangan ini banyak ikan dan biota di sungai itu mati.

“Padahal kedua sungai itu tempat masyarakat menggantungkan hidupnya. Mereka mencari ikan, kepiting, kerang dan lainnya di sungai,” kata Yambai.

Selain dikonsumsi sendiri, hasil tangkapan warga di sungai di sana, juga dijual untuk membiayai sekolah anak anak mereka dan memenuhi kebutuhan lain.

“Waktu perusahaan beroperasi, kami memang tidak dilibatkan karena perusahaan itu berada di Kabupaten Jayapura, sedangkan kami ada di Sarmi. Tapi kami yang merasakan dampak dari limbah perusahaan,” ucapnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top