Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Represi media di kawasan Melanesia, termasuk Papua jadi perhatian IFJ

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sebuah laporan baru, yang dirilis oleh Pacific Journalism Review pada 31 Juli, menyoroti meningkatnya kebutuhan mengatasi kebebasan media di wilayah Melanesia, khususnya di Vanuatu, Fiji, Papua Nugini, dan Papua Barat. Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) prihatin dengan represi media yang sedang berlangsung dan mendesak pemerintah di kawasan Melanesia untuk menegakkan hak jurnalis.

Pada bulan Desember 2019, Pacific Journalism Review (PJR) telah bermitra dengan Melanesia Media Freedom Forum (MMFF) dan Griffith University dalam menyatukan tanggapan luas yang dibahas pada seminar MMFF di Brisbane, Australia. IFJ berkontribusi pada diskusi ini.

Represi media di kawasan Melanesia, termasuk Papua jadi perhatian IFJ 1 i Papua

Pelanggaran yang disoroti dalam PJR termasuk kasus Dan McGarry dari Vanuatu Post yang ditolak izinnya untuk masuk kembali ke Vanuatu setelah mengikuti diskusi MMFF di Brisbane. Menurut PRJ, ini menunjukan “masa depan kebebasan pers yang bermasalah”. McGarry mengklaim bahwa Perdana Menteri Salwai telah menegurnya secara pribadi atas tuduhan liputan ‘negatif’.

Di Fiji, jurnal tersebut menemukan bahwa warisan kediktatoran militer terus membatasi kebebasan media di bawah Perdana Menteri Voreqe Bainimarama. Ditemukan adanya budaya swasensor di Fiji karena Keputusan Pengembangan Industri Media 2010 yang membentuk Otoritas Pengembangan Industri Media yang dikendalikan negara.

Jurnal tersebut juga mengungkapkan bahwa pemilihan Perdana Menteri James Marape di Papua Nugini tahun 2019 belum menjamin kebebasan media meskipun pers negara-negara tersebut dicabut dari “cengkeraman diktator” mantan Perdana Menteri Peter O’Neill. Jurnalis di Papua Nugini masih “kekurangan agen nyata dalam melaporkan ke komunitas lokal”. Pemerintah juga berusaha untuk menghalangi aktivitas jurnalis senior Scott Waide karena menyiarkan berita kritis terhadap pemerintah pada tahun 2018, dan berhasil memecat Neville Choi, seorang jurnalis EMTV karena alasan ‘ketidakpatuhan’.

Status kebebasan media di Papua yang diduduki Indonesia menjadi perhatian utama karena kebebasan berekspresi dan pers terus memburuk. Hampir semua media asing telah dilarang memasuki negara dan jurnalis lokal berjalan di “garis tipis antara kepatuhan dan kebebasan pers”, seperti yang dikatakan editor Jubi Victor Mambor di jurnal tersebut.

Loading...
;

“Di seluruh Melanesia, wartawan mendapati diri mereka berada di bawah tekanan terutama karena pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah mereka sendiri. IFJ menekankan pentingnya media yang bebas dan independen, untuk pelaporan yang adil, seimbang, dan berkualitas serta menyerukan kepada pemerintah di daerah untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan pers,” kata IFJ. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top