Revisi dua pasal Otsus, peneliti sospol nilai semakin memperkuat nasionalisme rakyat Papua

Rakyat Papua di Kabupaten Dogiyai membentangkan sebuah pamflet penolakan DOB dan penolakan Otsus. - Jubi/Abeth You

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Peneliti Sosial dan Politik (Sospol) Papua, Marius Goo, menegaskan di era Otonomi Khusus (Otsus) banyak terjadi kekerasan terhadap kemanusiaan di Papua. Sebagaimana oleh Tim Kerja Hak Asasi Manusia (HAM) Majelis Rakyat Papua (MRP) merumuskan bahwa di era Otsus konflik bersenjata makin meningkat dan mengorbankan banyak orang, baik pihak Indonesia maupun pihak Papua, misalnya konflik di Paniai, Deiyai, Nduga, Puncak, dan Intan Jaya akhir-akhir ini.

Alumnus STFT Fajar Timur Abepura ini menegaskan, Otsus benar-benar belum mampu menjamin kedamaian dan keamanan hidup bagi rakyat Papua, sebab banyak orang Papua yang menjadi korban di era Otsus.

“Artinya, revisi Undang-Undang Otsus ini tak akan pernah mempengaruhi atau tak berpengaruh terhadap nasionalisme rakyat Papua untuk merdeka. Bahwa, revisi dua pasal dalam Undang-Undang Otsus makin menyuburkan atau menguatkan kemerdekaan Papua,” ungkap Marius Goo kepada Jubi, Senin (28/6/2021).

Menurut dia, UU Otsus terlihat rapi, tersistematis, dan terstruktur tentang perlindungan atas hak-hak rakyat Papua tentang pendidikan, ekonomi, keamanan, kesehatan, lingkungan alam, dan lainnya. “Kenyataan ini, rakyat Papua selalu mengatakan di Jakarta tulis lain, di Papua buat lain. Karena itu, revisi ini, rakyat Papua akan mengatakan lebih baik merdeka saja. Nada-nada inilah yang disampaikan dari mulut rakyat Papua. Indonesia dalam banyak kesempatan telah menipu rakyat Papua,” tegasnya.

Goo menegaskan dari bukti-bukti penipuan, kebohongan, dan kegagalan Otsus yang dialami, dirasakan, dan dinilai rakyat Papua, maka rakyat tetap menolak Otsus dilanjutkan. “Sebab Otsus adalah tawar menawar dari Papua Merdeka. Karena Otsus gagal, maka yang ada hanya Papua Merdeka,” ujarnya.

Peneliti Sospol Papua lainnya yang juga alumnus Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM Yogyakarta, Oktovianus Marko Pekei, mengatakan secara ekonomi rakyat Papua menjadi makin miskin di tanah sendiri. Rakyat Papua hidup melarat dan menderita daripada daerah lain di Indonesia.

Menurut Pekei, Jakarta melihat Otsus hanya dari segi uang dan disampaikan bahwa uang yang dikirim ke Papua triliunan, namun siapa yang merasakan uang itu, hingga kini tidak jelas. “Yang jelas bahwa OAP hingga kini masih termiskin di Indonesia,” ujarnya.

Loading...
;

Ia juga mengatakan, OAP tidak ada masa depan dalam Negara Indonesia. “Bersama Otsus hanyalah penipuan dan pembohongan untuk menghabiskan manusia Papua yang tersisa.” (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top