Referendum dinanti-nantikan penyintas konflik Bougainville

Brenda Kokiai. - ABC News/ ABC Far North/ Marian Faa
Referendum dinanti-nantikan penyintas konflik Bougainville 1 i Papua
Brenda Kokiai. – ABC News/ ABC Far North/ Marian Faa

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Buka, Jubi – Lebih dari 20 tahun berlalu sejak Brenda Kokiai selamat dari upaya pemerkosaan dan pembunuhan oleh pasukan PNG selama perang saudara Bougainville, dia akhirnya mendapatkan apa yang telah dia nanti-nantikan.

Perempuan yang tingga di Cairns, Australia itu akan bergabung dengan ribuan orang Bougainville untuk memilih apakah wilayahnya harus diberikan kemerdekaan dari PNG lebih dari dua dekade, setelah berakhirnya konflik berdarah yang memisahkan keluarganya dan membunuh hingga 20.000 jiwa.

“Setelah semua penderitaan saya, sekarang saya bisa merayakan, dan saya turut merayakannya,” katanya.

Kokiai baru berusia 14 ketika konflik dimulai di Bougainville, merampas nyawa saudara lelakinya yang berusia 25 tahun dan memaksa keluarganya meninggalkan desa mereka untuk melarikan diri, sebelum dibunuh oleh tentara yang bersekutu dengan Pasukan Pertahanan PNG. Remaja itu terpisah dari orang tuanya dan tinggal di hutan tanpa makanan atau air minum selama dua hari, hingga ia tidak punya pilihan selain menyerahkan dirinya kepada pasukan PNG.

Selama dua tahun berikutnya, Kokiai menjadi salah satu tahanan di salah satu pusat-pusat ‘perawatan’ PNG di pulau itu.

“Saya dipukul, saya di interogasi. Mereka bahkan mencoba menikahi saya, mereka mencoba memperkosa saya,” tuturnya.

Loading...
;

“Saya diberitahu bahwa karena kakak saya memberontak dengan Tentara Revolusi Bougainville (BRA), oleh karena itu saya tidak diizinkan pergi ke sekolah atau diberikan makanan. Jadi saya hanya menonton orang-orang lain saling berbagi makanan di antara mereka sendiri.”

Dia akhirnya melarikan diri berkat bantuan seorang anggota militer PNG yang mengasihani dan menyelundupkannya ke pulau tetangga, dimana ia lalu diadopsi.

Kokiai adalah satu di antara ribuan orang yang selamat dari konflik 10 tahun yang dimulai pada 1988.

Dua dekade setelah kejadian itu, rasa ketakutan akibat konflik itu masih menghantui dirinya.

“Ada saat-saat ketika saya mengingat kembali apa yang terjadi. Rasa benci dan sakit itu muncul kembali,” katanya. (ABC News)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top