Resor jaga kawasan Siklop

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua membangun resort di lima wilayah adat di Kabupaten Jayapura untuk melindungi kawasan cagar alam Siklop.

Pemerhati lingkungan Marshall Suebu memberi apresiasi kepada BBKSDA Provinsi Papua, yang telah berupaya memfasilitasi pembangun resor di wilayah cagar alam Siklop.

Suebu berpendapat pembangunan resor ini memang merupakan tugas BKSDA Papua. Seharusnya, kata dia, resor sudah dibangun sejak awal mengingat kawasan cagar alam Siklop sudah ditetapkan sejak 30-an tahun lalu.

Pegunungan Siklop ditunjuk sebagai cagar alam berdasarkan surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 56/Kpts/Um/1/1978 tanggal 26 Januari 1978 dan ditetapkan berdasarkan SK Menhut Nomor 365/Kpts-II/1987 tanggal 18 November 1987 dengan luas 22.500 hektare.

“Yang kita mau lihat seberapa efektif ketika resor dibuat,” kata Suebu kepada Jubi di Jayapura, Selasa, 4 September 2018.

Menurut dia, seharusnya pembangunan resor dilakukan sejak awal ditetapkan pegunungan Siklop sebagai cagar alam.

Loading...
;

“Sebenarnya sudah dari awal sudah dibuat resor itu,” lanjutnya.

Maka dari itu, pihaknya memberi penghargaan kepada siapa pun yang berupaya menjaga kawasan Siklop, termasuk pembangunan resor oleh BBKSDA.

“Artinya mereka kembali untuk memperkuat tugas-tugas itu. Kenapa tidak dari dulu?,” kata Ketua Forum Pemuda Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda.

Perlindungan kawasan cagar alam Siklop dianggap penting mengingat hingga tahun 2018 sekitar 1.000 hektare kawasan ini rusak akibat ulah manusia.

BBKSDA Papua dikabarkan memfasilitasi pembuatan resor di lima dewan adat suku (DAS) di Kabupaten Jayapura. Lima resor itu adalah resor Ravainirara, Resor Yongsu, Resor Moi, Resor Tablasupa, Resor Port Numbay, dan Resor Teluk Youtefa.

Meski demikian, menurut Suebu, masyarakat setempat harus diberdayakan dengan menjadi polisi kehutanan. Mereka juga harus ditunjuk dan direkomendasikan tokoh-tokoh adat semisal ondoafi (tetua adat).

Resor merupakan suatu cara pengelolaan sumber daya alam yang sangat luas, dengan membaginya ke dalam wilayah yang lebih sempit untuk mendapatkan data yang lebih detail, akurat, dan faktual.

BBKSDA melalui Resort Based Management (RBM) diharapkan dapat menyelesaikan segala persoalan kawasan tersebut. Berbagai inovasi dapat dikembangkan dengan tepat.

“Fungsi resor adalah untuk memetakan tipologi pada bagian-bagian kawasan. Selain memetakan potensi, kerja resor juga harus memetakan kelemahan pada masing-masing resor, sehingga mendapatkan gambaran menyeluruh. Dengan data-data itu nanti setiap resor dapat mengelola kawasannya beserta masyarakatnya dengan baik,” kata Kepala BKKSDA Papua, Timbul Batubara, Selasa, 4 September 2018.

Resor-resor di cagar alam Siklop dibentuk berdasarkan SK Kepala Balai Besar KSDA Papua, bernomor SK.01/K.4/TU/PEG/1/2018, tentang penetapan kepala resort KSDA lingkup Balai Besar KSDA Papua.

Setiap resor dipimpin kepala resor yang didukung MMP dalam tugas-tugas di lapangan. Program yang telah berjalan baik adalah patroli terrestrial dan patroli kebakaran hutan dengan menggunakan SMART Patrol.

Selain itu, ada program desa binaan di Kampung Tablasupa dan pembangunan ekowisata, termasuk pembangunan site monitoring cenderawasih di Resor Tepera.    

Tahun 2018, semenjak penerapan RBM menggunakan SMART Patrol di kawasan Siklop, tipologi kawasan semakin dapat dibaca secara detail. Misalnya, kawasan cagar alam Pegunungan Siklop dapat dipetakan seberapa luas yang dirambah, perambahan terjadi di titik koordinat berapa, potensi keanekaragaman hayati yang khas.

Dalam beberapa pelaksanaan patroli terrestrial, tim resort bersama MMP telah banyak mencatat hal-hal penting mengenai kawasan. Banyak tipologi dan fitur-fitur alami ditemukan.

Awal September ditemukan gua stalaktit di wilayah Kampung Ormu, Distrik Ravenirara. Gua ini menurut masyarakat adat setempat bernama Gua Ibrani, yang memiliki keterikatan adat Suku Nari dari Ormu. Selain itu, sejumlah gua di Resort Moy, salah satunya adalah Gua Dmudewari.

Berbagai jenis anggrek juga telah diidentifikasi, selanjutnya ditangkar masyarakat di Resor Moy. Sejumlah danau di atas ketinggian Siklop juga telah dicatat titik koordinatnya.

Fasilitasi pembuatan resor dilakukan dengan menunjuk orang sebagai staf pembantunya. BBKSDA juga mendorong masyarakat mitra polisi kehutanan (polhut). Misalnya setiap patroli yang dilakukan dibayar, dibuatkan sistem dan skema patroli yang efektif.

Setiap tipologi resor harus diketahui. Jika ada gua berarti masyarakat harus bijak mengelola itu, karena cagar alam tidak boleh dibangun tempat rekreasi.

“Pembangunan resor baru direalisasikan sejak awal 2018. Resor dibangun untuk mendukung Siklop role model pengelolaan kawasan konservasi berbasis kearifan lokal (local wisdom),” kata Batubara.

Menurut dia, polhutnya dari BKKSDA dan bersama dengan masyarakat mitra polhut (MMP), yang berasal dari masyarakat setempat.

Ketua Forum Pemuda Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda, mengatakan, jika tujuannya untuk menjaga Siklop pihaknya mendukung resor di lima wilayah adat tersebut. Alasannya adalah Siklop masuk dalam kawasan cagar alam yang memang harus dijaga.

Menurut Wanda, banyak keanekaragaman hayati di Siklop. Sumber air bersihnya menghidupi masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura. 

“FPPNG sebelumnya berharap sama yakni ada pos yg dibangun di kawasan penyangga dengan tujuan menjaga. Pasalnya selama ini tak sedikit orang naik dan mendatangi sumber air yang seharusnya tidak semudah itu,” katanya.

Wanda mengatakan debit air di Sentani sebulan terakhir sebanyak 60 persen karena hilangnya fungsi akar (pohon) akibat kawasan yang terus dibuka.

Di Kota Jayapura, Pemerintah Kota Jayapura pernah membuat terobosan menarik untuk melindungi kawasan ini. Wali Kota Benhur Tomi Mano ketika itu mengumpulkan para pemilik ulayat dan ondoafi di sekitar cagar alam dan menanamkan komitmen ikut menjaga Siklop. Namun, terobosan itu tidak berlanjut.

Oleh karena itu, FPPNG mengharapkan agar pos atau resor yang dibangun BBKSDA Papua nanti diisi oleh mitra polhut atau masyarakat binaan BBKSDA yang tinggal di sekitar lokasi cagar alam.

“Jangan justru terbiar kosong. Kesadaran menjaga Siklop harus tumbuh bagi masyarakat yang tinggal di sekitar penyangga,” ujarnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top