Follow our news chanel

Rekor MURI di FBLB 2019 terancam batal

Rekor MURI di FBLB 2019 terancam batal 1 i Papua
Mama-mama di distrik Asotipo saat memperlihatkan noken yang telah dirajut sejauh ini untuk memecahkan rekor di FBLB 2019 nanti-Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Rencana pecah rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk perajutan puluhan meter Noken yang akan ditampilkan saat Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) terancam batal.

Pasalnya, ada suatu keberatan yang disampaikan para mama-mama yang diminta membuat Noken raksasa tersebut. Anggaran yang dialokasikan dinilai tidak sebanding dengan hasil yang dikerjakan.

“Kita membuat Noken ini sejak Maret 2019, lalu kami diberitahu bahwa anggaran yang dialokasikan hanya Rp100 juta untuk 20 orang yang diminta merajut noken tersebut,” kata mama Rike Asso yang ditemui di Distrik Asotipo, Sabtu (27/7/2019).

Dengan begitu kata Rike Asso, setiap orang dihargai untuk ongkos capeknya sebesar Rp5 juta. Padahal kata dia, sudah ada kesepakatan dengan semua orang yang merajut Noken bahwa mereka meminta upah Rp10 juta.

“Dari Dinas Pariwisata bilang alokasi anggaran hanya 100 juta rupiah, dan hal ini sudah disampaikan juga bahwa mama-mama semua minta tambah barang-barang 2-3 juta per orang, tetapi mereka bilang anggaran sudah disiapkan jadi tidak bisa ditambah,” kata Rike Asso.

Seorang mama lainya, Selmin Asso mengaku jika hal itu tidak mampu dipenuhi dinas, 20 mama-mama yang merajut Noken ini meminta agar hak mereka diselesaikan terlebih dahulu, barulah Noken yang berhasil dirajut sepanjang 60 meter itu akan diserahkan.

Loading...
;

“Kalau tidak ada kesepakatan, berarti Noken kita tahan. Harusnya ada kesepakatan dulu dengan semua mama-mama yang ada soal ongkos capeknya, baru anggaran dialokasikan,” katanya.

Hal ini dianggap wajar bagi para perajut noken tersebut, karena mereka diminta untuk dapat menyelesaikan pembuatan Noken raksasa secepatnya, dengan mengejar waktu.

Padahal kata Selmin Asso, pembuatan Noken raksasa ini cukup menyita waktu keseharian mereka seperti berkebun, sehingga dalam seharinya mereka terkadang hanya bisa merajut sepanjang 30-50 cm.

“Kadang kita juga buat Noken ini sampai larut malam karena waktu sudah mepet,” katanya.

Delfi Asso seorang mama lainya menuturkan, memang untuk bahan pembuatan Noken yang terbuat dari benang rajut bukan berbahan Noken asli semuanya dibiayai oleh dinas, dan mama-mama tinggal mengerjakan.”Jadi satu orang membuat Noken sepanjang 3 meter, baru nanti disambung-sambung dari 20 orang yang ditunjuk. Sekarang ini yang sudah tersambung baru sembilan orang, sisa 11 orang lagi belum,” katanya.

FBLB akan diselenggarakan pada 7-9 Agustus 2019 di Distrik Welesi, Jayawijaya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jayawijaya, Alpius Wetipo mengatakan jika pembuatan Noken raksasa yang akan ditampilkan di FBLB nanti memberdayakan mama-mama perajut Noken di dua distrik yaitu Asotipo dan Kurulu.”Untuk yang di Asotipo itu dari bahan benang rajut pabrikan, sedangkan yang di Kurulu itu dari bahan benang asli yang terbuat dari kulit kayu,” kata Alpius Wetipo.

Untuk Distrik Assotipo, kata Alpius, pembuatan Noken di Asotipo dianyam sepanjang 60 meter dan akan dilipat dua, sehingga akan menjadi 30 meter.

Sedangkan untuk di distrik Kurulu, akan merajut Noken yang sama sebesar 30 meter dan benang yang digunakan adalah benang asli dan Noken tersebut akan menggunakan tali.

H-2 Persiapan Sudah Harus Rampung

Sementara itu, Bupati Kabupaten Jayawijaya, Jhon Richard Banua meminta kepada event organizer (EO) yang menyelenggarakan FBLB tahun ini agar semua pekerjaan yang belum diselesaikan sudah rampung pada 5 Agustus 2019.

Bupati mengakui, memang masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan oleh panitia. Untuk mengejar waktu pelaksanaan FBLB yang tinggal beberapa hari lagi, pemerintah Kabupaten Jayawijaya akan berupaya untuk mengerjakan dan memperbaiki jalan utama dari Kampung Jagara hingga ke lokasi FBLB.

“Makanya semua pekerjaan yang tersisa harus dipastikan selesai 5 Agustus 2019,” kata Banua ketika melihat persiapan di lokasi FBLB di Welesi, Sabtu (27/7/2019).

Rekor MURI di FBLB 2019 terancam batal 2 i Papua
Masyarakat di distrik Welesi sedang membuat Honai di sekitar lokasi festival-Jubi/Islami

Bupati juga meminta kepada penyelenggara, agar memperhatikan lapangan yang nantinya akan dipergunakan sebagai pertunjukan bagi penampil di festival. Misalkan kondisi tanah yang penuh timbunan batu kerikil dan juga kesiapan ketersediaan listrik dan hal teknis lainnya.

“Dalam waktu dekat EO dapat memperbaikinya dan juga segera menganti timbunan yang layak dan aman bagi peserta FBLB. Ini bertujuan agar dalam pelaksanaan FBLB sejak pembukaan hingga selesai nanti, masyarakat akan menggunakan lapangan FBLB dengan aman,” katanya.

Koordinator event organizer FBLB 2019, Atika Paramita mengaku akan mengupayakan agar disisa pekerjaan yang belum selesai dapat rampung sebelum 5 Agustus 2019.

“Untuk fasilitas di lokasi FBLB, panitia hanya menambah beberapa bangunan dan memperbaiki yang rusak. Untuk lapangan yang masih berbatu, akan dikerjakan perataan guna memberikan kenyamanan kepada peserta,” kata Atika. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top