Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Ruben Sanadi, dari kapten Persebaya jadi “el capitano” Bhayangkara FC

Ruben Sanadi Papua
Ruben Sanadi, "el capitano" Bhayangkara FC bersama keluarganya. - Instagram/ruben_k.sanadi14
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Mungkin ini menjadi prestasi tersendiri bagi mantan wing bek kiri Persipura Ruben Karel Sanadi. Selama masih mengawaki tim Mutiara Hitam, Sanadi tak pernah memakai ban kapten. Jangan kapten, wakil kapten pun tidak, karena Persipura memilih Boaz T Solossa sebagai “el capitano”, dan Ian Luis Kabes sebagai wakil kapten.

Ruben Sanadi yang kelahiran Biak Numfor, Papua, pada 8 Januari 1987 memperkuat Persipura sejak 2012 sampai 2017. Saat itu, posisi wing bek kiri masih dipegang Ortisan Solossa, dan Sanadi segan mengisi posisi itu.

Tetapi pelatih Persipura Jacksen F Tiago mengaku sangat yakin akan kemampuan Sanadi untuk menggantikan abang kandung Boaz T Solossa itu. Benar saja, pada tahun kedua bersama Persipura, Sanadi masuk dalam line up utama tim berjuluk Mutiara Hitam.Selama lima tahun bersama Persipura, Ruben Sanadi sudah mencetak tiga gol.

Ruben Sanadi, dari kapten Persebaya jadi "el capitano" Bhayangkara FC 1 i Papua

Baca juga: Saat Mutiara Hitam kalah WO di final Copa Indonesia 2009

Tahun 2017 ia meninggalkan Papua dan bergabung dengan Persebaya Surabaya, bermain untuk tim Bajul Ijo itu selama dua tahun. Saat itulah pelatih Persebaya, Djajang Nurdjaman menunjuknya menjadi kapten Persebaya.

Djajang Nurdjaman percaya dengan pengalaman si anak ketiga dari lima bersaudara itu. Apalagi Djajang telah mengenal Ruben Sanadi saat masih menukangi tim Pelita Jaya pada 2010-2012.

Selama menjadi kapten Persebaya, Ruben Sanadi mengemas dua gol dalam 58 kali penampilannya. Pelatih Persebaya Aji Santoso juga memuji pemain bernomor punggung 14 itu, karena piawai bermain dan selalu memberi assist bagi para striker di depan gawang.

Loading...
;

Pada 2020, Ruben Sanadi meninggalkan Bajul Ijo, dan bergabung Bhayangkara FC. Sanadi berpindah ke the Guardian, julukan Bhayangkara FC, karena faktor keluarga. Ia tak mau lagi tinggal jauh dari keluarganya yang bermukim di Bekasi. Apalagi Bhayangkara FC bermarkas di Lapangan PTIK. Kini Sanadi bisa dekat dengan Natasha Sarah Rohman, beserta kedua anak mereka.

Paul Munster, sang pelatih the Guardian, juga memilih Sanadi menjadi “el capitano” Bhayangkara FC. Alasan Munster, anak ketiga dari Yoel Sanadi – Setrina Sanadi yang merupakan pasangan guru di Manokwari, Papua Barat, itu memiliki jiwa kepemimpinan tinggi, dan berpengalaman memimpin timnya bermain.

Baca juga: Ketua Puslatprov baru tinjau wisma atlet Papua

Muster menyebut Sanadi sangat bagus dalam berkomunikasi dengan pemain, baik di dalam maupun di luar lapangan. Munster juga menyebut Sanadi punya mental bertanding yang bagus.

Selama masa “libur” kompetisi Liga 1 yang terhenti gara-gara pandemic Covid-19, bek kiri Bhayangkara FC itu tetap rajin berlatih ditemani istrinya, Natasha. Natasha memang seorang mantan atlet lari gawang dari PASI Jakarta, dan telah mengenal Sanadi sejak keduanya bersama-sama bersekolah di SMA Ragunan, sebuah sekolah khusus untuk atlet di Jakarta.

Sanadi pun tetap bugar, menunjukkan kematangan serta kedisiplinan yang membuatnya layak mengemban ban “el capitano” the Guardian. Kini ia tengah menanti kembali bertanding dalam kompetisi Liga 1 2020 yang rencananya akan bergulir lagi pada September atau Oktober nanti.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top