Follow our news chanel

Rencana pembangunan Koramil di Distrik Eragayam ditolak warga dan mahasiswa

Rencana pembangunan Koramil di Distrik Eragayam ditolak warga dan mahasiswa 1 i Papua
Mahasiswa Mamberamo Tengah di kota Manokwari, menolak rencana pendirian Koramil di Distrik Erageyam, kabupaten Mamberamo Tengah. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Mahasiswa kabupaten Mamberamo Tengah (Mamta) di kota studi Manokwari, menolak rencana pendirian markas Komando Rayon Militer (Koramil) milik TNI-AD di wilayah Distrik Eragayam Kabupaten Mamta.

Dewan Penasihat Organisasi Ikatan Mahasiswa Mamta, Elpinus Gombo, dalam konferensi pers di asrama mahasiswa Mamta di Manokwari, Rabu (4/3/2020) menyatakan, penolakan tersebut merupakan aspirasi masyarakat.

Alasan penolakan, kata Gombo, karena belum ada kata sepakat ataupun izin dari para tokoh masyarakat dan tokoh adat di wilayah itu atas rencana pendirian Koramil. Diapun mengaku, bahwa mahasiswa Mamta se tanah Papua, sudah berkoordinasi dengan pemerintah Distrik Erageyam agar tidak memberikan izin pendirian Koramil di wilayah itu.

“Dari Manokwari, kami juga mau suarakan untuk tolak pendirian Koramil di Distrik Erageyam. Cukup satu saja di Kobagma [Ibukota kabupaten Mamta]. Tidak boleh lagi ada di empat Distrik lainnya. Ini pernyataan sikap kami untuk Bupati,” kata Gombo.

Mewakili suara perempuan, Yustina Logo, pembina ikatan mahasiswa Mamta di Manokwari mengatakan, penolakan rencana pendirian Koramil bukan untuk menentang Pemerintah dan aparat keamanan, tapi demi kenyamanan hidup warga asli di Distrik Erageyam.

“Tidak ada Koramil juga kami bisa hidup nyaman dan damai. Justru kalau ada Koramil, masyarakat kami akan hidup dalam ketakutan,” kata Yustina.

Loading...
;

Yustina menilai, bahwa konflik Nduga dan sebagian wilayah di Pegunungan Tengah Papua yang terus bergejolak, membuat warga Mamta turut merasakan trauma. Oleh karena itu, alasan penolakan pendirian Koramil di Distrik Erageyam, kata Yustina,  dilakukan atas dasar  kemanusiaan.

“Saya sebagai perempuan asli Papua, saya juga turut merasakan penderitaan yang dialami mama dan anak-anak di Nduga dan sebagian wilayah di Pegunungan Tengah yang berusaha pertahankan hidup di hutan dan pengungsian akibat konflik,” katanya.(*)

Editor: Edho Sinaga

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top