Pulau Banaba: Tanah yang mati demi menghidupkan tanah orang lain

Pulau Rabi. - Hele Ikimotu

Papua No.1 News Portal | Jubi

 

Reportase khusus oleh Hele Christopher-Ikimotu

Saya berasal dari Banaba. Saya adalah keturunan dari nenek moyang yang berhasil menyelamatkan diri dan tanah yang dulunya kaya.

Namun, Banaba telah mati demi menghidupkan bangsa lain. Walaupun begitu, orang-orang Banaba yang bangga karena telah selamat, dan kami yakin bahwa kami adalah ras yang masih hidup.

Jika ditelusuri melalui Google, itu akan menunjukkan bahwa kampung halaman leluhur saya, yaitu Banaba, adalah bagian dari negara Kiribati.

Meskipun generasi orang Banaba saat ini memiliki darah Kiribati, pulau Banaba kami tidak pernah dilahirkan ke dunia ini sebagai bagian dari Kiribati.

Sebelum datangnya kolonialisme, kami selalu memegang teguh identitas kami sendiri.

Loading...
;

Ketika tiba Hari Kemerdekaan Kiribati pada 12 Juli 1979, momen yang dirayakan dengan meriah oleh orang I-Kiribati adalah momen yang menyakitkan bagi orang Banaba.

Ketika Kiribati memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Inggris, yang saat itu mengklaim Banaba sebagai bagian dari wilayahnya, Inggris lalu menyerahkan Banaba ke Kiribati.

Hubungan yang menyakitkan hati

Hubungan antara Banaba dan Kiribati berubah menjadi hubungan paling menyakitkan hati – yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Sejarah politik kolonial itu memang menyakitkan, tapi kami pun bergerak maju, kami tahu bahwa kami sebagai orang-orang Banaba masih bertahan hidup.

Ini adalah kisah saya, dan saya ingin sedikit berbagi dalam rangka merayakan Pekan Bahasa Kiribati atau minggu Kemerdekaan Kiribati.

Orang-orang Banaba selalu berdiri kokoh dengan akar kami sebagai orang-orang Banaba.

Dengan ini, saya tidak bermaksud untuk mengalihkan perhatian dari Pekan Bahasa Kiribati dan perayaan budayanya, tetapi saya melihat ini sebagai kesempatan untuk mendidik orang-orang tentang masyarakat Banaba karena kami dapat dengan mudah diabaikan, mudah untuk menempatkan kita di bawah kategori ‘Kiribati’.

Sayangnya, banyak yang berkata: Apa itu orang-orang Banaba? Mereka tidak punya bahasa sendiri? Ya, orang-orang Banaba juga menggunakan bahasa Kiribati; orang yang berpendidikan tahu bahwa bahasa bisa punah, terutama ketika suatu kelompok masyarakat didominasi oleh bangsa yang lain karena invasi, dominasi, dan hubungan lainnya.

Bahasa itu bukan satu-satunya tanda identitas ras.

Ketidakadilan lingkungan hidup

Sebelumnya pulau Banaba itu berlimpah dengan fosfat, dan pulau tersebut menjadi korban salah satu ketakadilan lingkungan terbesar di dunia.

Pada 1900, penemuan fosfat di Banaba oleh Albert Ellis dari Selandia Baru memicu dimulainya penambangan sistemik oleh perusahaan British Phosphate Commission (BPC).

Tidak banyak orang Selandia Baru yang tahu bahwa negaranya juga merupakan bagian dari BPC.

Tanah Selandia Baru yang tandus berubah menjadi lahan pertanian yang layak berkat fosfat yang ditambang dari pulau leluhur saya, Banaba. Saya kira kita bisa bilang bahwa tanah di Banaba mati agar Selandia Baru bisa hidup.

Bagaikan pepatah orang Māori: Ka mate kāinga tahi, ka ora kāinga rua, atau rumah pertama mati, rumah yang kedua hidup.

Selama Perang Dunia ke-2, Jepang menjajah Banaba. Periode itu adalah era yang penuh dengan penderitaan.

Orang Banaba benar-benar dibunuh tanpa ampun karena melanggar pembatasan jam malam.

Dikirim sebagai budak

Orang Banaba dikirim ke pulau-pulau yang diinvasi oleh Jepang untuk bekerja sebagai budak.

Ketika perang berakhir, orang-orang saya terus berpegang pada harapan bahwa mereka bisa kembali ke kehidupan mereka yang sebelumnya di Banaba.

Namun, pemerintah kolonial lalu mengumpulkan orang Banaba di Tarawa dan mengumumkan kepada mereka bahwa Pulau Banaba tidak bisa dihuni akibat pengeboman Jepang.

Orang Banaba dijanjikan tanah baru dengan rumah yang indah, makanan yang berlimpah, dan cuaca tropis yang indah.

Dibeli dari royalti dari sumber daya fosfat mereka sendiri, Pulau Rabi di Fiji pun menjadi rumah baru bagi mereka.

Ketika sampai pada 15 Desember 1945, mereka tidak melihat rumah-rumah, makanan, dan cuaca tropis. Mereka diberikan tenda yang dipasang di kandang sapi selama musim badai.

Pada 2018, saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi Pulau Rabi ketika saya ada di Fiji bekerja dengan proyek Bearing Witness Climate Change Project dari Pacific Media Center. Sebuah tugas yang mewajibkan pembuatan film dokumenter langsung mengingatkan saya akan Rabi, pulau darimana ibu saya berasal.

Dari Selandia Baru ke Pulau Rabi

Setelah menelepon ibu saya di Selandia Baru beberapa kali, kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk mewujudkan rencana itu. Berkat karunia Tuhan, ibu dan ayah tiri saya berhasil terbang ke Fiji untuk memulai perjalanan ini bersama saya.

Perjalanan dari Selandia Baru ke Pulau Rabi itu kurang lebih seperti ini: pesawat, mobil, bus, feri, mobil, bus, feri.

Setibanya di Pulau Rabi, paman saya, Aretanam menyambut kami.

Hidup di Rabi itu sangat santai.

Perjalanan ini sangat penting bagi saya. Ini seolah membenarkan siapa saya sebagai seorang Banaba.

Terlepas dari kekejaman yang dihadapi orang-orang saya, mereka masih memegang teguh iman mereka, mereka masih bernyanyi dan menari dan mereka masih tersenyum.

Namun saya tidak, saya masih marah.

Tiga pemerintah yang menghancurkan Banaba

Darah dan tulang belulang orang-orang saya ada di tanah di mana saya sekarang tinggal.

Selandia Baru, Australia dan Inggris harus bertanggung jawab atas peran yang mereka mainkan dalam menghancurkan Banaba dan membuat sehingga orang-orang Banaba itu seperti tidak pernah ada.

Pemerintah-pemerintah pemilih BPC hari ini perlu mengakui apa yang telah mereka lakukan, dan menjadi bagian dari solusi untuk membangun kembali Banaba dan menawarkan bantuan kepada orang Banaba di Banaba dan Rabi.

Dipimpin oleh Kiribati dan Fiji, kami adalah masyarakat kecil yang tidak dapat melakukan ini sendiri.

Komunitas Banaba di Fiji dan diaspora ke Selandia Baru ingin pulang kembali ke Banaba, tetapi kami masih jauh dari kenyataan ini. Saya berharap, suatu hari nanti, itu akan terjadi. Bahkan untuk berkunjung.

Saya adalah orang Banaba. Saya adalah buah dari komunitas yang tangguh. Saya berasal dari nenek moyang yang berhasil selamat. (Asia Pacific Report)

Hele Christopher-Ikimotu bekerja untuk LSM Pasifika, Affirming Works. Dia berkunjung ke Pulau Rabi pada 2018 dengan dukungan dari proyek Bearing Witness Project, Pacific Media Centre – Auckland University of Technology.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top