Follow our news chanel

Previous
Next

Rehab ruko terbakar kerusuhan Wamena terkendala

Pembersihan pertokoan di kawasan Pasar Wouma Desember 2019 - Jubi/Islami
Rehab ruko terbakar kerusuhan Wamena terkendala 1 i Papua
Pembersihan pertokoan di kawasan Pasar Wouma Desember 2019 – Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sebanyak 395 kontraktor orang asli Papua yang dipercaya membangun dan merehab toko yang terbakar terkendala modal dan laporan kelayakan bangunan dari konsultan.

Upaya mengembalikan roda perekonomian di Kabupaten Jayawijaya pasca insiden 23 September 2019, terutama membangun kembali dan merehab lebih empat ratus toko yang terbakar, masih mengalami kendala.

Sebanyak 395 kontraktor orang asli Papua yang dipercaya membangun 403 unit pertokoan yang terbakar itu, mengaku banyak kendala yang dihadapi, dari modal hingga kepastian kelaikan bangunan yang akan diperbaiki. Kelaikan bangunan yang akan direhab terkait belum seluruhnya dikeluarkan konsultan.

Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Jayawijaya yang membawahi para kontraktor asli Papua tersebut juga masih menunggu perhitungan dari konsultan mengenai ruko mana saja yang hanya dilakukan rehab dan mana yang harus dibagun ulang.

“Sampai saat ini yang sudah dihitung oleh konsultan baru 50 unit dan itu pun produk yang dihitung belum diserahkan ke kami,” kata Fred Huby, Ketua Gapensi Jayawijaya, Rabu, 8 Januari 2020.

Menurut Fred kepercayaan yang diberikan pemerintah tersebut sudah ada yang dijalankan. Misalnya, hampir 90 persen tahap pembersihan sudah dilaksanakan dan 20-30 ruko dalam tahap pembangunan.

Loading...
;

Fred mengatakan belum jalannya perbaikan karena sebagian bangunan bekas terbakar masa jenis betonnya perlu diperhatikan kepastian ketahanannya.

“Kontraktor tidak punya kapasitas mengatakan bahwa ini harus dirobohkan atau tidak,” ujarnya.

Ia mencontohkan bangunan itu masih kuat lalu dirobohkan maka akan jadi temuan pelanggaran. Begitu juga sebaliknya jika sudah rusak tetapi dipaksa dikerjakan ketika datang gempa atau goncangan lain dikhawatirkan akan merusak pondasi yang sudah ada.

“Untuk itu kita butuh kepastian dari konsultan atau balai jalan untuk memberikan jaminan bahwa bangunan mana saja yang perlu dirobohkan atau hanya rehab biasa, tetapi sambil berjalan konsultan terus menghitung di lapangan,” katanya.

Padahal, kata Fred, batas waktu yang diberikan Kementerian PUPR untuk pengerjaan seluruh ruko hingga April 2020.

“Kemarin juga memang terkendala libur Natal dan tahun baru sehingga dua minggu lalu kami tidak terlalu fokus pada pekerjaan ruko, sehingga di awal Januari ini tukang-tukang sudah mulai masuk ke lapangan,” katanya.

Dalam pelaksanaan pekerjaan ruko, Gapensi bekerja sama dengan sejumlah toko bahan bangunan di Wamena yang bersedia membantu bahan bangunan yang diperlukan.

Pasalnya, pekerjaan yang dilakukan ini berbeda di mana penunjukkan langsung dan setelah pekerjaan selesai baru dibayarkan segala kebutuhan yang telah digunakan.

“Dalam pengerjaan 403 unit ruko ini kami membagi menjadi empat koordinator, di mana masing-masing koordinator bertanggung jawab untuk 100 unit ruko,” katanya.

Koordinator Kelompok II Anton Wetipo untuk merehabilitasi ruko di sebagian bangunan di Pasar Wouma, Jalan SD Percobaan, dan Jalan Patimura Wamena mengaku rata-rata kendala yang dialami pengusaha lokal adalah tidak punya modal.

“Tetapi sudah ada arahan dari Ketua Gapensi Jayawijaya untuk menggunakan uang pribadi dulu untuk rehab skala kecil seperti pembersihan, sambil bersama-sama konsultan turun ke lapangan yang perlu dibongkar harus dibongkar sesuai kelaikan dari konsultan, bisa atau tidaknya pembongkaran total,” katanya.

Menurutnya, kerusakan yang menjadi tanggung jawab Kelompok II rata-rata hampir 85 persen tidak laik jika hanya dilakukan rehab. Ada juga yang kondisinya kuat cukup dilakukan perbaikan atap saja, sedangkan temboknya masih bisa dipakai.

Berbeda yang ditemui kelompok I yang menangani perbaikan 100 ruko di Pasar Wouma, hampir 60 persen bangunan dinyatakan tidak laik sehingga perlu dirobohkan dan harus bangun baru. Sedangkan 40 persen hanya memerlukan rehab kerusakan ringan.

“Intinya kelompok satu sudah siap dengan tukang di lapangan, hanya terkendala tukang-tukang belum mau kerja, karena mereka minta RAP dulu lalu gambarnya, karena kalau kita ambil langsung untuk pekerjaan ini nanti di kemudian hari akan timbul masalah, seperti volume pekerjaan besar uang yang tersedia kecil, atau volume pekerjaan kecil lalu tukang minta upah besar itu akan jadi masalah juga,” kata Ayun Wuka, Koordinator Kelompok I.

Selain itu, kata Wuka, ia masih bingung soal petunjuk apakah ruko yang diperbaiki itu hanya rukonya saja yang diperbaiki ataukah sekaligus dengan dapur dan kamar mandi setiap ruko.

“Rata-rata ruko yang diperbaiki ini sekaligus dijadikan tempat tinggal oleh masyarakat, tetapi kami tetap standby hanya menunggu konsultan ada petunjuk seperti apa dengan para tukang tinggal eksekusi saja,” katanya.

Para korban kerusuhan, baik pemilik toko maupun penyewa yang berjualan berharap pengerjaan dapat segera dilakukan agar roda perekonomian kembali berputar.

“Saya cuma berharap segera bisa dikerjakan agar kami bisa memulai usaha lagi dengan membuka ruko ini,” kata seorang pedagang yang dulu membuka kios sekitar di Pasar Wouma.

Bahkan pemilik 101 pintu ruko di sekitar Pasar Wouma, Agu Hubi menyampaikan keinginannya agar perbaikan dapat secepatnya dilakukan agar pedagang yang dulu menyewa tempatnya itu kembali membuka usaha.

“Banyak yang sudah telepon pesan untuk tidak menyewakan ke orang lain, karena yang dulu sewa mau kembali buka usaha, selain itu juga sejumlah mama-mama yang jualan di Pasar Wouma masih enggan berjualan meski rehabilitasi pasar selesai dilakukan, jika pertokoan di sekitarnya belum berjalan,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top