Referendum Bougainville : Ujian komitmen PNG

Rakyat Bougainville menggunakan hak mereka dalam referendum - Jubi/Victor M
Referendum Bougainville : Ujian komitmen PNG 1 i Papua
Rakyat Bougainville menggunakan hak mereka dalam referendum – Jubi/Victor M

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Margaret Kila, seorang perempuan dari Malasang, Bougainville dengan berlinang air mata mengatakan tentang betapa pentingnya referendum ini untuk dirinya setelah ia menggunakan hak suaranya dalam referendum yang diselenggarakan selama dua minggu di Bougainville sejak tanggal 23 November lalu.

“Saya menderita dengan keluarga saya. Terlihat banyak ketidakadilan yang terjadi, selama krisis. Saya berusia 65 tahun dan saya telah melihat segalanya. Dan ini membuat saya sangat senang. Terima kasih, Tuhan, ” katanya, Kamis (28/9/2019).

Rakyat Bougainville memang optimis akan menjadi sebuah negara baru. Dengan proses pemungutan suara yang sedang berlangsung, 800 tempat pemungutan suara di pusat-pusat kota dan kampung di seluruh pulau yang buka selama dua minggu untuk memastikan setiap orang memiliki cukup waktu melakukan perjalanan ke tempat pemungutan suara, mereka pantas optimis.

Hadirnya pengamat nasional dan internasional mengawasi referendum, sementara keamanan ekstra disediakan oleh misi dukungan regional yang dipimpin oleh Selandia Baru dan terdiri dari personel negara-negara Kepulauan Pasifik lainnya seperti Fiji dan Kepulauan Solomon, serta Australia, setidaknya menjamin harapan rakyat Bougainville.

Namun Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, lebih memilih untuk menjaga Papua New Guinea (PNG) bersatu dengan memberikan Bougainville otonomi yang lebih besar daripada kemerdekaan. Meskipun demikian, pada bulan September, ia berkomitmen untuk menjaga “semangat perjanjian damai” dan menyatakan keyakinannya dalam “solusi yang bisa diterapkan secara damai yang menyembuhkan titik gelap baik di Bougainville dan PNG.”

Tetapi opsi “otonomi yang lebih besar” jarang muncul dalam percakapan di Bougainville, yang telah menjadi daerah otonom sejak 2005 di bawah ketentuan perjanjian damai. Tidak jelas bagi banyak pemilih bagaimana sebenarnya otonomi yang lebih besar dalam praktik.

Loading...
;

“Orang-orang telah menanyai para pemimpin dan [Komisi Referendum Bougainville] untuk menjelaskan apa itu otonomi yang lebih besar, karena kemerdekaan itu lebih jelas,” kata Aloysius Laukai, manajer sebuah stasiun radio lokal di Buka.

Pemerintah PNG dan regional Pasifik mendefinisikan otonomi yang lebih besar sebagai bentuk otonomi yang diperluas yang akan dinegosiasikan untuk memberikan wewenang tambahan kepada Bougainville atas masalah-masalah seperti peraturan pasar tenaga kerja, bantuan dan investasi asing, dan perdagangan internasional.

“Otonomi belum disampaikan kepada kami,” lanjut Laukai.

Menurutnya, banyak orang Bougainville sudah memiliki pandangan negatif tentang status quo. Dan saat ini semua focus di Bougainville adalah pada referendum dan akibatnya. Kedua pemerintah (PNG dan Provinsi Otonom Bougainville) dan para pemimpinnya berhati-hati untuk menghadirkan front pendamaian menjelang pemungutan suara, sebab ketegangan dapat muncul jika parlemen PNG tidak meratifikasi hasil referendum yang memenangkan opsi kemerdekaan Bougainville atau mengklaim bahwa Bougainville belum mencapai kapasitas yang diperlukan sebagai sebuah negara. Pemerintah PNG tampaknya enggan melihat Bougainville itu sepenuhnya terpisah, karena khawatir hal itu dapat menyebabkan provinsi-provinsi otonom lainnya, seperti New Ireland dan New East Britain menuntut kemerdekaan mereka juga.

Kekhawatiran akan kerahasiaan proses referendum

Referendum Bougainville : Ujian komitmen PNG 2 i Papua
Petugas referendum Bougainville – Jubi/Victor M

Komisi Referendum Bugainville telah meminta para pemilih untuk tidak mengambil foto dari kertas suara mereka dan memposting di media sosial. Anggota Komisi Referendum Mauricio Claudio mengatakan praktik itu bisa mengidentifikasi pemilih dan suara mereka.

“ Keduanya merusak kerahasiaan proses referendum,” kata Mauricio, Kamis (28/11/2019).

Mauricio memahami bahwa rakyat Bougainville telah menunggu dengan sabar selama dua dekade untuk memberikan suara dalam referendum. Mereka bersemangat setelah akhirnya bisa menggunakan suara mereka melalui proses yang demokratis dan diakui secara internasional ini.

“Namun dalam praktik internasional, pemilih tidak boleh teridentifikasi. Berikut pilihan mereka pun tidak boleh diungkapkan kepada dunia melalui media sosial,” lanjut Mauricio.

Undang-undang yang berlaku juga memaksa BRC untuk tidak menghitung surat suara jika petugas referendum dapat mengidentifikasi siapa yang memberikan suara.

Mauricio mengklarifikasi bahwa memang sementara ni tidak ada undang-undang khusus yang mencakup informasi dalam surat suara yang dipublikasikan di Facebook, namun itu jelas bukan sesuatu yang mendukung proses yang kredibel.

“Komisi melakukan segala sesuatu dalam referendum mengikuti hukum dan praktik internasional yang baik,” kata Claudio.

Komisi menurutnya telah ditunjuk oleh kedua pemerintah untuk melakukan proses yang independen dan kredibel, dan ini termasuk menjaga kerahasiaan suara sehingga hasil akhir dihormati oleh semua pihak: pemilih, kedua pemerintah dan komunitas internasional.

Meski kekhawatiran ini melanda penyelenggara referendum, namun di pesisir Buka, kota utama Bougainville, jalanan tampak sepi. Rakyat di kota ini pergi ke gereja untuk meminta berkat pada proses referendum yang sedang berlangsung. Prosesi khidmat berlangsung dari gereja Katolik ke taman Bel Isi, tempat umat Katolik berlutut di depan salib mereka. Hanya ada satu subjek dalam doa mereka sejak hari Minggu lalu.

“Kami berkumpul di sini pagi ini di Taman Bel Isi untuk meminta Tuhan memberkati referendum. Semoga damai dan sukses, ” kata seorang Imam di gereja tersebut.

Bernadine Perekai dari Haku menyeberangi jembatan Buka bersama dua putranya untuk menghadiri misa.

“Di Bougainville, semua harapan kita ada di dalam Tuhan. Kami percaya dia menciptakan tanah kami dan kami, jadi hidup kami dan masa depan kami ada di tangannya,” kata Bernadine.

Ia tak peduli dengan kekhawatiran komisi referendum. Baginya wajar saja jika rakyat Bougainville mengungkapkan kegembiraan mereka dengan mengupload foto mereka saat referendum ke media sosial. Menurutnya, itu adalah expresi kegembiraan setelah sekian lama menunggu saat menggunakan hak mereka.

Ia sendiri tidak bersikap seperti orang lain yang memotret surat suara mereka, berswafoto lalu menguploadnya ke media sosial.

“Bukan saya tidak mau mengungkapkan eskpresi saya. Tapi cara saya bukan seperti itu. Saya pulang, berdoa dan berpesta dengan keluarga,” kata Bernadine.

Ia menambahkan, orang-orang yang memiliki mobil membunyikan klakson mereka di jalan-jalan sebagai ungkapan kebahagiaan mereka. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top