Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Rumah Studi Duta Damai hadir di tanah Tabi

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Keuskupan Agung Merauke (KAME), Provinsi Papua, Rabu (29/8/2018) menggelar acara pemberkatan dan peresmian Rumah Studi Duta Damai St. Nicholaus di Padang Bulan, Kota Jayapura. 

Acara yang diawali dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti oleh Uskup KAME, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC dan Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, disaksikan Plt. Sekda Kota Jayapura, Frans Pekey, Uskup Jayapura, Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Rumah Studi drg. Aloysius Giyai, para donatur dari Jakarta dan sejumlah tokoh awam Katolik di Papua.

Ratusan undangan hadir dalam acara ini yang diisi dengan perayaan ekaristi dipimpin Uskup Nicholaus didampingi Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Agats Mgr. Aloysius Suwatan, dan sejumlah imam konselebran.

Uskup Nicholaus dalam sambutan singkatnya mengatakan sekalipun pembangunan sebagian belum rampung, ia berterima kasih kepada semua pihak, terutama para donatur dan panitia pembangunan dan peresmian yang sudah bekerja keras menyukseskan acara peresmian Rumah Studi ini. 

"Dengan dibangunnya Rumah Studi Duta Damai ini, saya berharap benih panggilan imam di seluruh keuskupan di Tanah Papua, khususnya bagi Keuskupan Agung Merauke terus berkembang subur guna pelayanan kepada sesama agar mereka mengalami Kasih Tuhan," kata Uskup Nicholaus.

Walikota Jayapura Benhur Tomi Mano mengatakan, dengan dibangunnya sarana ini menambah satu sejarah baru yang ditorehkan oleh umat Katolik di Kota Jayapura di bidang pendidikan dan keagamaan. Ia juga mengapresiasi Keuskupan di Papua yang telah membangun  RS Dian Harapan dan RS Provita. 

Loading...
;

Menurut Wali Kota, pembangunan aspek pendidikan dan keagamaan lewat Rumah Studi Duta Damai ini sejalah dengan moto pembangunan Kota Jayapura yang telah dirintisnya yaitu Hen Tecahi Yo Onomi T'mar Ni Hanased atau Satu Hati Membangun Kota Untuk Kemuliaan Tuhan.

"Rumah ini istana kita bersama, honai kita bersama. Sebab siapapun yang datang ke sini, dari etnis atau agama apapun, dia adalah orang Port Numbay. Karena dia minum air dari Port Numbay dan mengabdi bagi orang Port Numbay. Rumah ini adalah juga rumah doa dan tentu akan membawa berkat bagi Tanah Papua. Pada kesempatan ini, saya juga berterima kasih kepada Ondofolo Hedam Ayapo yang memberikan tanah ini bagi Keuskupan," kata Wali Kota Mano.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Rumah Studi Aloysius Giyai menjelaskan, saat ini sembilan puluh persen bangunan sudah rampung dan dapat digunakan. Setiap ruangan pada Rumah Studi ini diberi nama Santo dan Santa Pelindung sebagai penghormatan seturut tradisi Gereja Katolik.

“Karena itu, pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya menyapa para donatur yang jauh-jauh datang dari Jakarta demi menghadiri acara peresmian hari ini. Mereka luar biasa dan bersemangat sebab Gereja Katolik adalah universal, semua kita peduli terhadap Gereja di mana semua jasa kita pasti dihitung oleh Tuhan yang empunya kehidupan ini," kata Giyai.

Menurut Giyai, pembinaan misionaris berpola asrama, sudah banyak menghasilkan orang-orang hebat melalui peran serta mereka di tengah-tengah masyarakat. Ia mengakui telah banyak alumni yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan, sosial ekonomi, dan politik bagi masyarakat yang ada di Papua dan bagi dunia.

“Karena itu, kami awam Katolik saat ini harus bekerja keras mendukung panggilan bagi para calon pastor. Sebab di zaman now, tantangan semakin sulit dan kompleks. Benih panggilan makin berkurang. Ini fakta yang menjadi keprihatinan bersama,” ujarnya.

Giyai juga mengapresiasi kinerja panitia pemberkatan dan persemian Rumah Studi St. Nicholaus yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini. Terdapat 18 orang panitia, terdiri dari orang muda Katolik, Protestan dan Islam, yang dilengkapi dengan pastor dan suster. Panitia melakukan rapat sebanyak empat kali dan langsung bekerja di lapangan bersama Uskup Keuskupan Agung Merauke dan para pastor dan suster.

“Dunia adalah sebuah buku, mereka yang tidak melakukan perjalanan hanya membaca sebuah halaman. Mari kita terus membaca tanda-tanda zaman dengan terus mendekatkan diri pada Tuhan serta terus mendoakan perjalanan panggilan calon-calon Imam dan juga para gembala agar tetap setia pada panggilanNya hingga Tuhan kembali memeluk mereka di pangkuanNya,” katanya.

Sementara itu Ondofolo Hedam Ayapo, Enos Deda selaku pemilik hak ulayat mengharapkan agar dengan dibangunnya Rumah Studi Duta Damai ini, para calon pastor Keuskupan Agung Merauke akan menjadi duta perdamaian dan pewarta kebenaran bagi umat di Tanah Papua.

"Kami selaku ondofolo sudah serahkan tanah ini bagi pembangunan Rumah Studi ini. Kami yakin rumah ini akan membawa berkat bagi banyak orang. Semua proses sudah diselesaikan jadi sepenuhnya menjadi hak Keuskupan," kata.

 

Latar belakang pembangunan

Keuskupan Agung Merauke (KAME) merupakan metropolit Provinsi Gerejani dalam kesatuan dengan empat keuskupan sufragan di Papua, yaitu Keuskupan Agats, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong dan Keuskupan Timika. Awalnya keuskupan ini didirikan sebagai Vikariat Apostolik Merauke pada 24 Juni 1950, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Amboina. 

Seiring pertumbuhan umat dan mempertimbangkan wilayah pelayanan misi, vikariat ini kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Merauke pada 15 November 1966.

Tercatat, sejumlah Uskup yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Gereja Lokal Katolik di Merauke ini yakni Mgr. Herman Tillemans, MSC (15 November 1966-26 Juni 1972, wafat  tahun 1974), Mgr. Jacobus Duivenvoorde, MSC (26 Juni 1972-7 April 2004, wafat  tahun 2009) dan Mgr. Nicolaus Adi Seputra, MSC ( 25 Juli 2004-sekarang).

Keuskupan Agung Merauke (KAME) memiliki daerah pelayanan pastoral yang sangat luas dan tidak gampang untuk dilalui. Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam pelayanan bagi umat Katolik di sana. Oleh karena itu, dibutuhkan gembala-gembala yang tangguh yang dapat memupuk iman Katolik para umat, terutama orang kesil, kaum anawim, yang terpencil dan terpinggirkan. 

Sebagaimana tradisi Gereja Katolik sejagat, para pastor yang dipanggil mengabdi sebagai gembala umat Katolik dibentuk dalam panti pendidikan khusus yakni seminari. Demikian pun halnya di Keuskupan Agung Merauke (KAME). Setiap tahun, selalu saja ada orang muda Katolik yang terpanggil untuk menjalani proses pendidikan menjadi calon imam Katolik  (pastor) atau dikenal dengan frater.

Menurut Uskup KAME, Mgr. Nicolaus Adi Seputra, MSC, saat ini, keuskupan yang dipimpinnya mempuyai 20 calon imam projo. Mereka tengah  menjalani studi di STFT Fajar Timur Abepura-Jayapura. Inilah jumlah yang amat menggembirakan. Jumlah statistik panggilan ini terbilang tinggi di Papua ketika kita membandingkan jumlah frater calon imam projo yang sedang studi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur-Abepura dari 5 keuskupan di Tanah Papua berjumlah 150 orang.

Sementara itu, para frater dari Biara Ordo Santo Agustinus (OSA) berjumlah 30 orang dan Frater Ordo Fratrum Minorium (OFM) sebanyak 25 orang. Jadi total frater yang studi kurang lebih 200 orang. 

“Karena itu, kami berusaha untuk membangun rumah studi Duta Damai St. Nicholaus dengan dibantu para donatur dari Jakarta dan berbagai donatur baik dari Tanah Papua maupun daerah lainnya, bagi para calon imam Seminari Tinggi Interdiosesan “Yerusalem Baru”  yang berjumlah mencapai 40 orang. Di tempat itu para calon gembala umat dipersiapkan sehingga di kemudian hari cukuplah jumlah pelayan bagi umat katolik di Keuskupan Agung Merauke,” kata Uskup. 

Selain membangun Rumah Studi, Uskup Nicholaus juga bertekad akan memberikan bantuan imam ke keuskupan-keuskupan daerah-daerah lain yang membutuhkan bantuan, bila jumlah pastor di KAME sudah mencapai 50 orang. Mereka yang dibina di  seminari itu, tidak semuanya menjadi pastor.

Mereka yang tidak menjadi pastor, kata Uskup, de facto telah sangat membantu pembangunan SDM di tanah Papua, dan kemajuan di daerah ini pada khususnya, dan diharapkan akan memberikan sumbangan besar bagi bangsa Indonesia atau bahkan bagi dunia. 

“Rumah Studi terpisah dari kompleks Seminari Tinggi Yerusalem Baru, tetapi bukan untuk menyendiri dan memisahkan diri tetapi ini tetap satu berbadan utuh, dari seminari sehingga namanya tetap Seminari Tinggi Yerusalem Baru. Ini penting rohnya  bahwa semua sebagai satu kesatuan tempat pembinaan calon imam. Meskipun unitnya berbeda jauh,” tegas Uskup Nicholaus.

Rumah Studi St. Nicholaus berdiri di atas tanah seluas 3,2 hektar. Letaknya di Jalan Sosial Padang Bulan, Kelurahan Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura. Dalam waktu yang terbilang singkat, Keuskupan Merauke telah dengan cepat dan sukses mendirikan sejumlah bangunan utama, terdiri dari puluhan kamar tidur bagi para calon pastor dan pastor pembinanya, 1 kapel, 1 ruang makan, 1 aula, dan beberapa bangunan penunjang lainnya. Berada tepat di tepi kali, komplek ini memiliki beberapa sumber mata air. 

Namun siapa sangka, di atas hamparan tanah nan elok kini, proses untuk mendapatkan tanah ini memiliki kisah perjuangan nan sulit? Pastor Nico Jumari Joko Lelono, Pr, salah seorang Imam Keuskupan Agung Merauke mengisahkan, banyak kendala yang dihadapi pada saat berurusan dengan tanah untuk pembangunan Rumah Studi karena banyak kelompok yang mengaku memiliki tanah tersebut sejak tahun 2010 hingga selesai pada Tahun 2017. 

Ancaman-ancaman pun silih berganti menghampiri, hampir setiap malam datang silih berganti orang yang berbeda di STFT Fajar Timur Abepura. Bahkan, Pastor Nico pernah dikeroyok sejumlah pengusaha yang dahulu pernah membeli tanah ini di Polsek Jayapura Selatan di Entrop dari Pkl 07.00 hingga Pkl 19.00 WP. Tidak ada kesepakatan waktu itu. Pastor Nico disudutkan.

“Pernah saya di bawa ke Polda Papua oleh Kepala suku, Kepala Adat yang menyatakan pemilik tanah ini dan saya hanya seorang diri. Tidak ada yang membela, tidak ada yang bersama saya. Saya bersyukur karena Kepala Dinas Kesehatan Papua, Pak Aloysius Giyai selalu membantu, ketika ada masalah apapun pasti saya lapor ke beliau,” tutur Pastor Nico.

Menurut Pastor Nico, pihak Keuskupan Agung Merauke senantiasa mengapresiasi dan menghargai para kepala suku dan unsur adat yang telah melepas tanah dan membantu proses pembangunan sarana pembinaan calon pastor ini. Sekalipun berulang kali mendapat ancaman, Pastor Nico menegaskan dirinya sama sekali tak mendendam, apalagi membalas dengan kekerasan melainkan dengan KASIH. 

“Saya bekerja bukan untuk cari untung buat diri saya sendiri tetapi saya menjalankan amanah dari Allah. Sekiranya ketika suatu hari nanti saya meninggalkan Tanah Papua, sebutir tanah pun saya tidak bawa. Inti dari semua ini adalah DAMAI, Damai nanti, damai sekarang dan antara Allah, Alam dan aku damai semuanya, seluruh masyarakat yang berada di sekitar ini juga memperoleh kedamaian. Meskipun kami diserang, dibenci, namun kami tetap mencintai mereka dan  saya tetap mendoakan mereka supaya mereka selamat,” tutur Pastor Nico. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top